Loading...

Teknologi Pascapanen Kedelai

Teknologi Pascapanen Kedelai
Dalam menghasilkan benih bermutu tinggi, perbaikan mutu fisik, mutu fisiologis, dan mutu genetik juga dilakukan selama penanganan pasca panen. Menjaga mutu fisik terutama dilakukan selama prosessing, sedangkan menjaga mutu fisiologis benih dimulai pada saat panen hingga penyimpanan dan bahkan hingga benih siap ditanam. Mempertahankan mutu fisiologis benih tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus secara simultan (menyeluruh) dan sistematis dengan menerapkan kaidah-kaidah pengelolaan benih yang benar, mulai saat panen hingga penyimpanan. Mengingat benih kedelai cepat menurun mutu fisiologisnya, maka perlu diupayakan tindakan cepat dan benar. Pada awal penyimpanan, mutu benih harus tinggi dan ini merupakan prasyarat penting yang harus dipenuhi bagi keberhasilan pengelolaan mutu fisiologis benih selama penyimpanan. Penyimpanan benih yang ideal yaitu pada kondisi suhu dan kelembaban ruang simpan yang rendah, yakni suhu sekitar 18 0C dengan kelembaban relatif sekitar 60% (ruangan ber-AC dilengkapi dengan alat pengatur kelembaban udara), namun penyediaan fasilitas ruang simpan yang ideal di tingkat petani masih sulit dilakukan. Oleh karena itu, untuk mempertahankan mutu benih selama penyimpanan (sekitar delapan bulan) maka teknik-teknik sederhana berikut ini dapat diterapkan. PanenPanen hendaknya dilakukan pada saat mutu benih mencapai maksimal, yang ditandai bila sekitar 95% polong telah berwarna coklat atau kehitaman (warna polong masak) dan sebagian besar daun tanaman sudah rontok. Panen dilakukan dengan cara memotong pangkal batang. Selanjutnya, brangkasan kedelai hasil panen langsung dikeringkan (dihamparkan) di bawah sinar matahari dengan ketebalan sekitar 25 cm selama 2-3 hari (tergantung cuaca) menggunakan alas terpal plastik, tikar atau anyaman bambu. Pengeringan dilakukan hingga kadar air benih mencapai sekitar 14%. Usahakan untuk tidak menumpuk brangkasan basah lebih dari 2 hari, sebab akan menyebabkan benih berjamur dan mutunya rendah. Mengingat sulitnya pengeringan brangkasan/polong pada musim hujan (sinar matahari terbatas), maka brangkasan/polong perlu diangin-anginkan dengan cara dihamparkan (tidak ditumpuk). Untuk mempercepat proses penurunan kadar air benih, disarankan brangkasan dihembus dengan udara panas dari pemanas buatan. PerontokanBrangkasan kedelai yang telah kering (kadar air sekitar 14%) perlu segera dirontok. Perontokan dapat dilakukan secara manual atau secara mekanis (menggunakan pedal thresher atau power thresher). Apabila menggunakan power thresher, kecepatan silinder perontok disarankan tidak lebih dari 400 rpm (putaran per menit). Secara umum, perontokan benih perlu dilakukan secara hati-hati untuk menghindari benih pecah kulit, benih retak, terlepas karena akan mempercepat laju penurunan daya tumbuh dan vigor benih selama penyimpanan. Pembersihan dan SortasiBenih hasil perontokan dibersihkan dari kotoran benih, seperti potongan batang, cabang tanaman, dan tanah. Pembersihan dengan cara ditampi (secara manual) atau menggunakan blower (mekanis). Sortasi diperlukan untuk mendapatkan benih yang berukuran seragam dengan cara memisahkan sekitar 5% biji yang berukuran kecil dan tidak dimasukkan ke dalam kelompok benih. Selain memisahkan biji-biji yang berukuran kecil, sortasi juga diperlukan untuk membuang biji yang ciri-cirinya menyimpang dari sifat yang tercantum dalam deskripsi varietas, antara lain warna kulit, bentuk biji. Membuang biji yang ciri-cirinya menyimpang, dilakukan dari benih ke benih. Kegiatan ini penting artinya dalam upaya perbaikan mutu genetik benih. PengeringanBenih yang sudah bersih dan ukurannya seragam, segera dikeringkan hingga mencapai kadar air 9 -10%. Untuk menghindari timbulnya kerusakan mutu fisiologis benih akibat lamanya proses sortasi, disarankan benih dikeringkan hingga kadar air mencapai 10%, baru kemudian disortasi. Pengeringan benih dilakukan dengan menjemur di bawah sinar matahari, menggunakan alas terpal plastik atau tikar pada lantai jemur yang kering, dengan ketebalan benih sekitar 2-3 lapis benih. Pembalikan benih pada saat penjemuran dilakukan setiap 2-3 jam agar benih kering secara merata. Pada saat cuaca cerah, penjemuran dimulai sejak pukul 08.00 hingga pukul 12.00 selama 2-3 hari berturut-turut. Sengatan matahari yang terlalu panas pada saat penjemuran perlu dihindari. Sebelum disimpan, benih dikeringkan hingga berkadar air 9-10%. Jangan menumpuk benih dalam karung atau wadah tertutup apabila benih masih dalam kondisi panas. Benih yang akan disimpan setelah dijemur perlu diangin-anginkan sekitar 0,5 jam untuk menyeimbangkan suhu benih dengan suhu udara di ruang simpan. PengemasanBenih dikemas dengan bahan pengemas kedap udara untuk menghambat masuknya uap air dari luar kemasan ke dalam benih. Kemasan yang telah berisi benih harus tertutup rapat dengan cara diikat erat menggunakan tali. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan