Loading...

TINGGINYA MINAT ABAH KARNADI DALAM MENANAM JAGUNG DI (WKPP) HAURGEULIS BPP KECAMATAN HAURGEULIS KABUPATEN INDRAMAYU

TINGGINYA MINAT ABAH KARNADI DALAM MENANAM JAGUNG DI (WKPP) HAURGEULIS BPP KECAMATAN HAURGEULIS KABUPATEN INDRAMAYU
Pemerintah pada saat ini telah dan sedang menggalakan peningkatan produksi pangan agar mampu berswasembada pangan menuju kedaulatan pangan. Peningkatan produksi ini diprioritaskan diantaranya pada komoditas padi, jagung, kedele, bawang merah,cabe merah, gula, dan daging. Dalam rangka pengembangan komoditas jagung, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Haurgeulis memperoleh kegiatan peningkatan pemberdayaan kelembagaan petani melalui kegiatan Sekolah Lapang (SL) Jagung. Sekolah lapang (SL) adalah proses pembelajaran non formal bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan dan ketrampilan bagi petani. SL ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam pengembangan usahatani, meningkatkan kemampuan dan kesadaran petani dalam memanfaatkan lahan agar lebih produktif dan membangun kemandirian petani dalam pengelolaan sumberdaya lahan secara berkelanjutan. Kegiatan SL komoditas jagung ini dilaksanakan di 5 (lima) WKPP yaitu Haurgeulis, Wanakaya, Haurkolot, Cipancuh dan Mekarjati. Pelaksana SL di WKPP Haurgeulis salah satunya adal;ah Kelompoktani Dewi Ratih I yang diketuai oleh Bapak Jumari dan Sekretaris Abah Karnadi. Pada kegiatan SL ini terdapat juga Laboratorium Lapang (LL) seluas 1 hektar. Namun demikian luas jagung yang ditanam di Kelompok Dewi Ratih I mencapai 7,5 hektar dengan jumlah anggota sebanyak 8 orang. Dari 8 orang yang mengelola tanaman jagung Abah Karnadi lah yang paling luas yaitu 4 hektar. Sedangkan anggota yang lain masing-masing sekitar 0,5 hektar. Dalam mengelola tanaman jagung ini para petani sudah menguasai cara bertanam dan teknologi jagung atas bimbingan Penyuluh Pertanian. Namun menurut Bapak Jumari pengelolaan tanaman jagung ini mengeluarkan biaya yang cukup besar terutama untuk pengairan. Hal ini dikarenakan air irigasi sudah tidak ada dan tidak ada hujan, sehingga mengambil dari air tanah. Biaya untuk pengairan menghabiskan Rp. 100.000,- per malam. Padahal untuk mengairi sawahnya dibutuhkan 3 malam. Sedankan Bapak Abah Karnadi dalam mengairi sawahnya menghabiskan bensin sebanyak 180 liter (@ Rp. 7.500,-) dan 3 orang tenaga kerja. Pengairan tanaman jagung ini hampir seminggu sekali diari. Belum lagi saat mengolah tanah membutuhkan 14 orang dengan upah Rp.80.000,-. Sehingga biaya yang dikeluarkan cukup besar., Walaupun program kegiatan SL jagung ini sudah dimusyawarahkan di BPP namun karena keuangan dari Pemerintah belum terealisasi, sedangkan minat petani sudah menggebu-gebu. Akhirnya para petani membeli benih jagung manis dipasaran secara swadaya. Dari hasil usaha jagung yang ditanam awal saat ini sudah panen, walaupun dari segi produksi masih belum optimal. Harga jagung manis berkisar antara Rp. 4.000,-sampai Rp. 3.000,-per kilogramnya. Minat yang tinggi dari Abah Karnadi untuk menanam jagung diawali dari kegagalan panen padi pada saat musim kemarau/ musim gadu. Tanaman padi yang dikelolanya terserang hama klowor (kerdil rumput), hasil panen padinya dalam satu bau (1 bau = 5/7 ha) hanya menghasilkan 1,4 ton. Bahkan petani tetangganya yang terserang berat hanya mencapai 4 kuintal. Melihat pengalaman tersebut Abah Karnadi ingin mencoba lagi menanan padi untuk ketiga kalinya. Namun dari hasil musyawarah anggota kelompok dan penyuluh pertanian tanam padi tiga kali dilarang, hal ini untuk memutus siklus hama dan sebagai penggantinya ada program SL jagung. Pada awalnya program SL jagung ini kurang mendapat respon dari anggota kelompoknya, karena program kegiatan ini untuk menanam jagung Bahkan menurutnya tidak seperti program alsintan, hampir semua kelompok berminat. Melihat kondisi seperti itu Abah Karnadi berusaha meyakinkan anggota dengan memberikan pinjaman sarana produksi dan alhamdulillah anggota kelompoknya tumbuh semangat untuk menanam. Sehingga dapat menanam jagung seluas 7,5 ha. Menurutnya kalau ada program kegiatan tidak mampu dilaksanakan di wilayahnya sama dengan Penyuluh Pertanian tidak bekerja, karena tidak ada bukti. Oleh karena itu bersama-sama dengan Penyuluh Pertanian Abah Karnadi melaksanakan SL jagung dan mengajak anggota lainnya untuk menanam juga.Abah Karnadi menyarankan untuk tahun yang akan datang In Sya Allah tanaman jagung akan lebih luas, bila sarana produksi yang dibantu pemerintah datangnya tidak terlambat/ tidak telat. Bahkan kalau bisa sebelum Bulan Juni benih jagung dan sarana produksi lainnya sudah ada di tempat, karena panen padi musim gadu biasanya terjadi pada Bulan Juni. Sehingga tidak ada waktu yang terbuang dan biaya produksi bisa dihemat., Semoga semangat Abah Karnadi bisa menular ke petani yang lainnya dan Desa Haurgeulis jadi sentra jagung dimasa yang akan datang. PenulisEDI HARNADIPenyuluh Pertanian MadyaDinas Perttanian Kabupaten Indramayu