Loading...

TEMU LAPANG PANEN JAGUNG DI KOTA KENDARI

TEMU LAPANG PANEN JAGUNG DI KOTA KENDARI
Bertempat di kelompok tani Nusa Indah, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari, pada Hari Senin, 29 Februari 2016 dilaksanakan Temu Lapang dalam rangka panen jagung hibrida. Di lahan seluas 7,5 Ha, petani pelaksana Dadang, mengusahakan jagung hibrida (Bisi 2) seluas 5 ha dan jagung lokal seluas 2,5 ha.Temu lapang dihadiri oleh Ibu Walikota Kendari, Sekda Kota Kendari, Danramil 1417-10 Kendari, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Kendari, Kepala BP4K Kota Kendari, dan penyuluh Kota Kendari dan Prov. Sultra. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengekspos pendampingan penyuluh BP3K Kecamatan Puuwatu dalam mendampingi petani pelaksana upsus peningkatan produksi jagung di Kota Kendari. Dari lahan seluas 7,5 Ha tersebut, petani mendapat bantuan berupa benih hibrida 15 kg/ha, urea 75 kg/ha dan NPK 50 kg/ha. Petani secara swadaya menambah benih 5 kg benih secara sawadaya.Kelompok tani Nusa Indah beranggotakan 10 orang, dengan ketua Ismail T. Anggota kelompoknya memiliki usaha tani yang beragam yaitu tanaman pangan (jagung), hortikultura dan tanaman hias. Kelas kemampuan kelompok tani Nuasa Indah adalah lanjut. Penyuluh yang menjadi pendamping kegiatan adalah Ir. Syahrir Muwatil.Budidaya jagung yang dilakukan adalah sistem TOT (Tanpa Olah Tanah). Penanaman dilakukan pada awal Bulan Desember 2015, yaitu saat awal musim hujan. Beberapa kendala yang dihadapi petani adalah kurangnya air pada saat pembentukan tongkol, sehingga dalam satu pohon hanya satu tongkol jagung yang bisa dipanen. Hama utama yang dihadapi petani selama berusaha adalah babi, sehingga petani melakukan pemagaran keliling di kebunnya. Dari 5,5 Ha yang ditanami jagung hibrida diperoleh hasil sekitar 6 ton jagung pipilan kering. Pemasaran dilakukan secara langsung oleh petani dengan menjual dalam bentuk pipilan atau giling di kios di depan rumahnya. Harga jual yang diterima petani adalah Rp 6000/kg atau Rp 4000/liter, jadi total penghasilan yang diterima adalah Rp 36 juta.Hasil analisa usaha menunjukkan bahwa total biaya untuk 5,5 Ha adalah Rp 19,08 juta (Rp 4,16 juta untuk herbisida + Rp 1,05 juta untuk bahan bakar + Rp 200 ribu untuk pelumas + Rp 7 juta untuk benih + Rp 1,67 juta untuk pupuk + Rp 1 juta untuk upah panen + Rp 4 juta untuk ongkos tenaga kerja). Total pendapatan dari 5,5 Ha jagung hibrida, petani memperoleh Rp 36 juta. Pendapatan bersih yang diterima adalah Rp 16,92 juta selama musim tanam (Rp 4,23 juta/bulan) (Penulis : Ida Fauzia, penyuluh Sekretariat Bakorluh P2K Prov. Sultra).