Loading...

Teknologi Produksi Kedelai Adaptif Perubahan Iklim

Teknologi Produksi Kedelai Adaptif Perubahan Iklim
Peran Strategis Komoditas Kedelai Kedelai merupakan salah satu komoditi pangan utama di Indonesia, selain beras dan jagung. Komoditi ini memiliki banyak fungsi, diantaranya sebagai bahan baku industri skala besar hingga skala kecil atau rumah tangga. Tidak mengherankankan jika kebutuhan terhadap komoditi ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Bagi masyarakat Indonesia, olahan pangan berbahan baku kedelai sangat disukai sebagai salah satu sumber protein nabati. Olahan kacang kedelai yang paling popular adalah tempe, tahu dan kecap. Tempe sering kali dijadikan "makanan wajib" bagi masyarakat Indonesia. Tidak heran, ketika terjadi kelangkaan kedelai yang berimbas pada langka atau mahalnya tempe seringkali menjadi keresahan di masyarakat. Dilansir kompas.com, kedelai mengandung beberapa zat yang sangat berguna bagi kesehatan tubuh. Diantaranya antioksidan isoflavon yang bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan. Senyawa ini bertanggung jawab untuk memperbaiki sel dan mencegah kerusakan sel yang disebabkan oleh polusi, sinar matahari dan proses tubuh yang normal. Selain itu, kedelai juga dikenal mengurangi resiko penyakit jantung karena kandungan protein dan isoflavon hadir dalam kedelai membantu dalam mengurangi Kolesterol LDL (Kolesterol "jahat") serta penurunan kemungkinan pembekuan darah. Hal ini pada gilirannya, mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke. Penelitian menunjukkan, konsumsi susu yang mengandung 25 gram protein kedelai selama sembilan minggu mengakibatkan penurunan 5% Kolesterol LDL rata-rata. Tantangan Peningkatan Produksi Kedelai dengan Kondisi Iklim yang Sudah Berubah Terjadinya fenomena perubahan iklim seperti bergesernya pola musim disadari telah berdampak pada sektor pertanian, termasuk di dalamnya komoditas kedelai. Perubahan unsur-unsur cuaca dan iklim seperti : suhu udara, kelembaban, intensitas kejadian iklim ekstrim seperti hujan yang sanat tinggi atau musim kemarau yang panjang tentu saja sangat berpengaruh pada keberhasilan produksi atau budidaya kedelai. Terjadinya banjir dan kekeringan selain berdampak pada kegagalan panen, juga dapat berdampak pada menurunnya luas panen. Akibatnya, target produksi kedelai bisa tidak tercapai. Dengan kondisi yang demikian, para pelaku utama tanaman kedelai harus menyesuaikan pola dan kegiatan usaha tani kedelainya. Atau lebih dikenal dengan adaptasi. Teknologi Apa Saja yang Bisa Digunakan? Beberapa teknologi adaptasi perubahan iklim pada komoditas kedelai diantaranya dengan menanam varietas genjah dan toleran kekeringan, varietas toleran jenuh air, berumur genjah dan tahan hama utama. Berikut penjelasan masing-masing inovasi adaptasi perubahan iklim pada tanaman kedelai. 1. Varietas Genjah dan Toleran Kekeringan Tidak menentunya awal musim, baik hujan maupun kemarau merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim. Kondisi ini tentu saja membingungkan para petani mengenai keputusan memulai waktu tanam. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menghasilkan empat varietas kedelai berumur genjah, yaitu Argomulyo, Grobogan, Tidar, dan Gema. Varietas tersebut dapat dipanen pada umur 73-82 hari dengan potensi hasil 2-3,4 ton per hektar. 2. Varietas Genjah dan Jenuh Air Tanaman kedelai merupakan tanaman yang tidak tahan terhadap genangan. Pada lahan sawah, tanaman kedelai umumnya ditanam setelah tanaman padi. Untuk mengantisipasi tanah jenuh air dan genangan akibat hujan berkepanjangan atau kebanjiran, telah teridentifikasi dua varietas toleran genangan, yaitu varietas Grobogan dan Kawi dengan potensi hasil masing-masing 3,4 dan 2,8 ton per hektar. Kedua varietas ini dapat dipanen pada umur 76 dan 83 hari. 3. Varietas Toleran Naungan Perubahan iklim akan mendorong petani untuk mengubah pola tanam. Bila air terus tersedia, pola tanam yang semula padi-padi-kedelai dapat berubah menjadi padi-padi-padi. Artinya, perlu difikirkan pemanfaatan lahan lain untuk usaha tani kedelai. Hal ini mengingat harga kedelai yang relatif rendah dibanding jagung atau padi. Kondisi ini menyebabkan petani lebih memilih padi atau jagung karena memberi keuntungan yang relatif lebih tinggi. Salah satu peluang dalam pengembangan kedelai adalah memanfaatkan areal di kawasan hutan tanaman industri. Dalam hal ini diperlukan varietas toleran naungan. Beberapa varietas unggul baru kedelai yang telah teruji toleran terhadap naungan diantaranya varietas Grobogan, Pangrango, Argomulyo, dan Malabar. 4. Budi Daya Penerapan perbaikan cara budidaya menjadi keharusan dalam adaptasi perubahan iklim komoditas kedelai. Hal ini dilakukan karena telah terjadi perubahan pola tanam. Pola tanam yang semula padi-padi-palawja bisa berubah menjadi padi-padi-padi. Pada daerah dengan curah hujan relatif rendah, pola tanam yang semestinya padipalawija-palawija berubah menjadi padi-padi-palawija. Perubahan pola tanam ini berdampak terhadap perkembangan hama yang menyerang tanaman. Pada kondisi tanah jenuh air perlu dibuat saluran drainase yang dalam dan antarsaluran tidak terlalu lebar (4-6 m). Namun dalam kondisi kering dan curah hujan lebih rendah, waktu tanam perlu dimajukan dan dipilih varietas genjah dan toleran kekeringan (varietas Tidar, Argomulyo, dan Grobogan) dan varietas tahan hama ulat grayak (varietas Ijen). Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2012. Perubahan Iklim dan Inovasi Teknologi Produksi Tanaman Pangan. Kementerian Pertanian Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian); Email: ume_humaedah@yahoo.com