Loading...

TEMU LAPANG PERIKANAN BUDIDAYA DI KABUPATEN PINRANG

TEMU LAPANG PERIKANAN BUDIDAYA DI KABUPATEN PINRANG
14.00 Kabupaten Pinrang berobsesi untuk mengembalikan kejayaan udang windu seperti di era tahun 1980-an. Booming udang windu di enam kecamatan wilayah pesisir pada masa itu benar-benar menggerakkan roda perekonomian masyarakat pesisir. Hal itu diungkap oleh Bupati Pinrang H.Andi Aslam Patonangi ketika menyampaikan arahan pada acara Temu Lapang perikanan budidaya air payau di desa Tasiwalie, kecamatan Suppa, Selasa (2/9). Temu lapang perikanan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), Kementerian Kelautan dan Perikanan dihadiri oleh Direktur produksi DJPB, Dr. Coco Kokarkin,M.Sc, peneliti Phronima dari Fakultas Kelautan dan Ilmu Perikanan UMI Makassar, Prof. M.Hattah Fattah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pinrang Ir.H.Andi Budaya Hamid, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan dari kabupaten Polewali mandar, Barru, Kabupaten Pangkep,Maros dan Takalar serta sekitar 150 orang undangan pembudidaya dan penyuluh perikanan turut hadir. Dikatakan Bupati, booming udang windu yang terjadi sepanjang tahun 1980-an hingga awal 1990 dapat berimplikasi pada semakin bertambahnya luas lahan tambak. Karena pada saat itu banyak lahan sawah yang dialihfungsikan menjadi lahan tambak. Bahkan sampai saat ini masih ada yang bertahan dan sebagian sudah dikembalikan lagi menjadi lahan bercocok tanam padi. “Implikasi lain ketika udang sedang jaya banyak kendaraan roda dua hingga roda empat parkir di pelosok desa hingga di pematang tambak,” kenang Bupati yang juga mantan petani tambak Intensif di Bili-Bili kecamatan Suppa. Menurutnya, komoditi udang bisa menjadi stimulus dalam menggeliatkan roda perekonomian masyarakat kabupaten Pinrang. “Semua bisa bangkit jika udang windu jaya kembali, karena komoditi ini bisa menggerakan usaha dari mulai usaha pembibitan, penggelondongan, pembudidaya, pembeli udang dan pengusaha sarana dan prasarana budidaya tambak, semua bisa bangkit,” ungkapnya. Untuk mengembalikan kejayaan udang windu diperlukan inovasi teknologi, namun perlu adanya konsekwensi berupa pembiayaan. Oleh karena itu Bupati mengharapkan adanya intervensi dari pusat dalam hal ini Kemneterian Kelautan dan Perikanan berupa bantuan teknologi maupun aksesbilitas terhadap perbankan. Direktur Produksi DJPB, Coco Kokarkin optimis kalau kejayaan udang di Pinrang akan bangkit kembali. Hal ini terlihat dari adanya sinergitas antara peneliti, Bdan Karantina ikan, perguruan tinggi, peyuluh perikanan, pusat, provinsi dan pemerintah daerah sudah berupaya membangun sector kelautan dan perikanan Pinrang.” Mudah-mudahan temu lapang ini sebagai awal kebangkitan udang di Pinrang,” ungkap Coco Kokarkin. Dikatakan Coco Kokarkin, peningkatan produksi udang nasional, terus didorong dengan memanfaatkan dan mengoptimalkan semua potensi yang ada. Sulawesi Selatan yang merupakan salah satu sentra produksi udang, perlu terus didukung dalam meningkatkan produksi udangnya secara optimal, untuk mendukung pencapaian target produksi udang yang telah ditetapkan. ”Propinsi Sulawesi Selatan, merupakan salah satu lokasi tambak percontohan budidaya udang di tahun 2013 dengan target luasan kurang lebih 100 ha. Optimalisasi potensi budidaya udang secara arif dan berkelanjutan, akan mendorong peningkatan produksi baik secara kualitas maupun kuantitas yang berkesinambungan, sesuai dengan jiwa Industrialisasi perikanan budidaya berbasis blue economy”, jelas Coco Kokarkin ketika membacakan sambutan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada temu lapang kemarin. Dikatakan lebih lanjut, pengembangan komoditas unggulan yang berorientasi ekspor seperti udang, saat ini sangat diperlukan. Di tengah meningkatnya permintaan dunia terhadap udang yang diikuti dengan naiknya harga udang, harus diikuti dengan peningkatan produksi udang untuk memenuhi kebutuhan udang tersebut. “Merebaknya penyakit Early Morning Syndrome (EMS) yang menerpa beberapa negara tetangga yang selama ini menjadi pesaing utama bagi Indonesia seperti Thailand, Vietnam dan Malaysia, juga meningkatkan daya saing dan daya tawar udang produk Indonesia yang bebas dari EMS di pasar Eropa, Jepang maupun Amerika’, ungkap Slamet. Ditambahkan Coco, pasar dunia saat kekurangan udang karena permasalahan penyakit yang melanda Negara-negara produsen udang dunia. Ia mencontohkan Negara Thailand tahun ini produksi udangnya turun drastic dari 600.000 ton menjadi 80.000 ton. “Ini peluang bagi kita untuk mengisi pasar dunia itu dengan harga udang yang semakin mahal,” kata Coco. Oleh karena itu Dirjen Perikanan Budidaya mengharapkan perlunya tambak percontohan yang bertujuan untuk menggenjot produksi udang nasional melalui optimalisasi lahan tambak idle (tidak produktif) dengan menerapkan model teknologi anjuran budidaya udang yang aplikatif dan inovatif yang secara langsung akan mendorong peningkatan produksi dan produktivitas udang yang dibudidayakan. “Melalui program tambak demfarm yang telah dilakukan sejak tahun 2012 ini, animo masyarakat untuk terjun kembali berbudidaya udang akan meningkat, sehingga dapat menjadi pendorong pengembangan kawasan budidaya udang baru disekitarnya”, ujar Slamet. Ditambahkannya, bahwa selain input teknologi beberapa hal yang juga diperlukan dalam keberhasilan program Tambak demfarm ini adalah penguatan kelembagaan kelompok dan pengembangan kemitraan. (Abdul Salam Atjo) Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;}