Loading...

Teknologi produksi benih jagung Hibrida

Teknologi produksi benih jagung Hibrida
Teknologi produksi benih jagung HibridaPeningkatan produksi jagung dapat ditempuh antaralain dengan penggunaan varietas jagung yang memiliki produktivitas tinggi dan jagung Hibrida adalah salah satunya. Produktivitas jagung Hibrida berkisar antara 10 s.d 11 ton /ha, lebih tinggi disbanding varietas composit atau lokal yang hanya krang dari 3 ton/ha. Namun penyediaan benih jagung Hibrida khususnya di beberapa daerah di luar pulau Jawa karena masih terkendalanya produksi jagung jenis ini. Untuk mengatasi permasalahan ini pemerintah berusaha menggandeng para penangkar benih lokal untuk ikut memproduksi benih jagung Hibrida.Jagung Hibrida merupakan generasi pertama, hasil persilangan 2 galur murni. Jagung Hibrida dirakit melalui persilangangan galur atau Plasma Nutfa. Plasma Nutfa sendiri memegang peranan yang sangat vital karena berperan sangat menentukan dalam penyediaan ketersediaan tetua unggul. Tetua yang berasal dari Plasma Nutfa superior dengan karakter agronomi ideal akan menghasilkan galur yang memiliki daya gabung yang baik. Setelah galur tetua atau parent yang diinginkan diperoleh baik tetua jantan maupun tetua betina, maka proses selaanjutnya adalah perbanyakan benih jagung Hibrida.Syarat tumbuhJagung dapat ditanam pada lahan kering, lahan sawah lebak,pasang surut, dan berbagai jenis tanah pada berbagai tipe iklim dan ketinggian tempat. Untuk tumbuh baik dan menghasilkan sesuai dengan yang diinginkan tanaman jagung membutuhkan lingkungan tumbuh yang sesuai antara lain (1) Tanah bertekstur ringan sampai sedang, (2)Tersedia air yang cukup selama pertumbuhan, (3) Lahan tidak tergenang air (4) Ketinggian tempat sampai 1000 m dplUntuk memproduksi jagung Hibrida, lokasi pertanaman harus terisolasi dari tanaman lain berdasarkan jarak atau waktu . Isolasi jarak untuk pertanaman jagung Hibrida dengan lokasi pertanaman dengan jagung varietas lain minimal 300 meter dengan tetapmemperhatikan arah angina. Jika isolasi waktu yang diterapkan, maka selisih waktu penanaman 3 minggu dengan penanaman varietas lainnya.Persiapan lahan Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya, jika gulma bisa mengganggu tanaman dapat digunakan Herbisida kontak untuk mempercepat pengolahan tanah. Selanjutnya pengolahan tanah dapat menggunakan bajak yang dilanjutkan dengan menggaru dan disisir sehingga tanah menjadi rata dan gembur Penyiapan benihSetelah lahan selesai diolah yang yang perlu dipersiapkan adalah benih. Dalam pembentukan benih jagung hibrida dikenal ada 2 induk yaitu induk tanaman jantan dan induk tanaman betina . Dalam memproduksi benih jagung Hibrida atau F1 kebutuhan benih induk jantan sekitar ¼ dan induk betina ¾ dari total kebutuhan benih tergantung varietasnya. Contoh : Jika kebutuhan benih seluruhnya sebanyak 20 kg, maka kebutuhan benih untuk induk jantan sebanyak 5 kg dankebutuhan benih induk betina sebanyak 15 kgPenanamanUntuk memperbanyakbenih jagung Hybrida perbandingan antara baris induk jantan dan betina umumnya 1 : 3 (1 baris induk tanaman jantan dan 3 baris induk tanamam betina). Namun perbandingan tersebut sanagat tergantung dari varietasnya. Induk tanaman jantan umumnya mempunyai umur berbunga lebih lambat dibandingkan dengan induk tanaman betina, perbedaannya b erkisar antara 0 s.d 5 hari. Oleh karena itu agar waktu berbunganya bersamaan dan dapat terjadi penyerbukan secara sempurna, maka biasanya induk tanaman jantan ditanam lebih dahulu dengan selisih waktu antara 0 s.d 5 hari.Pemeliharaan TanamanSetelah 3 s.d 5 hari dari saat benih ditanam biasanya benih sudah tumbuh dan muncul di atas permukaan tanah. Pemupukan diberikan sebanyak 2 - 3 kali dengan konsep pemberian pupuk N pada setiap aplikasi perlu disesuaikan dengan pertumbuhan tanaman. Untuk memantau keseimbangan hara dalam tanaman utamanya unsur N atau Nitrogen dengan teknik penggunaan BWD (Bagan Warna Daun). Jika berdasarkan pemantauan daun menunjukan kekurangan unsur Nitrogen,maka segera dilakukan penambahan unsur N dan sebaliknya bila sudah cukup, maka tidak perlu ditambahkan.Penggunaan BWD pada tanaman jagung diterapkan pada saat tanaman jagung sudah berumur 35 - 40 hari setelah tanam dengan catatan setelah pemupukan ke 2 diaplikasikan.Penyiangan dan PembumbunanPenyiangan pertama yang diikuti dengan pembumbunan pertama ini dilakukan setelah tanaman berumur 10 - 15 hari setelah tanam. Penyiangan dan pembumbunan dengan menggunakan cangkul, hal ini sekaligus menjadi saluran irigasi untuk pendistribusian air pada tanaman. Jika diperlukan pada saat nanti tanaman memerlukan air penyiangan ke 2 dilakukan sesuai dengan pertumbuhan gulma, pada umumnya dilakaukan sesaat setelah pemupukan ke 2.Pengendalian HamaHama utama yang biasa dijumpai pada tanaman jagung adalah lalat bibit,penggerek batang dan dan penggerek tongkol. Khusus untuk pencegahan serangan hama lalat bibit terutama daerah endemic lalat bibit dapat dilakukan dengan pemberian Carbofuran bersamaan dengan waktu penanaman benih pada lubang tanaman dengan takaran 10 s.d 15 kg/ha. Pengendalian hama penggerek batang jika ada gejala serangan dengan pemberian Carbofuran melalui pucuk tanaman dengan takaran 10 kg produk/ha (3-4 butir/tanaman)PengairanPemberian air perlu dilakukan juka tanaman gejala tanaman kekurangan air ditandai dengan daun mulai menggulung. Pendistribusian air sebaiknya dilakukan melalui alur/saluran diantara barisan tanaman. Pada saat musim kemarau tanaman jagung biasanya memerlukan pemberian air 6 - 8 kali tergantung saat tanam dan tekstur tanahnya.Pencabutan Bunga JantanDalam memproduksi benih jagung Hybrida pencabutan bunga jantan pada induk tanaman betina harus dilakukan, hal ini untuk mencegah penyerbukan sendiri dan dilakukan sebelum malai bunga jantan keluar (saat masih terbungkus daun bendera) dan pencabutan dilakukan setiap hari agar tidak ada yang terlewat selama periode berbunga. Pencabutan bunga jantan ini sebaiknya dilakukan pada pagi hari.Seleksi Tanaman/RoughingSeleksi tanaman/Roughing dilakukan sebanyak 4 kali. Roughing pertama dilakukan pada umur 7 - 15 hst. (Cek warna batang, tanaman yang tumbuh diluar barisan tanaman yang dikehendaki, bentuk daun dan tinggi tanaman). Roughing ke 2 dilakukan pada saat tanaman berumur 32 – 35 hari hst (Cek warna batang,bentuk daun, tekstur daun, bentuk lidah daun). Roughing ke 3 dilakukan pada umur 45 - 52 hari hst (Cek warna bunga betina/jantan, bentuk malai, posisi tongkol, dan warna rambut yang tidak dikehendaki.Roughing panen/seleksi tongkol; tetua jantan dipanen lebih awal, lalu tetuaa betina sebagai benih Hibrida F1.Panen Dapat dilakukan setelah masak physiologis yang ditandai dengan kelobot telah mengering dan berwarna kecoklatan, yaitu biji telah mengeras dan pangkal biji telah mulai membentuk barisan hitam (black layer) minimal 50% di setiapbarisan biji. Pada saat seperti biasaanya kadar air biji kurang dari 30%.Semua tongkol yang telah dipanen dan telah lolos dari seleksi kemudian dijemur di lantai jemur sampai mengering sambil dilakukan seleksi tongkol dengan kadar air biji mencapai 16%.Tongkol yang memenuhi syarat/kriteria kemudian diproses lebih lanjut untuk dijadikan benih. Kemudian tongkol dipipil dengan menggunakan mesin pemipil dengan kecepatan sedang agar biji tidak sampai retak. Setelah biji dipipil kemudian dilakukan pengayakan sekaligus sortasi biji yang disesuaikan dengan varietasnya. Biji-biji yang terpilih sebagai benih dijemur kembali sampai kadar air mencapai 9 - 10 % sehingga benih siap dikemas.Pengemasan menggunakan kantong plastik khusus yang mempunyai ketebalan 0,2 mm, tidak tembus cahaya dan berwarna putih. Benih yang telah dikemas sebaiknya disimpan dalam ruangan ber AC agar umur simpan lebih lama.Ruslia Atmaja ppmkp ciawi-bppsdmpSumber : Balai Penelitian Jagung dan Serealia- Puslitbang Tanaman Pangan-Badan Litbang Pertanian 2012