Salam KOSTRATANI #pertaniantidakberhenti Saat ini kita sedang prihatin berkenaan dengan pandemi Covid-19. Semua cabang ekonomi terjadi penurunan. Hal ini tidak membuat surut petani untuk terus perproduksi menghasilkan berbagai bahan makanan utamanya tanaman pangan,hortikultura dan ternak untuk menunjang kebutuhan hidup berupa energi, protein, vitamin dan mineral. Adalah Taslim ketua kelompoktani Mawar yang dibentuk tahun 2011 desa Mekar Jaya kecamatan Sebulu Kabupaten Kutai Kartanegara yang tetap semangat dalam mengelola usahataninya. Taslim petani generasi kedua dari rombongan transmigrasi yang datang pertama kali pada tahun 1982. Luas lahan kelompok tani mawar 25 ha. Penyuluh yang membinan/mendampingi adalah Hari Budiyanto, SP. Dalam mengelola usahataninya Taslim menggunakan mesin seperti hand traktor dan mesin panen (combine harvester). Hanya saja untuk menanam padi masih menggunakan tenaga manusia dari anggota kelompoknya sendiri berkisar antara 8 (delapan) orang yang utamanya dari golongan ibu-ibu, yang di upah harian. Di desa Mekar Jaya luas lahan sawah fungsional ada 70 ha. Lahan sawah yang ada merupakan lahan tadah hujan. Petani hanya sanggup memprediksi bahwa pada musim tanam ini ketersediaan air akan mecukupi. Petani mulai mengolah tanah bila lahan sawah sudah dibenangi air. Tidak berfikir lagi apakah dalam tahap pemeliharaan padi akan mendapat air yang cukup atau tidak. Terkadang air berlimpah dan lahan sampai tergenang karena kelebihan hujan dan dimusim yang lain kering karena tidak ada hujan. Inilah suka duka kami mengolah lahan tadah hujan air tidak bisa diatur sesuai dengan kebutuhan pada fase tanaman. Pada musin tanam okmar tahun (2019 - 2020) ini mulai semai di pertengahan Desember. Selanjutnya tanam di awal Januari. Setelah tanam hampir tidak ada hujan lagi sehingga tanaman pertumbuhannya kurang baik, tidak sehat dan mudah diserang hama dan penyakit sudah diusahakan untuk mengairi dengan mesin pompa mengingat sumber air juga terbatas tanaman tidak memberikan respon maksimal. Pada selasa 7 April 2020 sebelum dilaksanakan panen menggukan combine (mesin panen) dilakukan ubinan untuk mengetahui produktivitasnya dan hasilnya 4,32 ton/ha. Pak Taslim sangat bersyukur masih bisa panen walau hasilnya lebih rendah dari biasanya. Untuk pertama kalinya panen menggunakan mesin. Walau mesin panen ini adalah milik kelompoktani Mawar di bawah pimpinannya Taslim tetap membayar ongkos panen sebesar Rp. 30.000/karung. Ongkos tersebut adalah untuk upah operator, bahan bakar, perawatan dan kas kelompok. Ini adalah kesepakatan dari anggota kelompok agar mesin tanam ini juga memberikan masukan kepada kelompok agar menjadi maju, mandiri dan modern Sebelum mendapat bantuan combine, biasanya panen menggunakan tenaga manusia maka upah atau ongkos yang dikeluarkan adalah Rp. 80.000 /hari untuk 8 orang selama 3 hari untuk luasan 1 ha serta ungkos perontoknya setiap 12 karung onkosnya 1 karung. Satu karung rata – rata isinya 70 kg GKP dengan harga terendah Rp. 4.000 / kg jadi setiap panen 12 karung petani harus mengeluarkan onkos treser/perontok 1 karung yang setara dengan Rp 280.000,-. Pada saat ini hasil panennya adalah 60 karung jika menggunakan tenaga manusia maka ongkos yang dikeluarkan adalah Rp. 80.000 x 8 orang x 3 hari sama dengan Rp. 1.920.000,- dan ongkos perontok 5 karung setara dengan Rp. 4.000 x 70 kg x 5 karung sama dengan Rp. 1.400.000,- jadi total ongkos panen Rp. 3.320.000,- Pada kondisi saat ini karena pengaruh pandemi Covid-19, bayak orang yang kehilangan pekerjaan dan tentu juga penghsilan. Biasanya kelompok tukang tanam juga merupakan kelompok panen, kerena pak Taslim sudah menggunakan mesin panen tentu kelompok panen kehilangan penghasilan. Sebagai rasa syukur dan tetap menjalin hubungan sosial dan kedekatan walaupun kelompok panen tidak bekerja pak Taslim tetap memberikan 25 kg beras kepada masing masing orang anggota sebanyak 8 orang. Dan ini berlaku pada semua anggota kelompoktani Mawar, agar tetap membantu lingkungan sosialnya. Selanjutnya dijelaskan kelebihan menggunakan mesin panen adalah waktu panen sangat cepat, gabah bernas sudah dikarung dan tidak tercampur lagi dengan gabah hampa serta jerami sudah ditebar merata dan kembali menjadi pupuk kompos hanya satu kurangnya yaitu sedikit kerusakan pematang jelas pak Taslim yang ditutup dengan senyum. Penulis : Ir. Wayan Gede Sumehartha Penyuluh Pertanian Madya kabupaten Kutai Kartanegara Kepala Bidang Usaha dan Penyuluhan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara Penyuluh Ananias, S.Hut.,M.P Nip. 198101152005021003 Ir. I Wayan Gede Sumehartha Nip. 19630916 199103 1 008