Loading...

Teknologi Peningkatan Produktivitas Ubikayu di Lahan Kering Ultisol

Teknologi Peningkatan Produktivitas Ubikayu di Lahan Kering Ultisol
Ubikayu (Manihot esculenta Crantz) sebagai sumber karbohidrat mempunyai kedudukan strategis sebagai bahan baku pangan, pakan, maupun berbagai bahan industri pangan dan non pangan. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, ubikayu juga merupakan komoditas penghasil devisa negara melalui ekspor dalam bentuk tepung, pati maupun bentuk olahan lainnya. Dengan berkembangnya industri peternakan dan industri berbahan baku ubikayu mendorong permintaan ubikayu meningkat tajam. Apa lagi ke depan, dengan ditetapkannya ubikayu sebagai salah satu tanaman sumber energi alternatif terbarukan dapat dipastikan permintaan ubikayu akan lebih meningkat. Untuk menangkap peluang tersebut, maka peningkatan produksi ubukayu melalui perluasan tanam dan peningkatan produktivitas mutlak diperlukan. Ubikayu banyak ditanam di lahan kering beriklim basah dan kering pada tanah Inceptisol,Ultisol, dan Alfisol, baik secara monokultur maupun ditumpangsatikan dengan tanaman pangan lainnya. Di Indonesia lahan Ultisol cukup luas sehingga sangat prospektif untuk pengembangan pertanian tanaman pangan termasuk ubikayu. Namun usaha di tanah tersebut banyak terkendala dengan masalah kemasaman yang tinggi, rendah bahan organik dan ketersediaan unsur hara, dan senyawa-senyawa sifat meracun tanaman tinggi (Prasetyo & suariadikarta 2001).Hingga saat ini ubikayu termasuk kelompok tanaman palawija yang kurang mendapat perhatian yang tercermin dari masih sederhananya teknologi produksi yang digunakan oleh petani. Untuk mendukung pengembangan ubikayu di lahan Ultisol yang cukup luas di Indonesia, maka diperlukan rakitan teknologi produksi yang spesifik, selaras dengan karakteristik tanaman ubikayu, maupuk karakteristik fisik, kimiawi lahan. Selain itu teknologi yang dirakit seyogyanya memperhatikan faktor kesehatan tanah dan nutrisi tanaman,keragaman pola tanam, kemiringan lahan, varietas yang sesuai dengan lokasi, pengelolaan air, dan pencegahan hama dan penyakit. Profil Produksi UbikayuPada tahun 2011 produksi ubikayu Indonesia mencapai 24 juta ton, merupakan produsen ubikayu terbesar kedua setelah Nigeria (52,4 juta ton). Produksi yang telah mencapai 24 juta ton pada tahun 2011 ternyata masih belum mencukupi kebutuhan dalam negeri dan terbukti pada tahun yang sama masih mengimpor beberapa produk olahan dari ubikayu. Oleh karena itu agar target produksi dapat dicapai secara berkelanjutan, maka peningkatan produksi selain dilakukan melalui program intensifikasi juga melalui program perluasan areal tanam/panen. Program ekstensifikasi diarahkan pada tanah Inceptisol dan Ulitosol dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia (Suyatmo & Wargiono 2009) Karakteristik UbikayuUbikayu dikenal sebagai tanaman yang memiliki daya adaptasi luas sehingga sangat potensial untuk dibudidayakan di wilayah yang kondisi agroekologinya sangat variatif, seperti wilayah beriklim kering, lahan marjinal maupun lahan yang optimal.. Tanaman ubikayu dikenal dengan tanaman yang rakus hara yang dapat memiskinkan tanah, karena salah satu sifatnya yang sangat efesien menyerap hara pada berbagai kondisi tanah yang tanaman lain tidak dapat tumbuh. Tanaman ubikayu dapat tumbuh dan berpoduksi dengan baik pada daerah kering, ketersediaan hara yang kurang optimal dan kemasaman rendah (pH 4,5-7,0). Karakteristik Tanah UltisolLahan Ultisol merupakan salah satu jenis tanah yang sangat luas ± 45,794 juta ha atau sekitar 25% dari luas total daratan Indonesia (Puslitbangtanah 2000) dan tersebar lebih besar di luar pulau jawa. Tanah Ultisol dicirikan oleh penampang tanah yang dalam dengan fraksi liat seiring dengan kedalam tanah, bereaksi masam dan kejenuhan basa yang rendah. Ciri morfologinya berwarna kuning kecoklatan hingga merah, sehingga diklaifikasikan sebagai Podsolik Merah Kuning. Meskipun tanah Ultisol sangat potensial untuk pengembangan tanaman pangan termasuk ubikayu, namun karena adanya karakteristik fisik dan kimia yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman pangan yang diusahakan, maka dalam pengusahaannya diperlukan tindakan agronomis agar dapat memberikan hasil yang tinggi. Untuk itu selain pengelolaan olah tanah yang baik dan pemberian kapur, Posfat, Kalium dan penambahan bahan organik sangat diperlukan. Keragaan TeknologiUntuk memperoleh pertumbuhan yang baik dengan hasil tinggi, tanaman ubikayu membutuhkan tanah dengan kandungan hara K sebesar 0,15-0,25 meg/100g. Pupuk K diberikan dua kali pada umur satu dan 3 bulan,masing-masing 50% dengan cara ditugal disamping tanaman dengan kedalaman 5-10 cm (Howeler, Radjit at. al 2002-2010). Hasil penelitian di daerah lampung menunjukkan bahwa pada lahan Ultisol yang keadaan unsur haranya sangat kurang, diperlukan penambahan infut Urea 300 kg, SP36 200 kg, KCL 200 kg, 5 ton pupuk kandang, dan 500 kg dolomit/ha dengan menggunakan varietas UJ-5 dapat menghasilkan 35-60 ton ubi/ha (Radjit & Saleh at. al 2010-2011). Untuk penanaman ubikayu pemupukan dilakukan pada setiap musim tanam agar produksi stabil dan kesuburan tanah terjaga. Ruslia Atamaja (rusliatmaja.atmaja326@gmail.com)Sumber : Puslitbang Tanaman Pangan 2014