Loading...

Teknologi Pemupukan pada Tanaman Jagung

Teknologi Pemupukan pada Tanaman Jagung
Tanaman jagung digolongkan sebagai salah satu tanaman indikator untuk mengetahui ketersediaan hara dalam tanah, oleh karena itu untuk dapat tumbuh dan berkembangnya tanaman jagung secara optimal relatif dibutuhkan hara yangcukup, sehingga pemupukan merupakan salah satu faktor kunci bagi keberhasilan budidaya jagung. Pemberian pupuk, baik pupuk organik maupun anorganik pada dasarnya adalah guna memenuhi kebutuhan hara yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman. Untuk efisiensi pemberian pupuk maka pemupukan dilakukan secara berimbang, artinya pemberian berdasarkan sasaran tingkat hasil yang ingin dicapai dengan ketersediaan hara dalam tanah. Mengingat beragamnya kondisi kesuburan tanah antara lokasi satu dengan lainnya, maka takaran dan jenis pupuk yang diperlukan untuk lokasi-lokasi tersebut tentu akan berbeda pula. Oleh karena itu, pemupukan berimbang menawarkan beberapa prinsip dan perangkat untuk mengoptimalkan penggunaan hara dari sumber-sumber alami atau lokal sesuai dengan kebutuhan tanaman jagung. Sumber hara alami dapat berasal dari tanah, pupuk kandang, sisa tanaman, dan air irigasi. Pupuk kimia (anorganik) pada dasarnya hanya untuk memenuhi kekurangan hara alami yang diperlukan tanaman untuk dapat tumbuh dan berkembang sampai menghasilkan biji sesuai dengan yang dikehendaki. Untuk itu waktu pemberian dan takaran pupuk yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan umur tanaman/stadia pertumbuhan tanaman. Gejala-gejala kekurangan unsur hara dalam tanah yang ditunjukkan oleh tanaman jagung adalah sebagai berikut :•Gejala Kekurangan Nitrogen (N):Daun berwarna kuning pada ujung daun dan melebar menuju tulang daun. Warna kuning membentuk huruf V. Gejala nampak pada daun bagian bawah. •Gejala Kekurangan Posphor (P):Pinggir daun berwarna ungu kemerahan mulai dari ujung ke pangkal daun. Gejala nampak pada daun bagian bawah. •Gejala Kekurangan Kalium (K): Daun berwarna kuning, bagianpinggir biasanya berwarna coklat seperti terbakar, tulang daun tetap hijau. Gejala warna kuning membentuk V terbalik. Gejala nampak pada daun bagian bawah. •Gejala Kekurangan Sulfur (S): Pangkal daun berwarna kuning. Gejala nampak pada daun yang terletak dekat pucuk. Penentuan takaran pupuk (N, P, dan K) yang tepat untuk tanaman jagung dapat dilakukan melalui analisis tanah sebelum penanaman. Selain itu dapat pula dilakukan dengan menggunakan BWD (Bagan Warna Daun), seperti halnya yang biasa dilakukan pada tanaman padi. Takaran pupuk yang diberikan secara tepat pada waktu yang tepat, akan lebih efisien dibanding dengan takaran yang tepat tetapi saat pemberiannya tidak tepat. Dalam hal ini dengan stadia pertumbuhan tanaman,untuk itu sebagai panduan pemberian pupuk pada tanaman jagung adalah sebagai berikut : Takaran, porsi, dan waktu pemberian pupuk anorganik pada tanaman jagung. Jenis Pupuk Takaran2)Pupuk (kg/ha) Takaran Pupuk (kg/ha) 7 – 10 hst 28 – 30 hst 40 – 45 hstUrea 300 – 350 25 % 50 % BWDZA 1) 50 – 100 100 % - -SP36 100 – 200 100 % - -KCl 50 - 200 50 % 50 % - Keterangan: 1) Hanya diberikan jika dari hasil analisis tanah kekurangan unsur sulfur (S). 2) Takaran dapat berubah disesuaikan analisis tanah sebelum tanam atau rekomendasi setempat. ?Jika menggunakan pupuk majemuk, takaran unsur N, P, dan K disetarakan dengan pupuk tunggal.?Cara aplikasi pupuk diletakkan dalam lubang yang dibuat dengan tugal di samping tanaman dengan jarak 5 – 10 cm dari tanaman, dan ditutup dengan tanah/pupuk kandang/pupuk organik. Takaran pupuk yang diberikan ini hanya secara umum, dan dapat berubah tergantung tingkat kesuburan tanah di lokasi penanaman. Untuk itu dianjurkan dilakukan analisis tanah sebelum tanam atau menerapkan rekomendasi setempat. Jika terjadi sesuatu hal sehingga tidak dapat dilakukan analisis tanah atau belum ada rekomendasi pupuk setempat, maka dasar takaran pupuk tersebut dapat digunakan dengan diikuti pemantauan menggunakan Bagan Warna Biru (BWD). Penggunaan BWD pada jagung diterapkan tanaman berumur 40 – 45 hari setelah tanam dengan catatan setelah pemupukan kedua diaplikasikan sesuai tabel tersebut di atas. Penggunaan BWD ini pada prinsipnya hanya untuk memantau keseimbangan hara yang ada dalam tanaman utamanya unsur nitrogen (N). Jika berdasarkan pemantauan daun menunjukkan unsur nitrogen kekurangan, maka segera dilakukan penambahan nitrogen dan sebaliknya jika telah cukup maka tidak perlu ditambahkan. Dengan demikian maka pemberian nitrogen (urea) dapat diefisiensikan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Tahapan pemantauan kebutuhan pupuk N pada tanaman jagung dengan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD), adalah sebagai berikut : •Awal penanaman (± 7 hari setelah tanam), tanaman dipupuk N (urea) bersamaan dengan pupuk SP36 dan KCl sesuai porsi takaran dalam tabel 2. •Pada umur 28 – 30 hari dipupuk lagi sesuai porsi takaran dalam tabel 2.•Pada umur 40 – 45 hari setelah tanam (tergantung umur varietas)dilakukan pemantauan warna daun menggunakan BWD. •Sampel daun yang dipantau adalah daun yang telah terbuka sempurna (daun ke 3 dari atas), pilih 10 tanaman secara acak pada setiap lahan (± 1,0 ha). •Lindungi daun yang akan dipantau warnanya dengan caramembelakangi matahari, sehingga daun atau alat BWD tidak terkena matahari langsung agar penglihatan tidak silau. • Daun diletakkan di atas BWD. Bagian daun yang dipantau adalah sekitar 1/3 dari ujung daun, kemudian warna daun dibandingkan dengan warna BWD, skala yang paling sesuai dengan warna daun dicatat. BWD mempunyai nilai skala 2 – 5. Jika warna daun berada di antara skala 2 dan 3 gunakan nilai 2,5; di antara 3 dan 4 gunakan nilai 3,5; dan di antara 4 dan 5 gunakan nilai 4,5. •Rata-ratakan nilai skala dari 10 daun yang diamati. Nilai rata-rata skala digunakan untuk menentukan tambahan takaran pupuk urea. •Tambahan pupuk urea berdasarkan hasil pemantauan segera dilakukan, dengan takaran disesuaikan seperti sebagai berikut : Nilai skala berdasarkan pemantauan dengan BWD pada umur 40 – 45 hari setelah tanam dan takaran pupuk yang perlu ditambahkan baik untuk jagung jenis hibrida maupun komposit/bersari bebas. SKALA Takaran Pupuk Urea (kh/ha) Hibrida Komposit4,0 – 4,5 100 25> 4,5 50 0Jika pupuk organik (pupuk kandang) direkomendasikan untuk suatu wilayah, maka pemberiannya dilakukan pada saat tanam sebagai benih pada lubang tanam: takaran pupuk cukup segenggam (25 – 50 g) untuk setiap lubang tanam atau setara dengan 1,5 – 3,0 t/ha. Pada umumnya untuk lahan masam diperlukan pupuk kandang, dan dianjurkan menggunakan pupuk kandang kotoran ayam ras (petelor) yang biasanya sudang mengandung kapur cukup memadai. Ditulis Kembali Oleh : R. Dani Medionovianto Sumber : Balit Serealia Maros, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian