Loading...

Teknologi Peningkatan Produktivitas Kacang Tanah

Teknologi  Peningkatan Produktivitas Kacang Tanah
Hampir semua provinsi di Indonesia sebenarnya memenuhi persyaratan tumbuh kacang tanah, namun Indonesia tidak pernah dapat menjadi produsen utama. Hal ini dikarenakan masih terbatasnya lahan, teknik budidaya yang masih sederhana, cekaman biotik-abiotik, sifat tanaman yang kurang respon terhadap pemberian pupuk yang mengakibatkan produktivitas kacang tanah di Indonesia cenderung stagnan dalam tingkatan rendah.Walaupun kacang tanah telah beradaptasi lama pada sistem usahatani di Indonesia, namun komoditas ini belum menjadi tanaman pokok yang diproduksi dalam skala luas. Kacang tanah hanya diusahakan sebagai tanaman penyelang atau tanaman tumpang sari. Demikian halnya dalam teknik budi daya belum banyak mengalami perubahan, hanya dalam aspek varietas saja yang kini tersedia banyak pilihan. Akan tetapi tersedianya teknologi berupa komponen varietas unggul, tanpa pengelolaan tanaman yang lebih baik. hal ini juga nampaknya menjadi penyebab tetap rendahnya produktivitas kacang tanah di Indonesia. Indonesia sebenarnya memiliki keuntungan banding (comparative advantage) dengan negara lain, karena suhu harian yang tinggi dan curah hujan tahunan yang melimpah, sehingga dapat mengusahakan kacang tanah sepanjang tahun. Sebagai Negara produsen kacang tanah, Indonesia belum mampu memasok ke pasar internasional, justru untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja masih harus mengimpor sekitar 200.000 ton biji per tahun (FAO 2014). Penerapan Komponen Teknologi Sudah banyak keragaan komponen teknologi yang dihasilkan untuk meningkatkan produktivitas kacang tanah di Indonesia, salah satunya dengan penerapan teknologi PTT terdapat peluang untuk meningkatkan produksi kacang tanah nasional.Komponen teknologi dasar : Enam komponen teknologi dasar dalam budi daya kacang tanah yaitu; (1) varietas unggul, (2) benih bermutu, (3) pengolahan tanah sempurna, (4) saluran drainase, (5) populasi optimal, (6) pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT). Komponen teknologi pilihan : Lima komponen teknologi pilihan yaitu; (1) pemupukan, (2) pupuk organik, (3) ameliorasi tanah, (4) pengairan pada periode kritis, (5) panen dan penanganan pascapanen secara tepat. Populasi tanaman yang dinilai optimal berkisar antara 160.000-250.000 tanaman/ha, dengan jarak tanam 40 cm x 10 cm. Pada tanah masam dengan pH 4,5 - 5,3 dianjurkan pmberian kapur pertanian 2 t/ha, sedangkan pada tanah dengan pH 5,3 – 5,5 diberikan kapur sebanyak 1 t/ha. Persyaratan pertumbuhan optimal adalah pada tanah dengan kelembaban 60-80% kapasitas lapang, setara dengan curah hujan 130-230 mm per bulan selama tiga bulan pertumbuhan Ketersediaan Air Tanaman kacang tanah memerlukan air sedikit lebih rendah dibandingkan tanaman jagung. Namun tanaman kacang tanah sangat rentan terhadap cekaman kekeringan, sehingga apa bila ini terjadi akan mengakibatkan rendahnya produktivitas. Dalam sistem usahatani kacang tanah ada yang disebut dengan pengairan periode kritis yaitu; pada fase perkecambahan, fase berbunga dan ginofor mulai masuk ke dalam tanah, dan fase pengisian polong. Cekaman kekeringan pada fase vegetatif akan menyebabkan terhambatnya perkembangan tanaman. Pada kondisi ketersediaan air t terbatas (kurang) hasil polong kacang tanah menjadi rendah. Karena ketersediaan air bagi akar tanaman berfungsi penuh mendukung pertukaran CO2 pada daun tanaman yang akan menentukan hasil panen.Di Indonesia usahatani kacang tanah sebagian besar terdapat di lahan kering dengan skalalsempit, sehingga sulit untuk berinvestasi prasarana irigasi. Pada lahan yang permukaan air tanahnya tidak dalam penggunaan pompa air dapat mengatasi permasalahan cekaman kekeringan pada fase generatif. Untuk memperoleh pertumbuhan yang optimal tanaman kacang tanah pada umur 35-80 hari memerlukan pengairan 3 s.d 5 kali. Dengan pengairan yang cukup hasil kacang tanah bisa mencapai 2,5 t/ha polong kering. Tanpa pengairan hanya menghasilkan 1,3 t/ha polong kering (Prastowo et al. 1992, Rahmiana et al. 2006). Idealnya untuk dapat memberikan produktivitas optimal memerlukan kelembaban tanah pada semua stadia pertumbuhannya, dari penanaman hingga biji matang fisiologis, dimana kebutuhan air irigasi mencapai 575 mm – 648 mm.Faktor dominan penyebab rendahnya produktivitas kacang tanah adalah cekaman kekeringan pada fase generatif dan penularan penyakit bercak daun dan karat daun. Cekaman kekeringan menambah tingkat keparahan penyakit tersebut.Untuk mencegah penyakit bercak dan karat daun yaitu dengan menyemprotkan fungisida yang sesuai antara lain Topsin M, pada tanaman berumur 45 dan 65 hari. Apa bila kedua penyakit tersebut dapat dikendalikan, daun tanaman akan tetap hijau hingga masa panen sehingga biji lebih bernas dan hasil panen lebih tinggi. Ruslia Atamaja (rusliatmaja.atmaja326@gmail.com)Sumber : Iptek Tanaman Pangan-Puslitbang Tanaman Pangan 2014