Loading...

Teknologi Pemanfaatan Lengas Tanah setelah Padi Sawah untuk Peningkatan Produksi Ubijalar

Teknologi Pemanfaatan Lengas Tanah setelah Padi Sawah untuk Peningkatan Produksi Ubijalar
Kekeringan pada musim kemarau selalu menjadi masalah setiap tahun, sehingga menyulitkan untuk menanam padi di lahan sawah irigasi terbatas. Melanjutkan swasembada beras dan mencapai swasembada beberapa komoditas pangan merupakan salah satu strategi mencapai ketahanan pangan yang mandiri dan berdaulat, sehingga impor dapat dikurangi. Lahan sawah menjadi andalan dan tumpuan dalam mewujudkan ketahanan pangan tersebut. Bentang dan ragam lahan sawah yang secara garis besar dapat dikatagorikan menjadi tiga yaitu sawah tadah hujan, sawah berpengairan teknis dan sawah berpengairan setengah teknis, menuntut perhatian strategis guna memasok sumber pangan sesuai potensinya. Lengas tanah setelah panen padi sawah masih sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan bagi tanaman palawija termasuk ubijalar. Ubijalar selain kaya karbohidrat, vitamin A dan C serta mineral juga terdapat beberapa substansi sebagai sumber pangan sehat (fungsional). Umur panen yang relatif singkat sekitar empat bulan, memberikan peluang besar komoditas ini disertakan ke dalam pola tanam di lahan sawah. Diperkirakan hanya sekitar 1,25% lahan sawah yang dimanfaatkan untuk penanaman ubijalar. Pengembangan ubijalar di lahan sawah menuntut kecermatan dalam mengatur pola tanam, sehingga intensitas tanam/panen dapat memperkokoh ketahanan pangan dan kesejahteraan petani serta secara ekologis seiring dengan keseimbangan lingkungan.Tata cara Pelaksanaan / Penerapan TeknologiLahan sawah irigasi terbatas yang ketersediaan air tidak mencukupi untuk menanam padi di musim kemarau, dapat segera diolah dengan membajak dalam dua arah, melintang dan membujur, kemudian digaru dan disiapkan guludan. Jarak antar puncak guludan sekitar 85-100 cm, dengan tinggi guludan sekitar 30 cm dan lebar dasar 70 cm. Sebaiknya lokasi lahan sawah irigasi terbatas dengan tanah yang fraksi liat tidak mendominasi khususnya ordo vertisol, bagi ubijalar kurang sesuai. Sebaiknya fraksi pasir dan debu >70%, sehingga fraksi liat Hasil dan ImplikasiDi antara tanaman ubi-ubian, ubijalar tergolong tanaman yang mampu mengha-silkan bahan pangan dalam waktu relatif pendek. Sebagai penghasil karbohidrat, ubi¬jalar merupakan tanaman palawija penting setelah jagung dan ubikayu. Persoalan yang akan muncul dalam pengembangan ubijalar di lahan sawah pasca padi adalah waktu tanam dan konsekuensi panen yang relatif serentak. Aspek non teknis ini sangat penting untuk diantisipasi, terutama untuk mengatasi ketidakjelasan pasar dan fluktuasi harga yang tajam, agar petani tidak menderita kerugian. Kondisi demikian tentu menjadikan petani kurang bergairah atau bahkan jera dalam membudidayakan tanaman ubijalar. Ketatnya kalender tanam (katam) di lahan sawah untuk memprioritaskan padi, menyebabkan pada awal musim hujan harus segera dilakukan pengolahan tanah untuk padi, konsekuensinya panen serentak ubijalar di berbagai sentra produksi akan terjadi. Oleh karena itu, agar potensi yang dimiliki komoditas ubijalar di lahan sawah dapat teraktualisasi dalam mewujudkan kebijakan pangan alternatif, perlu penanganan terpadu dari hulu ke hilir, yang mencakup aspek pra panen dan pasca panen serta faktor-faktor pendukung lainnya. (Penulis : Suwarna- Penyuluh Pertanian Pusat)Sumber :1. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2016 2. agroteknologi.web.id