Acara temu kemitraan usaha kecil dan usaha besar yang dilaksanakan pada hari Rabo tanggal 12 Nopember 2014 di Gedung Sahara Desa Besuki Kabupaten Situbondo dihadiri oleh petani tembakau sejumlah 65 orang peserta, berasal dari lima kecamatan ( Kendit,Panarukan,Bungatan,Mlandingan dan kecamatan Suboh) sebagai sentra produksi tanaman tembakau. Pada kesempatan itu hadir beberapa nara sumber diantaranya, Pimpinan perusahaan rokok Gagak Hitam H. Badrudin, PT.Sadana Arufnusa (Bpk. Nugraha ) sebagai mitra kerja PT.Sampurna , Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Situbondo serta Kepala Bidang Penyuluhan pada Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Situbondo. Adapun materi yang disajikan pada acara tersebut antara lain : 1. Pasar tembakau oleh Bpk. H. Badrudin. 2. Pola Kemitraan oleh Bpk. Nugraha. 3. Kelembagaan Kelompok Tani oleh Bpk.H.Bajuri (Kabid Penyuluhan BKP3) Setelah pemaparan materi selesai dilanjutkan dengan acara diskusi yang dipandu oleh MR. Sutipyo,SP. Antara lain yang disampaikan oleh H.Saleh sebagai petani tembakau dari kecamatan Panarukan, menanyakan mengapa P.R Gagak Hitam masih membeli tembakau dari daerah lain (Lombok/NTB), sementara di wilayahnya masih banyak tanaman tembakau yang tidak dibeli oleh P.R Gagak Hitam. P.R Gagak Hitam mengambil produksi/ panen tembakau dari berbagai daerah adalah strategi untuk meningkatkan cita rasa dari rokok Gagak Hitam, demikian jawaban yang disampaikan oleh H.Badrudin dalam menanggapi pertanyaan tersebut. Sebelum acara penutup dilanjutkan Pesan dan arahan Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan pada para peserta diantaranya Kelompok , Koperasi dan asosiasi yang ada harus mantab , tingkatkan mutu tembakau sebagai syarat untuk dapat bermitra dengan Pabrikan besar. Selanjutnya Kepala Badan selaku wakil dari Pemerintah Kabupaten Situbondo berjanji akan terus memfasilitasi kemitraan usaha tersebut, sehingga pasar tembakau di Kabupaten Situbondo dapat secepatnya terbentuk, sehingga fluktuasi harga tembakau dapat ditekan seminimal mungkin, sebab budidaya tanaman tembakau merupakan sebuah asaha yang beresiko tinggi , demikian kesimpulan tambahan yang disampaikan leh MR. Sutipyo,SP. Sumber dari : Didik Agus Suryadi,SP (Koord. BPP Mlandingan)