TEKNOLOGI PRODUKSI BUAH BERJENJANG SEPANJANG TAHUN (BUJANGSETA)
Indonesia punya potensi menjadi Negara utama produsen Jeruk Dunia. Agribisnis Jeruk di Indonesia belum sepenuhnya didukung oleh inovasi Jeruk, sehingga berdaya saing lemah dan keberlanjutannya sering terganggu salah satu alasannya adalah bahwa sentra produksi Jeruk terutama di Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas Jeruk belum sepenuhnya terbebas dari penyakit CVPD. Tahun 2020 dihrapkan menjadi momentum kemandirian Jeruk Indonesia dan Tebas khususnya mulai ekspor ke Mancanegara. Permasalahan yang dihadapi di lapangan selalu dihadapkan pada Panen Raya yang relatif serentak terbukti sangat merugikan petani, disisi lain infrastruktur Cool Storage tidak tersedia ditambah lagi lemahnya kelembagaan petani Jeruk. Untuk itu diperlukan Teknologi Produksi Jeruk yang bisa berbuah sepanjang tahun (Off Season) dan menghasilkan buah bermutu Premium. Mempertangguh Kelembgaan petani agar mampu mengakses teknologi, modal, manajerial dan pasar. Teknologi produksi buah berjenjang sepanjang tahun (Bujangseta) semoga mampu menjadi salah satu solusi untuk mengatasi Fluktuasi harga saat panen raya Jeruk. Teknologi Bujangseta terdiri dari tiga manajemen : Manajemen Kanopi (Pruning) adalah pembentukan arsitektur pohon pola 1,3,9,27. Kemudian diikuti dengan pemangkasan pemeliharaan memangkas ranting kering, ranting yang terserang penyakit, membuang tunas air dan membuang ranting yang tumbuh ke dalam. Manajemen Nutrisi adalah mencukupi hara sesuai kebutuhan yang diharapkan. Menentukan jenis, dosis, waktu dan frekuensi pemberian pupuk. Manajemen Pengendalian Hama dan Penyakit yang di fokuskan pada penyakit burik kusam, thrip,tungau dan embun jelaga yang selalu di monitoring berdasarkan siklus hidup dan kehadiran hama penyakit terkait dengan iklim. Ferfoma teknologi Bujangseta Dalam satu pohon, jeruk Siam dan keprok Batu 55 dapat memiliki didapat 6 stadia perkembangan buah, yaitu mulai bunga mekar – hingga buah siap dipanen. Dalam satu tahun pohon yang diperlakukan Bujangseta dapat dipanen 4 – 5 kali.Cita rasa buah memuaskan dengan derajat kemanisan Brix 10o untuk jeruk Siam Pontianak dan 11o untuk keprok Batu 55.Serangan penyakit burik kusam dapat ditekan hingga 5%.Kesehatan pohon tetap terjaga walaupun baru dipanen dibandingkan dengan jeruk yang dibudidayakan secara konvensional.