[ JAKARTA ] Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mendorong percepatan pelaksanaan perkebunan 2023 dalam menghadapi ancaman krisis pangan global. Menurut Mentan SYL, turbulensi yang sedang terjadi di dunia saat ini akibat pandemi COVID-19, perubahan iklim, dan perang geopolitik yang membuat ancaman krisis pangan global mencuat dapat dimanfaatkan menjadi peluang bagi sektor pertanian Indonesia, khususnya perkebunan, untuk dapat meningkatkan komoditas pertanian dengan nilai tinggi. "Itulah tantangan yang harus dihadapi tapi negara lain pasti butuh kopinya, butuh cokelatnya yang harganya naik. Mereka juga butuh karet. Jadi tidak semua turbulensi, tapi Kementan dibawah Dirjenbun akan berselancar dengan indah di atas gelombang." ujar Mentan SYL. Selanjutnya Mentan SYL berharap Direktorat Pertanian (Ditjenbun) dapat meningkatkan proses hilirisasi untuk meningkatkan nilai komoditas pertanian Indonesia sesuai dengan arahan Wakil Presiden Ma`ruf Amin untuk mengembangkan hulu-hilir pangan lokal. Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa komoditas perkebunan merupakan komoditas yang mengharumkan nama bangsa karena merupakan komoditas ekspor. Komoditas perkebunan harus memenuhi skala ekonomi, luasan tanah perkebunan, kita harus bersaing dengan negara tetangga”. ujar Dedi Nursyamsi. Lebih lanjut Dedi Nursyamsi mengatakan pembangunan pertanian di mulai dari benih dan bibit yang unggul dan juga bibit berkualitas. Sementara itu agenda Ngobrol Asyik (Ngobras) volume 08 dilaksanakan pada Selasa (21/02/2023) di AOR BPPSDMP dengan tema program direktorat jenderal perkebunan tahun 2023, narasumber pada kegiatan tersebut Andi Nur Alamsyah yang merupakan direktur jenderal perkebunan,Kementerian Pertanian. Pada arahan dan pemaparan materinya Andi Nur Alamsyah mengatakan era perkebunan Indonesia dengan menggunakan teknologi dengan ciri penggunaan varietas unggul, efisien, efektif, integratif zero waste, eco friendly,GAP, GHP, kompetitif mekanisasi dan pemanfaatan IoT. Sedangkan Gerakan Peningkatan Produksi Nilai Tambah dan Daya Saing Perkebunan (Grasida) diantaranya melalui Pengembangan Komoditas Berbasis Kawasan, Kawasan Tanaman Tahunan dan Penyegar, Kawasan Tanaman Semusim dan Rempah, Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Pengendalian OPT, Peningkatan Mutu dan Pengembangan Produk Perkebunan”. jelas Andi Nur Alamsyah. Peningkatan produksi dalam skema jangka panjang dilakukan dengan pengadaan logistik benih dan pengembangan kawasan melalui perluasan area, peremajaan, dan rehabilitasi. Sedangkan untuk jangka pendek dilakukan dengan pengembangan wilayah melalui intensifikasi. Peningkatkan produksi dilakukan dengan mengoptimalkan agroinput untuk optimalisasi lahan perkebunan. Kami akan membuat pondasi kuat untuk era baru perkebunan lebih berdikari, berdaulat harus bersama-sama memberi kontribusi besar pada negara melalui komoditas perkebunan yang di ekspor”. imbuh Andi Nur Alamsyah.hvy