Pada dasarnya tujuan agroekologi adalah untuk memahami keseimbangan lingkungan, hasil berkelanjutan, media biologi kesuburan tanah, dan pengaturan hama melalui desain keanekaragaman agroekosistem dan menggunakan teknologi input rendah. Para ahli agroekologi telah mengenalkan intercroping, agroforestry, dan metode diversifikasi lainnya yang menyerupai proses ekologi alami. Hal ini berguna untuk keberlanjutan komplek agroekosistem. Pengelolaan agroekologi harus berada di garis depan untuk optimalisasi daur ulang nutrisi dan pengembalian bahan organik, alir energi yang tertutup, konservasi air dan tanah, dan keseimbangan populasi hama-musuh alami. Satu teknologi yang telah diuji adalah sistem integrasi pertanaman padi dan palawija (kedelai dan jagung). Pengendalian hama padi dengan sistem integrasi pertanaman palawija-padi (SI PALAPA) termasuk strategi proaktif PHT biointensif. Teknologi SI PALAPA merupakan rekayasa ekologi (Ecological engineering) yaitu dengan tanaman utamanya padi sedangkan tanaman palawija (jagung dan kedelai) ditanam pada pematang. Pematang sawah adalah lahan tidur yang tidak kentara (unvisible sleeping land). Di Jalur Pantura, luas minimal pematang 5%, sedangkan di dataran tinggi dan berteras 20% dari luas sawah. Pada sistem integrasi padi-kedelai, keuntungan yang dapat diraih adalah hama padi sedikit, populasi predator dan parasitoid tinggi, dan terjadi dinamika-dialektika hama padi/kedelai sebagai double crops pests. Pada monokultur padi lebih banyak kerugiannya, yaitu tidak mendapat keuntungan dari komoditas lain, populasi hama padi meningkat, populasi predator dan parasitoid rendah. Pada sistem integrasi palawija-padi, perkembangan populasi hama wereng coklat dan hama wereng punggung putih lebih rendah dibandingkan dengan sistem padi monokultur. Hal ini disebabkan karena predator (Lycosa pseudoannulata),laba-laba lain, Paederus fuscifes, Coccinella, Ophionea nigrofasciata, dan Cyrtorhinus lividipennis mampu mengendalikan wereng coklat dan wereng punggung putih. Parasitasi telur wereng oleh parasitoid Oligosita dan Anagrus pada pertanaman SIPALAPA lebih tinggi daripada pertanaman padi monokultur (Baehaki 2006). Pertanaman padi pada SIPALAPA yang diberi pupuk organik jerami lapuk, kotoran sapi, kotoran domba, dan yang tidak diberi pupuk belum terdapat perbedaan mengenai jumlah hama dan musuh alamihnya. Demikian juga pada petak pertanaman padi monokultur yang diberi pupuk organik jerami lapuk, kotoran sapi, kotoran domba, dan yang tidak diberi pupuk tidak ada perbedaan jumlah hama dan musuh alaminya. Namun lalat Ephydrid dan Colembola sebagai kelompok dominan yang memakan sisa bahan organik (detrius) dapat berkembang pada sisa bahan organik (Settle et al. 1996). Dua serangga itu adalah makanan laba-laba yang berguna untuk menekan hama. Dengan demikian, pengelolaan bahan organik di masa mendatang dapat lebih terlihat manfaatnya sebagai makanan Ephydrid dan Colembola untuk memperkaya populasi laba-laba.Pemberian kompos jerami sebagai daur ulang dari sisa bahan organik merupakan bagian dari PHT biointensif yang menyediakan elemen yang dibutuhkan untuk memelihara siklus biologi. Dengan SIPALAPA ini merupakan optimasi lahan melalui pemanfaatan lahan yang dapat menekan hama utama tanaman dalam hal ini padi, sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Penekanan hamma dengan cara ini selain ramah lingkungan, mudah murah dan efisien. Penyunting : Ir. Ali Bosar Harahap. MMEmail : Ali.bosarharahap@yahoo.co.idSumber : Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian, 2013