Di era globalisasi jumlah populasi manusia semakin meningkat dengan sangat signifikan. Hal ini tentu berpengaruh terhadap kebutuhan pangan yang juga ikut meningkat. Seperti yang kita ketahui bahwa di era globlisasi ini minat masyarakat terhadap pertanian semakin menurun dan jumlah lahan pertanian pun juga ikut menurun. Hal tersebut tidak sebanding dengan pertumbuhan kebutuhan pangan yang semakin meningkat. Di kota madya seperti kota Bandar Lampung, mungkin sudah semakin sulit untuk menemukan lahan persawahan. Walaupun ada tapi tidak seluas lahan di Kabupaten. Oleh sebab itu kota Bandar Lampung sering dianggap sebelah mata untuk potensi pertaniannya. Namun, hal tersebut tak menyurutkan semangat penyuluh pertanian untuk meningkatkan potensi pertanian kota Bandar Lampung ditengah keterbatasan. Saya adalah penyuluh kota Bandar Lampung yang di tugaskan di BPP Tanjung Senang dan memiliki wilayah kerja di 4 keluarahan. Yaitu kelurahan sukarame baru, sukarame, Korpri Raya dan Korpri Raya dengan 9 kelompok Tani dan 1 Kelompok Wanita Tani. Kebanyakan dari komoditas tanaman yang dibudidayakan kelompok kami adalah hortikultura (sayuran dan buah) dan tanaman pangan (jagung, padi dl). Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan yang memiliki nama Ilmiah Capsicum sp. Cabai berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara-negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk negara Indonesia. Tanaman cabai banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya. Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di negara asalnya. Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja, yakni cabaibesar, cabai keriting, cabai rawit dan paprika. Tanaman cabai merupakan salah satu sayuran buah yang memiliki peluang bisnis yang baik. Besarnya kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri menjadikan cabai sebagai komoditas menjanjikan. Permintaan cabai yang tinggi untuk kebutuhan bumbu masakan, industri makanan, dan obat-obatan merupakan potensi untuk meraup keuntungan. Tidak heran jika cabai merupakan komoditas hortikultura yang mengalami fluktuasi harga paling tinggi di Indonesia. Usaha tani tanaman cabe (Capsicum annuum L.) memerlukan modal besar dan keterampilan yang cukup. Tidak jarang petani cabe merugi karena abai memperhitungkan faktor cuaca, fluktuasi harga atau serangan hama dan penyakit. Oleh karena itu, segala resiko dalam budidaya tanaman cabe harus dipertimbangkan secara matang. Serangan hama dan penyakit merupakan salah satu faktor resiko yang cukup besar dalam budidaya cabe. Agar sukses menjalankan usaha tani cabe, ada baiknya kita mengenal jenis-jenis hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman cabe. Bapak Mujito dan Bapak Woko merupakan anggota kelompok tani Rezeki Makmur yang membudidayakan tanaman cabai di lahan luasan ±1 ha. Cabai yang dibudidayakan adalah cabai merah dengan farietas local lampung atau yang sering dikenal dengan Lola. Dengan harapan hasil yang akan maksimal, penyuluh senantiasa mendampingi proses budidaya. Untuk menekan angka kegagalan petani dalam proses budidaya penyuluh senantiasa memberikan saran bersama dengan POPT agar tanaman cabai tidak terserang Hama. Hama pada umumnya menyukai warna yang cerah seperti kuning dan biru laut. Karena itu cara untuk menekan serangan hama adalah dengan cara pembuatan trap atau perangkap hama. Cara pembuatannya pun sangatlah mudah. Petani hanya memerlukan wadah bekas air mineral kemasan gelas, cat berwarna kuning dan biru langit, arjir, dan lem tikus. Pembuatannya pun sangat mudah. Petani hanya men cat bagian dalam wadah bekas air mineral bekas dan memberikan lem tikus di bagian luarnya, kemudian petani tinggal meletakkan trap tersebut di lahan mereka dengan menggunakan arjir sebagai cagaknya. Hari pertama setelah diletakkan dilahan tanaman cabai ada beberapa hama yang terperangkap atau menempel pada perangkap. Jumlah hama yang terperangkap pada hari pertama berkisar antara 15-25 ekor. Hal tersebut merupakan pertanda yang baik karena perangkap sederhana yang digunakan untuk menekan serangan hama bekerja dengan baik dan diharapkan akan terus menekan serangan hama sehingga produktivitas cabai bisa melonjak dengan sangat signifikan. 2 minggu setelah peletakan trap. Penyuluh kembali mengunjungi lahan cabai milik pak Jito dan pak Woko untuk melakukan pengamatan lebih lanjut serta menanyakan kendala atau masalah yang terjadi di lapangan. Hasil dari kunjungan adalah 80 % tanaman tumbuh dengan sehat, namun masih ada beberapa tanaman yang terserang hama Thrips SP yang menyebabkan daun berubah menjadi keriting. Setelah ditinjau lebih jauh, menurut petani hal tersebut sudah sangat baik karena turunnya serangan hama Thrips SP. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat petani untuk senantiasa merawat tanaman agar tumbuh dengan optimal. (Penulis : Hermika Debataraja dan Agus Mutiana)