Loading...

Teknologi Untuk Antisipasi Kekeringan Pada Tanaman Kopi

Teknologi Untuk Antisipasi Kekeringan Pada Tanaman Kopi
Tanaman kopi (Coffea sp.), merupakan komoditi perkebunan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, sebagai sumber pendapatan petani serta sebagai sumber devisa negara, sehingga perlu dikembangkan dan dilindungi dari berbagai gangguan baik OPT maupun non OPT seperti banjir, kebakaran atau kekeringan. Adanya dampak perubahan iklim ekstrim seperti el-nino yang menyebabkan kekeringan yang mengakibatkan menurunnya produksi berbagai komoditi pertanian termasuk tanaman kopi yang sebagian besar merupakan perkebunan rakyat yang masih terbatas dalam penerapan teknologi budidayanya. Pengaruh kekeringan pada produksi kopiKekeringan berpengaruh terhadap menurunnya daya tahan tanaman sehingga rentan terhadap serangan OPT sehingga menyebabkan turunnya produksi kopi. Ada dua tingkat kerusakan tanaman kopi akibat kekeringan rusak ringan dan rusak berat. Rusak ringan ditandai dengan: daun mulai layu, warna daun tetap hijau dan kulit batang tetap segar. Rusak berat ditandai dengan: daun kering, warna daun hitam seperti terbakar, 50% dahan mulai kering dan mudah patah dan akar mulai kering; Selain itu primordia bunga hampir 100% mengering, buah belum masak tapi berwarna kuning dan biji banyak yang keriput. Pada kondisi ini produksi kopi turun dan pada tahun berikutnya produksi kopi bisa turun mencapai 100%. Teknologi antisipasi kekeringanBalai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunann Surabaya, telah merekomendasikan beberapa teknologi sebagai upaya antisipasi kekeringan pada tanaman kopi sebagai berikut:1. Pembuatan rorak, pembuatan rorak atau lubang penampungan air yang dikombinasikan dengan penambahan bahan organik. Ukuran rorak adalah 0,8 x 0,4 x 0,04m yang dibuat sebanyak 50% dari populasi pohon, dengan posisi saling menyilang. Sedangkan bahan organik yang digunakan untuk mengisi rorak dapat berupa seresah atau sisa daun kering yang ada disekitar tanaman dan kotoran hewan ternak;2. Pembuatan istana cacing, berfungsi untuk mempercepat dekomposisibahan organik yang dibuat dengan menggali lubang berdiameter 15 cm sedalam 0,5-1 m, dan berjarak 0,5-0,75 m dari batang pohon. Untuk setiap tanaman dibuat 2 lubang yang diisi dengan kompos atau pupuk kandang. 3. Model irigasi drip, dibuat dengan menggantungkan minimal satu bumbung air pada pohon dengan ketinggian 50 cm dari permukaan tanah. Untuk pohon yang masih kecil sistem ini bisa dimodifikasi dengan bumbung air yang terbuat dari bambu atau botol air mineral bekas yang dilubangi bagian bawahnya agar dapat meneteskan air secara perlahan sehingga membasahi daerah perakaran 4. Pembubunan bahan organik, berupa serasah, pupuk kandang atau kompos yang dibumbunkan pada daerah perakaran hingga disekitar leher akar sekitar 2-4 kg/pohon5. Penggunaan pupuk anorganik, yang terdiri dari urea, SP-36 dan KCl dengan perbandingan 2:1:1diberikan 2 kali yaitu pada awal dan akhir musim penghujan dengan dosis masing-masing sebesar 0,25 kg/pohon6. Penanaman rumput gajah, terutama dilakukan dilahan miring yang rawan erosi dan longsor. Fungsi utama rumput gajah sebagai penguat terasering sekaligus sebagai pakan ternak 7. Penanaman pohon pelindung, ditanam minimal 100-300 pohon/ha dan menggunakan tanaman produktif (petai, lamtoro, pisang dll), kemudian dilakukan penjarangan sesuai dengan kebutuhan. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/yayuk_edi@yahoo.com Sumber: 1. Anonymous, 2006. Profil/Data Base, Pengembangan Komoditi Kopi. Departemen Pertanian, Ditjen Perkebunan, Jakarta 2006. 2. Anonymous, 2008, Teknologi Budidaya, Kopi Poliklonal. BBP2TP, Badan Litbang Pertanian 3. Dihimpun dari berbagai sumber