Harga tembakau rajangan akhir-akhir ini sangat tidak berpihak pada petani, jika dianalisis secara mendalam petani maupun pengrajin tembakau rajangan banyak yang tidak menerima hasil keuntungan dari usaha tembakaunya ini. Meski cuaca sangat bagus dan ketersediaan tembakau Temanggung tidak sebanyak tahun – tahun lalu tapi tidak cukup mendongkrak harga tembakau di tingkat pabrikan. Semakin lama petani tembakau rajangan semakin terpuruk dan terpinggirkan.Ketidakpastian harga tembakau rajangan menyebabkan petani mulai harus berpikir keras untuk beralih ke hasil tembakau selain tembakau rajangan. Salah satu alternatif yang cukup menjanjikan adalah Tembakau Lembutan. Sebenarnya Tembakau lembutan ini merupakan budaya turun – temurun dari nenek moyang penduduk Bansari. Akan teteapi seiring dengan kemajuan jaman dan adanya inovasi teknologi peralatan perajangan tembakau menyebabkan Tembakau Lembutan semakin jarang diusahakan. Petani atau pengrajin tembakau lebih tertarik mengushakan tembakau rajangan dengan alasan lebih efektif dalam segi kuantitas. Merajang tembakau menggunakan mesin rajangan bisa menghasilkan berpuluh – puluh rigen perharinya, sedangkan dengan perajang manual hanya mampu memperoleh 7 rigen perharinya. Oleh karena itu petani sekarang jarang sekali yang mengusahakan tembakau lembutan. Rata – rata mereka membuat Tembakau Lembutan hanya untuk konsumsi sendiri dan tidak diperjualbelikan. Tembakau lembutan yang dimiliki petani hanya sebagai persediaan dan sebagai suguhan jika ada saudaranya yang datang atau disuguhkan saat acara-acara tradisional seperti nyadran, yasinan dll.Sebenarnya dari segi harga Tembakau lembutan sangat berbeda jauh dengan harga tembakau rajangan. Satu Kg Tembakau lembutan minimal harga yang tercapai kurang lebih Rp. 200.000 sedangkan untuk harga tembakau rajangan harga Rp. 200.000 itu sudah sangat tinggi. Rata – rata harga yang terjadi untuk tembakau rajangan antara Rp. 50.000 s.d Rp. 75.000. Seiring dengan mulai maraknya budaya nglinthing di kalangan anaka muda yang semakin ngetrend maka harga tembakau lembutan menjadi sangat tinggi. Anak muda sekarang yang sudah mulai bisa menikmati lembutan tembakau Temanggung khususnya Bansari merasa sangat tidak tertarik lagi dengan rokok pabrikan, mereka menganggap rokok pabrikan menjadi sepo (red: hambar). Ditambah lagi dengan adanya dukungan pemerintah kabupaten Temanggung dalam mendongkrak harga tembakau Temanggung yaitu dengan adanya festifal – festifal tembakau menambah nilai plus tembakau produksi temanggung. Harga – harga yang ditawarkan cukup menjanjikan, satu ons tembakau bisa dihargai Rp. 50.000 hal ini berarti kurang lebih harga yang terjadi adalah 500.000/Kg sangat jauh berbeda dengan harga tembakau rajangan untuk pabrikan. Dengan adanya festifal lembutan di Bansari itu harga yang tercapai minimal 200.000 per Kg untuk lembuatan yang berkualitas paling rendah. Dan semua persediaan lembutan milik petani di beli oleh cukong – cukong pebisnis rokok. Dari hasil festifal lembutan Di Bansari Kemarin petani tembakau sangat banyak diuntungkan. Kedepannya Festifal lembutan ini akan selalu diadakan tiap tahunnya sebagai pendongkrak nilai tawar tembakau petani. Kedepannya petani akan lebih banyak yang mengusahakan tembakau lembutan dan akan berlomba – lomba menghasilkan lembuatan yang berkualitas tinggi dengan menggunakan tembakau asli Temanggung yaitu Kemloko. Diharapkan dengan adanya festival lembutan ini kesejahteraan petani meningkat dan dapat menyelamatkan petani dari keterpurukan tembakau pabrikan. Oleh: Chusnidar Tsalies