Loading...

Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Air Pertanian

Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Air Pertanian
Air merupakan kebutuhan utama bagi semua mahluk hidup. Dalam bidang pertanian, air merupakan kabutuhan utama. Air diperlukan sebagai salah satu media terpenting untuk mencapai keberhasilan produksi tanaman. Namun kenyataannya air tidak selalu tersedia bagi pertanian. Saat ini disadari telah terjadi krisis air, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Sementara disisi lain, penggunaan air untuk sektor lain juga terus meningkat, seperti untuk industri, perkotaan dan pemukiman, pertambangan, pariwisata, air minum, dll. Dalam bidang pertanian sendiri, beberapa sumberdaya air yang biasa digunakan diantaranya air hujan, air sungai dan irigasi. Agar penggunaan sumberdaya air efektif, perlu dilakukan teknik pengelolaan yang benar. Penerapan teknologi pengelolaan air ditujukan untuk menjamin ketersediaan air menurut ruang dan waktu sehingga akan berdampak pada peningkatan indeks pertanaman, jumlah serta jenis komoditas yang dapat dibudidayakan. Beberapa teknologi pengelolaan air pada lahan pertanian adalah sebagai berikut: 1. Teknologi Panen Hujan dan Aliran Permukaan Teknologi panen hujan ditujukan untuk menampung air di musim hujan dan menyediakan serta mendistribusikannya agar tidak mengalami kekeringan pada musim kemarau. Penerapan teknologi ini dapat dilakukan pada lahan sawah, lahan kering, dan rawa. Beberapa teknologi panen hujan dan aliran permukaan yang telah dikembangkan Badan Litbang Pertanian diantaranya: embung dan dam parit. a. Embung Embung berfungsi sebagai tempat resapan air dan penampung air hujan. Embung juga dapat meningkatkan kapasitas simpanan air tanah, serta menyediakan air di musim kemarau. Teknologi embung juga dapat menunjang pengembangan usahatani di lahan kering khususnya sub sektor tanaman pangan, perikanan dan peternakan. Dalam membangun embung, perlu mempertimbangkan jarak dengan saluran air, lokasi lahan memiliki kemiringan antara 5-30%, serta diutamakan dibuat pada tanah-tanah yang memiliki tekstur liat dan atau lempung. b. Dam parit Teknologi dam parit merupakan suatu cara untuk mengumpulkan/ membendung aliran air pada suatu parit. Prinsipnya menampung volume aliran permukaan, sehingga selain dapat digunakan untuk mengairi lahan di sekitarnya, juga dapat menurunkan kecepatan air, erosi, dan sedimentasi. Dam parit juga dapat memperpanjang selang waktu antara saat curah hujan maksimum dengan debit maksimumnya, sehingga air tertahan lebih lama dalam DAS. Kondisi ini memungkinkan sebagian air akan meresap ke dalam tanah untuk mengisi cadangan air tanah dan sebagian air dapat dialirkan ke lahan yang membutuhkan air/lahan yang tidak pernah mendapat air irigasi melalui parit-parit. 2. Teknologi Irigasi Menurut pengertiannya, irigasi adalah pengaturan pembagian atau pengaliran air menurut sistem tertentu untuk sawah dan sebagainya. Irigasi penting dilakukan pada daerah atau lahan yang rawan mengalami kekeringan. Tujuan irigasi untuk memberikan tambahan air terhadap air hujan dan memberikan air untuk tanaman dalam jumlah yang cukup pada saat dibutuhkan. Beberapa teknik irigasi yang dapat digunakan dalam bidang pertanian diantaranya: sumur renteng, irigasi tetes, irigasi kapiler, irigasi berselang, dan irigasi macak-macak. a. Sumur renteng Sumur renteng merupakan teknologi pengelolaan air yang cocok dikembangkan pada tanah tekstur berpasir. Tanah jenis ini memiliki kemampuan meloloskan air yang sangat tinggi sehingga tidak mampu menyimpan air dalam waktu lama. Prinsip sumur renteng adalah menampung air untuk irigasi dalam sebuah bak penampungan yang terhubung dengan bak penampungan lain melalui pipa dibawah tanah, persis dengan prinsip kerja bejana berhubungan. Teknik irigasi memiliki risiko kehilangan air cukup kecil, karena pemberian air dapat menjangkau daerah perakaran secara langsung. Selain itu, pemberian air cukup efisien karena hanya diberikan pada bak penampungan utama. b. Irigasi tetes Teknologi irigasi tetes cocok diterapkan pada lahan kering beriklim kering dengan topografi relatif landai. Teknik ini sangat efisien dalam penggunaan air tetapi hanya cocok untuk budidaya tanaman bernilai ekonomi tinggi. Prinsip kerja penyaluaran air pada irigasi tetes adalah sebagai berikut: 1. Air disalurkan dari tangki penampungan yang ditempatkan pada posisi lebih tinggi dari lahan usaha tani melalui selang irigasi. 2. Kebutuhan air tanaman dipasok dari tangki penampungan melalui selang irigasi yang didesain secara khusus, sehingga air dapat diberikan dengan debit yang sama dan konstan pada setiap titik keluaran selang irigasi menggunakan sistem tetes pada daerah perakaran tanaman. c. Irigasi kapiler Irigasi kapiler cocok dikembangkan di daerah yang memiliki topografi terjal dan memiliki sumber air relatif terbatas. Prinsip dasar dari irigasi kapiler adalah memanfaatkan air dari sumber mata air atau sungai yang disalurkan menuju bak penampungan secara gravitasi menggunakan pipa PVC. Dari bak penampungan, air yang tersedia didistribusikan menggunakan selang plastik kapiler. d. Irigasi berselang Sistem irigasi berselang atau dikenal dengan istilah intermittent irrigation umumnya digunakan pada komoditas padi. Teknik ini merupakan pengaturan kondisi lahan dalam kondisi tergenang secara bergantian. Selain untuk menghemat air, penerapan irigasi berselang juga memberi kesempatan kepada akar untuk mendapatkan udara sehingga dapat berkembang lebih dalam. Selain itu dapat mencegah timbulnya keracunan besi dan mencegah penimbunan asam organik dan gas H2S yang menghambat perkembangan akar. Irigasi berselang juga dapat mengurangi timbulnya keracunan besi, dapat mengaktifkn jasad renik mikroba yang menghambat, serta dapat mengurangu jumlah anakan yang tidak produktif. e. Irigasi macak-macak Irigasi macak-macak merupakan teknik pemberian air yang bertujuan membasahi lahan hingga jenuh tanpa tergenangi hingga mencapai ketinggian tertentu. Teknik irigasi ini efisien dalam penggunaan air dibandingkan dengan pengairan secara terus-menerus. Beberapa penelitian menunjukkan hasil tanaman padi yang mendapat irigasi macak-macak tidak berbeda nyata dengan yang mendapat genangan tinggi secara terus-menerus. Penurunan genangan dari 10-15 cm menjadi 5-7 cm selain mengurangi penggunaan air irigasi juga dapat meningkatkan hasil tanaman. Sumber : Las, I. 2007. Strategi dan Inovasi Antisipasi Perubahan Iklim. Sinar Tani edisi 5-11 Desember 2007. Manan, H. 2006. Teknologi Pengelolaan Lahan dan Air mendukung Ketahanan Pangan. Prosiding Seminar Revitalisasi Ketahanan Pangan : Membangun Kemandirian pangan Berbasis Pedesaan. Sutrisno, N. dan Effendi P. 2014. Reformasi Kebijakan Pengelolaan Air dalam Mendukung Ketahanan Pangan. Dalam Pendekatan Pembangunan dan Pengelolaan Sumberdaya Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. Jakarta. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian); Email: ume_humaedah@yahoo.com