Loading...

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH JAGUNG

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH JAGUNG
. Benih; a. Benih yang digunakan adalah benih varietas unggul; b.Memiliki daya tumbuh yang cukup tinggi (minimal 90%), c. Mempunyai potensi hasil yang tinggi, Tahan terhadap hama dan penyakit,d. Tingkat keseragaman tanaman yang tinggi, e.Kebutuhan benih 15 kg/ha. 2. Syarat Tumbuh; a.Suhu yang dikehendaki tanaman jagung antara 21 - 34°C dan suhu optimum antar 23 - 27°C b.PH tanah antara 5.6 – 7.5; c.Jenis tanah : struktur gembur dengan tektur lempung, lempung berdebu dan lempung berpasir; d. Ketinggian tempat 2 – 1000 m dpl dan ketinggian optimum 5 – 500 m dpl, e.Curah hujan optimal antara 100 sampai 200 mm per bulan dan suhu optimum untuk pertumbuhan jagung hibrida 23° dan 27° C. 3. Penyiapan Lahan; a.Tektur tanah berat memerlukan pengolahan intensif; b.Pembuatan bedengan; c.Tinggi bedengan lebih kurang 20 cm, d.Pembuatan got keliling, e. Pembuatan saluran drainase tujuannya agar air dapat segera tuntas/tidak tergenang; f. Tanah dibajak 15 – 20 cm, gemburkan dan ratakan. Untuk tanah yang berstruktur gembur dengan tektur lempung bisa tanpa olah tanah.g.Bersihkan dari sisa-sisa tanaman dan tumbuhan pengganggu. 4. Pertanaman; a. Buat lubang tanam dengan ditugal sedalam 5 cm. b.Jarak tanam 75 cm x 40 cm (2 tanaman/ rumpun) atau 75 cm x 20 cm (1 tanaman/rumpun).c. Masukkan benih dalam lubang tanam dan tutup dengan tanah atau pupuk kandang. 5. Pemupukan; a. Pemberian pupuk dibagi dalam 3 tahap yaitu pupuk dasar yang terdiri dari 50 – 100 kg urea, 150 kg SP36 dan 100 kg KCI/ha, diaplikasikan bersamaan dengan waktu penanaman materi induk betina. b.Pupuk yang telah dicampur secara merata dimasukkan ke dalam lubang berjarak ± 5 cm dari lubang tanam/ tanaman dan sebaiknya ditutup dengan pupuk kandang/kompos (500 – 1000 kg/ha). c. Pemupukan kedua sebanyak 100 kg urea ditambah 50 kg ZA diberikan 2 minggu setelah pemupukan pertama/dasar.d.Pemupukan ketiga sebanyak 100 – 150 kg urea /ha diberikan 2 minggu setelah pemupukan kedua. Pupuk dimasukkan ke dalam lubang berjarak 7 – 12 cm dari tanaman. e. Pemupukan yang efektif adalah pada kondisi kelembaban tanah cukup tinggi. 6. Roguing; Roguing ialah pembuangan tanaman-tanaman yang menyimpang baik pertumbuhan maupun ciri fisik lainnya, dengan tujuan untuk menjamin kemurnian genetika dan fisik benih yang dihasilkan dari pertanaman benih. 7. Detaselling; a. Pembuangan malai tanaman tetua betina adalah saat yang kritis, b.Malai harus dicabut sebelum menghasilkan tepungsari, c. Waktu pembuangan malai berkisar 1 – 5 minggu, d. Malai dicabut apabila telah keluar semuanya dari "boot", e.Apabila malai dicabut sebelum keluar seluruhnya, maka ada daun yang terangkat sehingga dapat menurunkan hasil. 8. Pengendalian Gulma; Membersihkan gulma yang ada disekitar tanaman, tanaman harus bersih dari rumput karena hasil penelitian di lapang lahan yang banyak ditumbuhi rumput bisa menurunkan hasil sampai 30%. 9. Pengendalian Hama dan Penyakit; a.Hama lalat bibit pengendaliannya dengan penanaman secara serempak, tanaman yang terserang dicabut dan dibung, sanitasi lahan dan secara kimia atau organic, b. Ulat grayak pengendaliannya dengan tanam serentak pada areal yang luas, pertisida baik kimia dengan insektisita berbahan aktif sepermetrin, klorfluazuron, klorpirifos, lamda sihalotrin dan karbaril. c. Penyakit Bulai dikendalikan dengan menanam varietas yang tahan bulai, melakukan periode waktu bebas tanam jagung minimal 2 minggu sampai 1 bulan, Sanitasi dengan mencabut dan membakar tanaman sakit, perlakukan benih dengan fungisida berbahan aktif Fenamidone 75g/l + Propamacarb hidrocloride 375 g/l sesuai dosis anjuran. d.Penyakit Bercak Daun dikendalikan dengan menanam varietas tahan, pembajakan tanah yang bersih sehingga dapat mengurangi infeksi awal, menghindari menanam jagung terlalu rapat, penggunaan fungisida sistemik berbahan aktif azoxistrobin + difenokonazol, trifloksistrobin atau difenokonasol sesuai dosis anjuran. e.Penyakit Karat Daun dikendalikan dengan menanam varietas tahan, sanitasi/eradikasi tanaman terserang berat, penggunaan agens hayati bakteri Pseudomonas fluorencens, penggunaan fungisida berbahan aktif triadimefon atau golongan dithiokarbamat, bahan aktif benomil sesuai dosis anjuran, f. Penyakit Busuk Tongkol dikendalikan dengan menanam benih sehat, menggunakan varietas tahan dan tongkol tertutup penuh, tidak membiarkan tongkol terlalu lama mongering di lapangan, jika musim hujan bagian batang di bawah tongkol dipatahkan agar ujung tingkol tidak mengarah keatas, pemupukan proporsional, pergiliran tanaman dan penggunaan fungisida efektif. 10. Pemberian Air; Pengairan merupakan bagian yang paling vital dalam perawatan tanaman, keterlambatan dalam pengairan dapat menurunkan hasil panen sampai 1 ton/ha dan pengairan paling ideal dilakukan setiap 10 hari sekali. 11. Panen; a.Jagung dapat dipanen setelah mencapai masak fisiologis dengan kadar air biji sekitar 30 -35 %. Untuk mengurangi ongkos pengeringan dipanen pada waktu air biji 20 – 25%. Tetapi penundaan panen dapat mengakibatkan tanaman menjadi rebah, busuk tongkol dan busuk batang terutama pada musim hujan. b. Jagung siap dipanen dengan tongkol atau kelobot mulai mengering ditandai adanya lapisan hitam pada biji bagian lembaga, c. Biji kering, keras dan mengkilat apabila ditekan tidak membekas, d. Umur panen tergantung varietasnya :e. Berumur pendek (genjah): 75 – 90 hari, f. Berumur sedang (tengahan): 90 – 100 hari, g. Berumur panjang (dalam): lebih dari 110 hari. Penyunting : Ir. Ali Bosar Harahap. MMEmail : Ali.bosarharahap@yahoo.co.idSumber : Direktorat Perbenihan, Direktoraral Jenderal Tanaman Pangan,2012. Pedoman Tehnis Tehnologi Produksi Benih Jagung Hibrida. Kementerian Pertanian. Jakarta.