Krisan termasuk famili Asteraceae yang merupakan tanaman perdu, semusim ataupun tahunan. Tanaman hias krisan merupakan bunga potong yang mempunyai nilai jual tinggi, banyak diminati pasar karena potensial yang berdaya saing tinggi dan berprospek cerah. Saat ini krisan termasuk bunga yang paling populer dan diminati di Indonesia karena memiliki keunggulan antara lain kaya warna dan dapat bertahan lama, tak lebih dari 70 varietas. Jumlah varietas krisan memang banyak tetapi yang ditanaman petani indonesia tidak lebih dari 40 varietas Peluang mengembangkan budidaya krisan potong untuk memenuhi kebutuhan pasar baik dalam maupun luar negeri akan tetap terbuka luas seiring permintaan bunga potong krisan yang semakin meningkat. Apabila ingin mengembangkan budidaya bunga potong khususnya krisan ada baiknya untuk memahami betul tentang pengenalan tanaman krisan ini karena pemeliharaannya yang tergolong gampang-gampang susah adapun yang harus diperhatikan diantaranya adalah: Syarat tumuh terlebih dahulu yaitu krisan dapat tumbuh baik pada ketinggian tempat 700 – 1200 m dpl, suhu udara untuk pertumbuhan disiang hari : 20-28 oC dan dimalam hari : 15-20 oC, kelembaban udara selama pertumbuhan awal tanaman 90 -95 %, dan setelah tanam, tingkat keasaman tanah pH 6,2 – 6,7.Tanaman krisan membutuhkan air yang sangat memadai, akan tetapi tidak tahan terhadap terpaan air hujan. Oleh karena itu untuk daerah yang curah hujannya tinggi seperti di Cianjur, Bogor, Sukabumi, Lembang dan beberapa wilayah indonesia lainya, penanaman dilakukan di dalam bangunan rumah plastik. Tanaman krisan akan cepat berbungan dan tidak dikehendaki oleh para produsen, karena tanaman tidak menghasilkan bunga potong sesuai mutu yang diharapkan. Oleh sebab itu pemberian cahaya buatan pada malam hari dalam budidaya krisan potong menjadi keharusan yang tidak dapat ditinggalkan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian cahaya buatan pada malam hari yang optimum dalam budidaya krisan potong di daerah tropis adalah 4 jam, sehingga jumlah total penyinaran dalam satu hari yaitu 16 jam. Untuk mendapatkan hasil yang paling baik, maka direkomendasikan kepada para produsen agar memberikan penambahan cahaya buatan mulai pukul 22.00 sampai 02.00 dini hari dengan intensitas cahaya 70 lux (setara dengan 100 Watt lampu pijar) pada permukaan tanaman selama 3 – 4 minggu setelah tanam. Penggunaan cahaya tambahan dengan persyaratan tersebut di atas perlu dirancang sebelum diterapkan di lapangan. Perancangan penyinaran mencakup kegiatan anytara lain;a) penetapan dan verifikasi luas lahan, tipologi lahan dan bentuk lahan, b) pembuatan skema gambar rancangan instalasi listrik sesuai spesifikasi lahan dan skema gambar koneksi antara instalasi listrik di lahan produksi dengan sumber listrik dan panel pengendali distribusi listrik, c) penetapan jarak antar lampu dan tinggi lampu di lahan produksi, d) penetapan jumlah jenis dan jumlah bahan yang diperlukan. cara bagaimana proses perancangan instalasi penyinaran dalam budidaya krisan potong sebagai berikut : a) Pendataan situasi lahan produksi Luas, bentuk dan tipologi lahan produksi di data dan digambar sesuai kondisi yang sebenarnya di lapangan. Pendataan dilakukan dengan mengunjungi lahan produksi dengan membawa peralatan yang diperlukan, di antaranya alat ukur (meteran dan alat tulis); b)Pembuatan skema/gambar rancangan instalasi penyinaran Berdasarkan data situasi lahan produksi, selanjutnya dibuat skema/gambar instalasi listrik secara detail yang menguraikan tentang koneksi sumber listrik dengan lapangan, distribusi aliran listrik lapangan, tata letak titik lampu (jarak antar lampu), koneksi panel pengendali aliran listrik dan penempatan digital timer. Pembuatan rancangan skema/gambar instalasi penyinaran harus memperhatikan beberapa aspek di antaranya (a) efisiensi biaya, (b) kesederhanaan rangkaian instalasi, (c) kemudahan perbaikan bila terjadi gangguan di lapangan, (d) tenaga kerja yang dibutuhkan untuk pembuatan instalasi dan (e) lama waktu pembuatan instalasi. Selama periode penyinaran dianjurkan untuk menerapkan siklik (pengaturan digital timer ) dalam rangka mengurangi penggunaan energi listrik sehingga menekan biaya produksi.Siklik yang paling efisien tanpa mengurangi kualitas hasil tanaman adalah 7.5 menit terang – 22.5 menit gelap dalam 8 kali periode siklik. Dengan menerapkan pola siklik tersebut, produsen dapat menekan biaya listril sebesar 66.66%. Penerapan pola siklik 7.5 menit terang dan 22.5 menit gelap selama 8 kali periode siklik dapat dilakukan dengan menggunakan alat digital timer dengan tingkat akurasi tinggi sebagai contoh (Merk OMRON). Manakala hasilnya masih kurang baik, maka dapat digantikan pengaturannya dengan alat serupa dengan tingkat ketelitian yang lebih rendah dan mengubah pola siklik menjadi 10 menit terang – 20 menit gelap dengan 8 kali siklik ataupun 15 menit terang – 15 menit gelap dengan 8 kali siklik. Penulis : Dalmadi BBP2TP BogorEmail. dmdl2011@yahoo.comSumber Bacaan dan foto : Ditjen Hortikultura dberbagai sumbern lainnya