Loading...

Ubi Jalar Sebagai Komoditi Alternatif Pengganti Padi

Ubi Jalar Sebagai Komoditi Alternatif Pengganti Padi
Makanan pokok untuk masyarakat idealnya bersumber dari bahan baku lokal, agar biaya transportasinya dapat ditekan. Saat ini, masyarakat Indonesia yang hidup di daerah tropis dimana gandum sulit bisa tumbuh, menjadi pemakan mie dari gandum terbesar setelah RRC. Sebenarnya begitu banyak jenis umbi-umbian lainnya selain gandum yang bisa tumbuh dengan baik di Indonesia dan bisa menjadi alternatif menuju ketahanan pangan. Ubi jalar merupakan salah satu dari 20 jenis pangan yang berfungsi sebagai sumber karbohidrat. Ubi jalar bisa menjadi salah satu alternatif untuk mendampingi beras menuju ketahanan pangan.Di antara bahan pangan sumber karbohidrat, ubi jalar memiliki keunggulan dan keuntungan yang sangat tinggi bagi masyarakat Indonesia, berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:1. Ubi jalar mudah diproduksi pada berbagai lahan 2. Kandungan kalori per 100 g cukup tinggi, yaitu 123 kal dan dapat memberikan rasa kenyang dalam jumlah yang relatif sedikit3. Cara penyajian hidangan ubi jalar mudah, praktis dan sangat beragam, serta serasi (compatible) dengan makanan lain yang dihidangkan.4. Harga per unit-hidang murah dan bahan mudah diperoleh di pasar lokal.5. Dapat berfungsi dengan baik sebagai substitusi dan suplementasi makanan sumber karbohidrat tradisional nasi beras.6. Bukan jenis makanan baru dan telah dikenal secara turun temurun oleh masyarakat Indonesia.7. Rasa dan teksturnya sangat beragam, sehingga dapat dipilih yang paling sesuai dengan selera konsumen.8. Mengandung vitamin dan mineral yang cukup tinggi sehingga layak dinilai sebagai golongan bahan pangan sehat.Budidaya ubi jalar ungu merupakan pilihan yang tepat untuk bercocok tanam karena cukup mudah dalam perawatannya dan tidak tergantung musim dalam penanamannya. Selain itu, peluang usaha budidaya ubi jalar ungu masih menjadi peluang besar karena semakin banyaknya kebutuhan bahan makanan dari umbi-umbian terutama umbi ungu untuk diproduksi menjadi berbagai macam olahan bahan pangan. Kebutuhan biaya untuk perawatan tanaman ubi jalar jauh lebih sedikit dan menghasilkan keuntungan / profit yang jauh lebih tinggi dibandingkan buah dan tanaman lain seperti tebu, padi dan kedelai. Tanaman ubi jalar sangat tahan terhadap kondisi kering (jenis tanaman xerofit) pada musim kemarau dan bisa tetap hidup tanpa disiram dalam waktu yang cukup lama. Meskipun begitu, perawatan yang baik akan disampaikan pada pembahasan budidaya tanaman ubi jalar yang baik dan benar agar menghasilkan ubi yang besar dan melimpah. Produktivitas ubi jalar cukup tinggi dibandingkan dengan beras maupun ubi kayu. Ubi jalar dengan masa panen 4 bulan dapat berproduksi lebih dari 30 ton/Ha, tergantung dari bibit, sifat tanah dan pemeliharaannya. Walaupun saat ini rata-rata produktivitas ubi jalar nasional baru mencapai 12 ton/Ha. Tetapi masih lebih besar, jika kita bandingkan dengan produktivitas gabah (+/-4.5 ton/Ha) atau ubi kayu (+/-8 ton/Ha), padahal masa panen lebih lama dari masa panen ubi jalar.Subak pekarangan kabetan, Desa Bakbakan, Kec. Gianyar, Kab. Gianyar, Bali merupakan salah satu Kelompok Tani yang telah mengusahakan tanaman ubi jalar sebagai komoditi alternatif selain tanaman padi, sebagai solusi untuk dapat tetap mengusahakan lahan pertanian dengan kecilnya debit air di wilayah ini. Pola Tanam padi-kedele –ubi jalar diterapkan di kawasan subak yang memiliki luas 76 hektar. Rata –rata hasil produksi ubi jalar di daerah ini adalah 17 ton/ha. Dengan kisaran harga Rp. 1500-Rp. 2.000/ kg petani dapat memperoleh penerimaaan Rp. 25.500.000- Rp34.000.000 per hektar. Dengan biaya yang relatif rendah serta pemeliharaan yang sederhana usaha budidaya ubi jalar di wilayah ini menjadi komoditi andalan selain komoditi padi. Penulis : Ni Nyoman Apriani, SP NIP. 198704272015032001 PPL WKPP Desa Bakbakan, Kec. Gianyar, Kab. Gianyar