Kelompoktani (Poktan) sebagai organisasi non formal dapat berperan sebagai mitra kerja penyuluh pertanian dalam melaksanakan kegiatan pembangunan pertanian di perdesaan. Pembangunan pertanian yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pengurus dan anggota poktan untuk mencapai tujuan yang mereka telah tetapkan. Ada dua tujuan akhir yang perlu dicapai yaitu untuk mencapai kesejahteraan di bidang ekonomi dan kesejahteraan bidang sosial kemasyarakatan. Untuk itu pada awal pembentukannya poktan perlu menetapkan berbagai tujuan yang perlu diraih dalam satu kurun waktu tertentu. Tujuan itu perlu dievaluasi pencapaiannya dan diperbaharui setiap tahun. Tujuan dikatakan berhasil dicapai apabila petani sebagai pelaku utama dan/atau sebagai pelaku usaha, beserta keluarganya, telah mengalami perubahan perilaku yang positif dan perubahan kehidupan yang lebih sejahtera dibanding sebelum mereka berkelompok. Dengan kata lain, berbagai perubahan yang diinginkan terjadi oleh anggota poktan, tidak lain adalah merupakan tujuan atau mimpi poktan. Dan tujuan tersebut hanya dapat dicapai melalui tindakan atau pelaksanaan kegiatan. Tujuan dan Perubahan Tujuan kelompok tani adalah segala sesuatu yang ingin dicapai oleh anggota kelompok dalam kurun waktu tertentu. Untuk itu ada tujuan jangka pendek, menengah, dan tujuan jangka panjang. Apabila tujuan poktan telah tercapai, maka indikatornya jika telah terjadi perubahan pada poktan yang bersangkutan. Wujud perubahan itu dapat berupa perilaku yang positif, yang meliputi perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dibandingkan sebelumnya. Perubahan bisa juga berbentuk fisik yang terukur, misalnya produksi hortikultura yang dibudidayakan dan pendapatan petani semakin meningkat. Bisa juga tampak dari sebagian besar anggota poktan telah menyandang titel haji dan hajjah. Tujuan kelompoktani sesungguhnya merupakan "CITA-CITA" atau "MIMPI" nya pengurus dan anggota poktan. Tujuan poktan perlu dirumuskan dan dibuat secara tertulis pada masa awal terbentuknya kelompok. Namun tujuan perlu diperbarui secara berkala seiring dengan berjalannya waktu dan disesuaikan dengan dinamika yang terjadi. Mengapa poktan perlu punya mimpi? Jawabnya, karena mimpi atau cita-cita mempunyai daya motivasi atau daya dorong yang kuat bagi anggota poktan untuk meraihnya. Untuk itu tujuan tidak perlu muluk-muluk dan sukar dilaksanakan, yang penting tujuan harus sederhana, dapat diukur/terukur, dapat dilaksanakan dan dicapai, realistis atau rasional, dan ada target waktu kapan atau berapa lama bisa dicapai. Pada kenyataannya, jarang atau sedikit sekali pengurus poktan yang telah membuat tujuan kelompok. Kalau ditanya apakah poktan punya tujuan, mereka menjawab ada, padahal mungkin belum ada. Kalaupun ada hanya ditetapkan oleh pengurus. Penetapannya juga tidak dengan cara membahasnya secara bersama-sama dengan anggota poktan, dan tujuan tidak dicatat dalam buku kegiatan. Padahal poktan yang baik harus mempunyai tujuan yang jelas, dibuat secara bersama dan ditulis. Karena poktan adalah milik anggotanya, maka sangat bijak apabila tujuan poktan dibicarakan, dibahas, dan dirumuskan oleh pengurus secara transparan bersama-sama seluruh anggota poktan. Selain itu, karena merupakan bagian dari penguatan kapasitas, maka tujuan poktan perlu dibuat setiap tahun dalam suatu pertemuan kelompok. Jika kebiasaan ini dilakukan, maka pengurus telah melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelompok untuk penguatan kapasitas seluruh anggota poktan. Terdapat hubungan yang saling mengisi dan tidak dapat dipisahkan diantara pembelajaran dan penguatan kapasitas anggota poktan. Maksudnya, melalui diskusi dan tanya jawab, anggota bisa saling belajar serta berbagi pengetahuan dan pengalaman, sehingga akan ada peningkatan kapasitas sesama mereka. Kapasitas yang meningkat memang sifatnya abstrak, misalnya anggota poktan berani mengemukakan pendapat, mendebat, dan/atau menerima pendapat pihak lain. Bahkan bisa saja lebih dari itu, anggota dan pengurus merasa memiliki tujuan poktan yang mereka rumuskan bersama, dan akan bertanggungjawab dengan penuh komitmen untuk mewujudkan tujuan. Jika tujuan-tujuan poktan telah dicapai melalui pelaksanaan kegiatan yang terencana dengan baik, berarti secara gradual di kelompoktani telah terjadi perubahan yang diinginkan. Tujuan kelompoktani yang menjadi milik semua anggotanya perlu dicatat dengan benar dan jelas didalam buku non administrasi keuangan kelompok sebagai dokumentasi. Karena tertulis, maka dapat dibaca, dikaji, dievaluasi, dan dibahas kembali oleh setiap anggota poktan. Inilah yang membedakan tujuan kelompok dengan tujuan individu. Tujuan kelompok wajib ditulis dan dicatat dalam buku, sedangkan tujuan individu diserahkan kepada pilihan individunya, mau ditulis atau tidak. Selain dicatat dalam buku administrasi non keuangan poktan, tujuan poktan perlu ditulis dalam kertas besar dan diletakkan di tempat pertemuan poktan. Dengan demikian tujuan tersebut selalu dapat dilhat dan dibaca setiap kali ada pertemuan poktan. Dengan membacanya maka pada waktu yang sama bisa dievaluasi pencapaiannya dan sekaligus bisa dijadikan faktor motivasi anggota untuk berusaha meraihnya. Contoh dari "MIMPI" atau "CITA-CITA" poktan misalnya: 1) Poktan harus sudah memiliki Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Dalam Waktu 5 Tahun, dengan modal Rp 100 juta yang diperolah Dari Usaha Simpan Pinjam dan keuntungan hasil pemasaran bersama produk hortikultura anggota; 2) Produksi hortikultura anggota meningkat rata-rata minimal 10% setiap tahun; 3) Dalam waktu tiga tahun Poktan membentuk Gabungan Kelompoktani untuk meningkatkan pemasaran produk hortikultura, dan 4) Setiap anggota memiliki tabungan khusus di LKM untuk tunaikan ibadah haji. Pelaksanaan Kegiatan sebagai Cara Mewujudkan Cita-Cita Tujuan kelompok yang telah ditetapkan sebagai cita-cita baru bersifat rencana tertulis. Untuk mencapainya harus melalui berbagai kegiatan terencana yang didilaksanakan dalam kurun waktu yang ditetapkan. Dengan kata lain, suatu cita-cita anggota dan pengurus poktan (jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang), baru akan wujud apabila dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan terencana yang relevan dengan mimpi yang akan diraih. Jadi ada dua syarat tercapainya cita-cita kelompok. Pertama perlu ada rencana kegiatan yang relevan dengan tujuan. Kedua, rencana kegiatan dilaksanakan dengan taat azas, berkesinambungan dan penuh komitmen dari seluruh anggota kelompok tani. Dengan kata lain, cita-cita poktan hanya dapat diwujudkan jika rencana kegiatan dilaksanakan. Penulis: Enisar Sangun, Penyuluh Pertanian Madya (e_sangun@yahoo.co.id, 081386333549).