Padi gogo adalah jenis padi yang ditanam di lahan kering. Minat petani untuk membudidayakan padi gogo saat ini sangat rendah dikarenakan varietas-varietas lokal umumnya berumur panjang, potensi hasilnya rendah sekitar 2 ton GKG/ha. Kelebihannya varietas lokal mempunyai rasa enak, toleran terhadap keadaan lahan yang marjinal tahan terhadap beberapa jenis hama dan penyakit, memerlukan sedikit pupuk dan pestisida, serta pemeliharaan mudah dan sederhana. Untuk meningkatkan minat petani membudidayakan padi gogo perlu inovasi dan mengenalkan varietas unggul baru padi gogo yang telah dikembangkan seperti impago 8 yang memiliki umur 119 hari dengan potensi hasil 8,1 t/ha dengan tekstur nasi pulen, ada pula varietas impago 9 yang berumur lebih pendek 109 hari dengan potensi hasil lebih tinggi 8,4 t/ha. Penanaman padi di lorongan karet dapat dilakukan pada tanaman muda yang berumur 2-3 tahun dan tanaman karet yang belum berproduksi selama tajuk pohon masih jarang sehingga tanaman padi masih mendapatkan sinar matahari. Penanaman padi gogo dapat dilakukan secara monokultur dan juga tumpang sari dengan tanaman jagung. Untuk melakukan budidaya kita harus memperhatikan beberapa hal seperti : ketersediaan air, Padi gogo memerlukan air sepanjang pertumbuhannya rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan selama 3 bulan berturut-turut atau 1500-2000 mm/tahun. Di musim hujan, walaupun air melimpah produksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif karena angin dan hujan berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan. Tanaman padi memerlukan penyinaram matahari penuh tanpa naungan, indonesia memiliki lama penyinaran matahari kurang lebih 12 jam sehari dengan intensitas radiasi 350 cal/cm2/hari pada musim penghujan sehingga cocok untuk penanaman padi gogo. Pengolahan lahan, dilakukan sesuai kondisi lahan. Padi gogo dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan kesuburan yang baik, penanaman tanpa olah tanah dapat dilakukan pada struktur tanah yang remah. Penanaman, Untuk melakukan tumpang sari jarak tanam padi gogo adalah 20 cm (antar barisan) x 10 cm (dalam barisan), sedangkan jarak tanam jagung 40 cm (antar barisan) x 12,5 cm (dalam barisan). Sedangkan jarak antara blok padi atau jagung disesuaikan untuk mempermudahkan perawatan dan pemanenan. Penanaman benih padi sebanyak 5-7 biji per lubang, sehingga akan digunakan benih sebanyak 50 kg/ha. Penanaman benih jagung sebanyak 1 biji per lubang, sehingga akan digunakan benih sebanyak 20 kg/ha. Padi gogo ditanam lebih awal dengan selang waktu tiga minggu sebelum penanaman jagung. Pemupukan, Pupuk yang digunakan dalam budidaya padi gogo sebaiknya dikombinasikan antara pupuk organik dan pupuk anorganik. Pemberian pupuk organik (pupuk kandang atau kompos), dapat memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Jenis pupuk anorganik yang diberikan berupa 150-200 kg/ha Urea, 75 kg/ha TSP dan 50 kg/ha KCl. Pupuk TSP dan KCl diberikan saat tanam dan urea pada 3-4 minggu dan 8 minggu setelah tanam. Pupuk urea, TSP maupun KCl sebaiknya diberikan dalam alur atau ditugal kemudian ditutup kembali dengan tanah untuk mencegah kehilangan unsurnya. Pengendalian gulma, Dilakukan secara mekanis dengan cangkul kecil, sabit atau dengan tangan waktu tanaman berumur 3-4 minggu dan 8 minggu. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan pertama dan 1-2 minggu sebelum muncul malai. Panen, Umur panen padi gogo bervariasi tergantung varietas dan lingkungan tumbuh. Panen sebaiknya dilakukan pada fase masak panen yang dicirikan dengan kenampakkan >90% gabah sudah menguning (33-36 hari setelah berbunga), bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah hijau dan kadar air gabah 21-26 %. Panen yang dilakukan setelah fase masak lewat, yaitu pada saat jerami mulai mengering, pangkal mulai patah, dapat mengakibatkan banyak gabah yang rontok saat dipanen. Bila jarak tanam ditata dengan tepat maka hasil dari kombinasi tanaman per satuan luas akan lebih tinggi dari sistem monokultur. Populasi tanaman per hektar pada sistem tumpangsari menggunakan populasi rapat, kurang lebih 250.000 rumpun/ha untuk padi dan 100.000 batang/ha untuk jagung. Pola tanam tumpang sari juga meningkatkan produktifitas penggunaan lahan dan berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan petani. Minat petani yang lebih memilih menanam singkong karena perawatannya lebih mudah dan hasil yang didapat bisa lebih tinggi menjadi tantangan dalam mewujudkan kesuksesan budidaya padi gogo. Dibutuhkan pendekatan yang terus menerus agar minat petani untuk menanam padi gogo meningkat sehingga program pemerintah untuk swasembada pangan cepat terwujud. (Penulis : Dedy Kurniawan, Penyuluh Pertanian desa Sri Jaya BPP Sungkai Jaya) Sumber referensi : balitsereal.litbang.pertanian.go.id