Tikus sawah (Ratus argentiventer) termasuk hama yang relatif sulit dikendalikan. Perkembangbiakan dan mobilitas tikus yang cepat serta daya rusak pada tanaman padi yang cukup tinggi menyebabkan hama tikus selalu menjadi ancaman pada pertanaman padi. Kehilangan akibat serangan tikus sangat besar, karena menyerang tanaman sejak padi di persemaian hingga menjelang panen. Di Indonesia, kehilangan hasil akibat serangan tikus sawah diperkirakan mencapai 200.000 – 300.000 ton per tahun. Berkaitan dengan hal tersebut, maka upaya pengendalian untuk menekan populasi tikus harus dilakukan terus menerus mulai dari saat pratanam hingga menjelang panen dengan menggunakan berbagai teknik secara terpadu. Peran serta dan kerjasama masyarakat / kelompok tani, penentu kebijakan dan tokoh masyarakat juga diperlukan selama proses pengendalian hama tikus.Ciri khas serangan tikus sawah adalah kerusakan tanaman dimulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir, sehingga pada keadaan serangan berat hanya menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan. Namun saat ini serangan hama tikus di Kacamatan Air Hitam khususnya lahan yang terkena banjir juga dimulai dari tepi petakan karena tikus bersembunyi di alur atau pematang sawah. Pengendalian yang dilakukan biasanya dengan cara emposan yaitu melakukan pengasapan di sekitar sarang/ lubang tikus dengan menutup jalan/ lobang tikus. Pengendalian secara kimia biasa dilakukan dengan memasang rodentisida merek klerat yang akan dimakan oleh tikus. (Roni Paslah, SP)