Kelompok Jabatan Fungsional yang disingkat KJF lingkup Bidang Penyuluhan Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Flores Timur - NTT kali ini blusukan ke Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Nusa Tadon Kecamatan Kelubagolit. Tim KJF ini berjumlah 2 orang yakni Bapak Kanisius Bahy, S.ST dan John Ebo, SP. Sejumlah agenda penting yang berkaitan dengan kerja-kerja diBPP menjadi perhatian serius oleh Tim KJF dalam melakukan blusukan ini dengan mengarisbawahi beberapa agenda pokok yakni : Disiplin dalam bekerja Persiapan Penyuluhan bagi seorang penyuluh pertanian Data Kelembagaan Petani seperti : Kelompok Tani dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Posluhdes Programa Desa RKTP Penyuluh dan Kaji Terap BPP Tim KJF ini dikomandani oleh John Ebo, SP selaku Koordinator KJF Penyuluhan Pertanian Kabupeten Flores Timur. Beliau ini yang baru menjabat selama satu bulan dan jabatan sebelumnya adalah Koordinator BPP Adonara Timur merangkap Anggota Tim Penilai Angka Kredit bagi Penyuluh Pertanian. Beliau adalah seorang senior dan memiliki segudang pengalaman dan punya jam terbang yang panjang didunia penyuluhan pertanian dan punya komitmen yang kuat dalam memberikan pelayanan penyuluhan bagi komunitas petani. Keteladanannya juga patut ditiru, pernah menjadi penyuluh pertanian PNS Teladan Tingkat Nasional. Kini mendapat kepercayaan baru sebagai Koordinator KJF Kabuputen, dan dengan posisi baru ini ada harapan dari teman-teman penyuluh diwilayah kecamatan agar perhatian terhadap pembinaan dan motivasi bagi penyuluh terus dilakukan secara berkala disetiap BPP. Dengan melihat agenda yang begitu penting dalam blusukan Tim KJF ke BPP Nusa Tadon, maka sesungguhnya ada peroblem yang serius lingkup BPP Nusa Tadon. BPP Nusa Tadon belakangan ini keberadaanya seperti kerupuk kemasukan angin alias melempem. Kondisi ini tentu tidak baik sebagai sebuah organisasi sah milik pemerintah yang berada dikecamatan dan mempunyai tugas pokok dan fungsi begitu strategis karena melayani masyarakat tani yang notabenenya masyarakat marginal. jika organisasi BPP dibiarkan melempem kelamaan akan berdampak buruk terhadap pelayanan. Berangkat dari sejumlah agenda yang ada ini, bagi penyuluh yang punya komitmen yang kuat terhadap tupoksi dalam pelayanan tentu merasa senang dengan kunjungan yang berkwalitas ini. Mungkin saja blusukan ini juga berkat informasi terkait banyak sorotan terhadap eksistensi BPP Nusa Tadon Kecamatan kelubagolit. Jika mencermati eksistensi BPP Nusa Tadon Kecamatan Kelubagolit belakangan ini rasanya belum merasakan bagaimana BerBPP layaknya organisasi BPP yang sesungguhnya. Bagi penyuluh yang paham tentang tugas pokok dan fungsi BPP, merasa miris dan prihatin terhadap keberadaan BPP Nusa Tadon. Ada beberapa problem yang memicu kondisi BPP Nusa Tadon sangat miris dan memperihatinkan yakni : Buruknya Disiplin dalam bekerja. Contohnya kalau tidak masuk kantor BPP katanya ke lapangan. Ketika Koordinator cek dilapangan tidak ada kegiatan penyuluhan. Cek dikepala Desa, juga sama tidak ada kegiatan. Bahkan untuk masuk kantor saja kadang diminta oleh Koordintaor via telpon untuk masuk kantor tapi tidak muncul juga. Aneh sich..tapi Nyata. Lemahnya leadhersip koordinator BPP dalam mengelolah BPP. 80 % Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) tidak paham tugas pokok dan fungsinya. Contohnya tidak melakukan IPW, tidak melakukan programa desa, data rdkk pupuk subsidi tidak difasilitasi, data kelembagaan pelaku utama tidak sesuai dengan perubahan-perubahan kebijakan terkini, implementasi programa sulit dilakukan, monitoring dan evaluasi bulanan di BPP tidak pernah dilakukan lagi, dan seterusnya. Rumah Jabatan disediakan untuk Koordinator BPP tetapi ditempati oleh PPL, sehingga koordinator yang mestinya menempati Rujab BPP demi pendekatan pelayanan penyuluhan namun koordinator mengalah karena ada permintaan dari PPL untuk tinggal dirujab BPP. Akhirnya koordinator juga selalu datang terlambat ke BPP karena tinggalnya jauh, dan berdampak kepada fungsi pelayanan BPP yang bersifat konsultatif dan administratif. Sementara fungsi rumah dinas adalah untuk menunjang pelayanan penyuluhan pertnian di BPP. Lemahnya Kiprah Penyuluh Pertanian dilapangan karena kurangnya kemampuan verbal dalam mengkomunikasikan informasi dan teknologi pertanian bagi pelaku utama Sistem Kerja BPP yakni Sistem Laku Susi tidak pernah jalan. Kalau PPL tidak masuk kantor koordinator antar absen ke rumah untuk diisi absennya. Laporan Bulanan pasti telat secara rutin bulanan, alias tidak pernah tepat waktu. Tidak pernah melakukan evaluasi secara berkala baik rutin bulanan maupun tri wulanan. Konten Penyusunan Programa Tingkat Kecamatan 80 % datanya kadalwarsa. hal ini diketahui karena saat mengdraf dokumen programa, sulit memperoleh data-data pendukung dari teman-teman penyuluh yang lain akhirnya data-data lama tayang ulang. Ada ketidak adilan dalam merespon situasi. Misalnya kalau ada PPL yang tidak masuk kantor 6 bulan lebih tidak diapa-apain, giliran orang lain tidak masuk hanya karena pergi ikut pelatihan di instansi lain untuk meningkatkan kompetensi pertaniannya dipersoalkan. Pertanyaannya jangan-jangan di BPP Nusa Tadon ada rasisme..??? Kemudian PPL yang tidak masuk 6 bulan lebih daftar hadirnya terisi hadir..pertanyaannya siapa yang isi..hantu yang isi..?? Aneh juga tapi begitu faktanya. Ada gap yang tajam antara input yang diberikan dan output yang dicapai. (misalnya ada penyuluh yang memperoleh input seperti BOP, Perjalanan tetap, Sepeda Motor, Rumah Dinas, Listrik dari Dinas, tetapi Kelompok Binaan tidak pernah naik kelas selama 5 tahun berturut-turut, bahkan penyuluhnya juga tidak pernah naik punya Dupak selama 5 tahun berturut-turut) jika ada regulasi yang menertibkan Penyuluh pertanian seperti ini, maka sebaiknya ditertibkan saja. daripada eksistensinya tidak berkontribusi apa-apa terhadap pekerjaannya sendiri dan organisasi BPP). Memperhatikan aneka problem yang melingkar dilingkaran BPP Nusa Tadon seperti ini, saatnya Tim KJF Penyuluhan Pertanian Kabupaten Flores Timur turun langsung ke jantung pertahanan BPP untuk melakukan shocktheraphy terhadap PPL dilingkup BPP Nusa Tadon terutama dalam membangun etos kerja yang mengarah pada orientasi kinerja dan pelayanan bukan orientasi material. Ada hal hal penting yang disampaikan oleh Pa John Ebo adalah penyuluh pertanian menjadi agen perubahan masyarakat , mencintai pekerjaannya, selain itu penyuluh juga harus mampu hadir sebagai pencipta petani unggulan, punya rasa disiplin yang tinggi, harus mampu membangun kelompok tani agar meningkat kelas kemampuannya secara berjenjang dan terakhir, jadikan 9 indikator penyuluhan pertanian menjadi dasar pijakan bagi proses penyelenggaraan dilapangan. Hasil Blusukan Tim KJF diharapkan mampu merespons problematika diBPP sekaligus dapat meramu ulang personalia di BPP Nusa Tadon jika ingin ada perubahan yang mendasar di BPP Nusa Tadon. Apa tujuan dari perubahan yang diharapkan itu adalah agar BPP kedepannya Lebih Maju, Lebih Modern, Punya Daya Saing, Punya Daya Juang dalam memberikan pelayanan bagi petani. Disadari bahwa keberadaan BPP Nusa Tadon memang disorti oleh banyak pihak baik, masyarakat umum, kelompok tani, aparat desa dan bahkan oleh Camat Kelubagolit sendiri menyoroti secara khusus namun tidak direpons untuk perbaikan dalam bekerja. Dan lebih parah lagi Sang Koordinator BPP minta mundur dari posisi koordinator BPP karena sudah tidak sanggup lagi menangani teman-teman PPL sendiri. Saya sendiri pernah membuat pengamatan terhadapa trend kinerja BPP Nusa Tadon dari tahun ke tahun, tadinya saya berpikir mungkin problemnya adalah ketiadaan anggaran sehingga pekerjaanya kurang menukik. Tetapi setelah ada anggaran juga hasilnya sama, artinya persoalannya bukan dianggaran tetapi di SDM penyuluh. Sebenarnya Ujung dari pelayanan penyuluhan pertanian adalah adanya perubahan pengetahuan, keterampilan dan sikap bagi petani agar petani mampu membuat keputusan dalam membangun usahatani lebih baik, lebih maju dan tentunya lebih sejahtera. Harus disadari bahwa roh kerja penyuluh pertanian adalah seputar pengembangan sumber daya manusia pertanian, khususnya petani - petani dampingan yang diwadahi melalui kelompok tani dampingan. Tantangannya adalah jika PPL tidak memiliki kapasitas yang memadai dalam memberikan pelayanan maka sulit bagi petani atau kelompok tani untuk berkembang. Apalagi saat kini kita sedang berada didunia digital, transformasi teknologi yang kian maju pesatnya dan sulit dibendung bahkan BPP pun mengalami tranformasi menjadi Kostratani, keadaan ini suka atau tidak suka kita telah masuk dalam era pertanian 4.0 atau era IT, jika PPL tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman ini maka akan digilas oleh zaman. Percayalah, Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah Keadaan suatu kaum, Sebelum Kaum itu Sendiri Mengubah Apa Yang ada Pada Diri Mereka (TQS. Ar-Ra’d {13}:11). Penulis : Boro Bebe Riantobi / Penyuluh Pertanian Lapangan / BPP Nusa Tadon