Loading...

TUMPANGSARI JAGUNG DAN KARET

TUMPANGSARI JAGUNG DAN KARET
Tanaman jagung (Zea mays L) merupakan salah satu tanaman yang boleh dikatakan terkenal di negara kita. Jagung sangat digemari oleh semua orang dari pelbagai lapisan masyarakat. Pelbagai cara jagung ini di makan diantaranya di rebus, dijadikan bubur, atau di makan tongkol mudanya atau baby corn sebagai campuran dalam sayur. Tanaman jagung ini sudah lama dan diusahakan oleh petani di Indonesia yang merupakan tanaman pokok kedua setelah padi. Kebutuhan jagung dalam negeri selalu meningkat dari tahun ke tahun. Meningkatnya permintaan akan jagung disebabkan banyaknya permintaan untuk pakan, pangan, dan industri. Sebagai tanaman palawija, jagung cocok diusahakan dalam gawangan karet sebelum berproduksi, karena tanaman jagung mempunyai siat fisiologis dan anatomis yang sesuai diusahakan pada gawangan karet.Jagung merupakan tanaman berumah satu tanaman di mana letak bunga jantan terpisah dengan bunga betina pada tanaman satu tanaman. Suhu optimal bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah 24 – 30 0C dan curah hujan yang dikehendaki jagung agar dapat tumbuh dan berproduksi baik adalah 200 mm/bln, terutama saat pertumbuhan dan pembungaan dan pengisian biji. Varietas jagung akan di tanam dalam gawangan karet adalah adalah jagung dengan sifat toleran pada pH rendah. Hal ini diperlukan karena umumnya karet di tanam pada PMK yang miskin unsur hara dan tinggi Al dan Fe yang dapat menghambat pertumbuhan dan produksi tanaman. Jenis jagung tersebut bisa jagung Hibrida bisa juga jagung komposit. Jagung Hibrida seperti C7, Pioner, dan jagung komposit seperti Sukmaraga, Arjuna, dan Bisma.Jarak tanam jagung 80 x 20 cm, sehingga dalam satu gawangan karet terdapat 6 baris tanaman jagung atau dengan populasi sekitar 50.000 tanaman/ha. Jarak barisan jagung terluar dengan tanaman karet adalah 1 m. Penanaman dilakukan dengan cara tugal pada kedalaman 2-3 cm satu biji/lubang tanam. Jumlah benih 12 kg/ha. Pemupukan menggunakan Urea 150 kg/ha, SP-36 100 kg/ha dan KCl 100 kg/ha. Penyiangan dan pembumbunan dilakukan pada umur 4 minggu setelah tanam. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan pemberian insektisida dan fungisida. Apabila curah hujan kurang atau terjadi kekeringan sebaiknya menggunakan mulsa. Peranan mulsa bagi tanaman semusim di daerah lahan kering beriklim basah adalah sangat penting seperti untuk mencegah erosi, mengurangi kehilangan air melalui evaposari, menambah bahan organik tanah yang sangat penting di tanah PMK, dan menghambat pertumbuhan gulma. Pamanfaatan oleh tanah konservasi pada tumpangsari berbasis karet dapat dilakukan dengan cara menyiapkan lahan sedini mungkin menjelang musim tanam. Gulma yang tumbuh di atas lahan di semprot dua minggu sebelum tanam dengan herbsida yang mudah terdekomposisi dan tidak menimbulkan kerusakan tanah dan sumberdaya lingkungan lainnya. Jika herbisida yang digunakan memakai teknologi supratec maka kematian gulma dapat dipercepat empat hari sampai satu minggu setelah aplikasi. Pengolahan tanah dapat dilakukan secara minimal, misalnya di bajak dan di garu masing-masing sekali atau pengolahan tanah hanya pada barisan tanam, atau tanpa olah tanah sama sekali, disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan diusahakan sebagai tanaman sela. Penanaman tanaman pangan seperti padi, jagung, kedelai, kacang tunggak dilakukan setelah gulma yang di semprot dengan herbisida mati secara merata. Secara teknis tanaman tumpangsari yang dipelihara secara intensif akan sangat membantu tanaman karet. Tanaman tumpangsari yang banyak memakai input produksi berupa pupuk kandang atau bahkan organik lainnya, seperti pada budidaya cabe dan semangka akan sangat berguna dalam memperbaiki struktur dan sifat kimia tanah. Kondisi antara penggunaan pupuk kandang dan pupuk organik pada lahan podsolik merah kuning mendorong pesatnya pertumbuhan bagi tanaman tumpangsari maupun tanaman karet.Teknologi tanaman sela atau tumpangsari di antara tanaman karet akan memberikan manfaat : (1) efisiensi pemanfaatan hara tanaman, air dan cahaya ,(2) memperkecil peluang serangan hama dan penyakit tanaman, (3) mengurangi resiko kegagalan panen, ketidakpastian dan fluktuasi harga, (4) pemeliharaan kebun lebih intensif, meningkatkan produktifitas lahan, (5) membantu percepatan peremajaan karet (petani tidak kehilangan sumber pendapatan), dan (6) mendistribusikan sumberdaya secara optimal dan merata sepanjang tahun serta menambah peluang lapangan kerja, termasuk tenaga kerja wanita/gender.Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP)Alamat Email : harnati_r@yahoo.comSumber Bacaan :1. Adri dan Firdaus. 2007. Analisis Finansial Tumpangsari Jagung Pada Perkebunan Karet Rakyat. BPTP Jambi.2. http://tanomkinotuan.blogspot.co.id/2014/11/panduan - dan - cara - menanam-benih-jagung.html3. Sumber gambar berasal dari jambi.litbang.pertanian.go.id