Theileriosis adalah salah satu penyakit yang menyerang ternak seperti sapi, kerbau, kambing dan domba. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa Theileria sp. dari famili Theileridae yang bersirkulasi dalam darah secara intraseluler. Untuk spesies yang patogen terhadap sapi ada 2 yang terkenal, yaitu Theileria parva, yang menyebabkan demam pada sapi, dan Theileria annulata, yang menyebabkan theileriosis tropis. Sedangkan pada Pada kambing dan domba ada 2 penyebab Theileriosis yaitu Theileria hirci dan Theileria ovis. Theileria ini dipindahkan oleh vektor caplak jenis Rhipicephalus. Sedangkan Theileria annulata ditularkan oleh vector caplak Ixodidae. Vektor caplak memang sering menimbulkan gangguan pada ternak. Caplak merupakan salah satu ektoparasit yang terdapat pada hewan ternak dan pada umumnya selalu menimbulkan kerugian, baik secara fisik bagi hewan itu sendiri, maupun kerugian secara ekonomis bagi para peternakTheileriosis merupakan penyakit darah akut dan menahun yang disertai demam, diare berdarah dan pembengkakan kelenjar-kelenjar limfe. Parasit-parasit yang menyebabkannya berkembang biak di dalam sel-sel susunan limfe. Penyakit ini menginfeksi sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih (leukosit). Awal infeksi terjadi oleh sporozoit-sporozoit yang dipindahkan oleh air liur vector/ caplak dewasa. Sporozoit adalah bentuk infektif yang dikeluarkan melalui kelenjar ludah vektor dan dipenetrasikan ke dalam tubuh inang melalui gigitan. Dalam darah sporozoit-sporozoit ini memasuki limfosit-limfosit dan sel-sel endotel. Kemudian berkembang biak dengan cara membelah dalam beberapa hari, yang selanjutnya berkembang membentuk badan berinti yang disebut Skizon {Koch's body) dan berada dalam sitoplasma limfosit, membentuk merozoit. Bentukan ini terus bergerak masuk kedalam eritrosit dan terjadi binary fission di dalam eritrosit. Gejala klinis, pada masa inkubasi penyakit berlangsung kira-kira 2 minggu. Hewan yang terserang theileriasis akan mengalami demam yang tinggi terus menerus yang disertai gejala klinis umum (kesulitan bernafas, kekurusan/ anoreksia, kelemahan tubuh belakang) menyerupai gejala penyakit protozoa darah lainnya. Ditemukan pula pembengkakkan pada nodus limfatikus yang sangat menyolok. Anemia dan batuk kadang terjadi. Infeksi pada stadium lanjut menyebabkan hewan tidak bisa berdiri, suhu tubuh dibawahnormal (TPenyebaran penyakit ini tidak terlepas dari faktor lingkungan. Kondisi iklim dan kelembaban yang tinggi memegang peranan penting karena memicu berkembangnya vektor. Di daerah sub-tropis, populasi caplak dewasa meningkat pada musim panas dan musim semi, sedangkan populasi larva dan nimfa meningkat pada musim gugur. Adapun di daerah tropis, populasi caplak mulai meningkat pada akhir musim panas dan puncaknya pada saat curah hujan tinggi. Keberadaan caplak ini, berkaitan erat dengan tingginya kasus theileriasis pada suatu daerah.Pencegahan dan pengendalian dapat dilakukan dengan mengontrol penyebaran caplak yakni dengan cara mengurangi populasi vector melalui dipping, sanitasi kandang. Pemberian repellant seta melakukan manajemen pemeliharaan yang baik. Ternak baru yang telah didatangkan, perlu diberikan parasiticide dan perendaman disinfektan {dipping) untuk pencegahan parasit eksternal. Pemberian parasitide berupa akarisida adalah untuk membunuh larva, nimfa dan dewasa caplak ixodidae. Akarisida biasanya digunakan pada ternak dengan cara perendaman dan penyemprotan serta dianggap sistem perendaman lebih efektif. Namun akarsida cukup mahal, dan menyebabkan kerusakan lingkungan bahkan dapat membuat caplak menjadi resisten. Strategi pengendalian theileriasis yang paling baik adalah melakukan pemberantasan caplak terpadu. Efektifitas dari strategi tersebut memerlukan pengetahuan yang lebih baik tentang dinamika dari agen penyakit, host, vektor caplak dan lingkungan hidupnya. Peraturan karantina yang ketat perlu dilakukan untuk mencegah penularan penyakit. Dapat pula dilakukan pemberian vaksin. Vaksin theileiria pernah dikembangkan dari piroplasma hidup yang berada didalam sel darah merah, tetapi vaksin ini tidak lagi dianjurkan karena berpotensi untuk menyebarkan theileriasis lebih luas.Saat ini, dua kandidat vaksin sedang dikembangkan, yaitu vaksin rekombinan protein p32 dan peptida sintetik yang mengandung Lys ± Glu ± Lys (KEK). Keduanya mampu menghasilkan status parasitemia yang rendah dan menurunkan keparahan gejala klinis. Keberhasilan pengobatan sangat ditentukan oleh waktu pemberiannya yaitu pada awal munculnya gejala klinis. Efektifitas penggunaan obat tersebut sangat efektif jika digunakan pada stadium awal munculnya gejala klinis tetapi kurang efektif pada stadium lanjut. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM) Sumber : 1. Manual Penyakit Hewan Mamalia : Theileriasis (wiki.isikhnas.com, diakses 15 Maret 2016)2. Office International des Epizooties. THEILERIOSIS : Aetiology Epidemiology Diagnosis Prevention and Control References (http://www.oie.int/, diakses 17 Maret 2016)3. Yudi.Penyakit Parasit Hewan Kecil (drhyudi.blogspot.com, diakses 16 Maret 2016)