Pemandangan yang berbeda tampak di sawah milik Suparno (42), petani yang merangkap jabatan sebagai Sekretaris Kelompoktani Sri Utami dan Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) Desa Sokanegara, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga pada pagi hari Minggu, 11 Desember 2016. Tua dan muda berbaur menyaksikan pengoperasian rice transplanter untuk pertama kalinya di Sokanegara. Satu unit rice transplanter itu merupakan bantuan alsintan hasil pengadaan APBN-P Tahun 2016 yang diterima oleh Gapoktan Bumi Makmur Desa Sokanegara pada tanggal 1 November 2016. Di antara kerumunan orang banyak, dua pemuda tampak antusias menyaksikan pengoperasian rice transplanter. Mereka adalah Gilar Pamungkas (17) dan Tois Setiawan (16), pelajar SMA Negeri 1 Kejobong sekaligus aktivis taruna tani Kecamatan Kejobong. Setelah mencoba menjalankan transplanter, Pamungkas berkomentar, "Ini pengalaman yang menarik, asyik, dan menyenangkan. Petani senior seharusnya bisa menerima kemajuan teknologi, sementara para pemuda perlu diberi penyuluhan supaya mereka tidak menjauh dari pertanian." Setiawan menambahkan, "Rice transplanter ini bagus, lebih efisien dan hemat waktu. Petani sekarang tidak usah khawatir bengkek." Suparno pun tidak kalah antusias. Sawahnya direlakan menjadi lokasi uji coba rice transplanter. "Tidak apa-apa, ini untuk belajar," kata Suparno menanggapi kondisi sawahnya yang acak-acakan karena ketidakteraturan laju transplanter. Sejumlah orang bergiliran mencoba mengoperasikan rice transplanter, namun belum semuanya mampu mengendalikan laju transplanter. Gerakan maju maupun mundur yang tidak lurus dan sejajar, menyebabkan banyak bibit padi tertanam asal-asalan, bahkan ada yang sampai terlindas. Tak jarang tawa menggelegak di sela keseriusan pengoperasian rice transplanter. Alsintan baru itu memberikan pengalaman lucu sepanjang uji coba perdana, tidak sekadar menimbulkan rasa penasaran di benak para petani. Mereka menertawakan berbagai kesalahan pengoperasian yang diakibatkan oleh minimnya pengetahuan dan keterampilan. Ada yang kerepotan mengendalikan alat, terlambat menggeser tuas, kesulitan membelokkan transplanter, kehilangan fokus pandang, juga tidak sengaja menginjak barisan tanaman. Pengoperasian rice transplanter ternyata tidak semudah yang dibayangkan oleh petani. Para petani membutuhkan proses untuk beradaptasi dengan alsintan baru. Penyuluh pun perlu meyakinkan para petani agar mereka mau menerima inovasi, tidak terpuruk sebagai kaum yang gagap teknologi. Mereka tidak boleh canggung menghadapi tren mekanisasi pertanian. Alah bisa karena biasa. Para petani hendaknya rajin berlatih mengoperasikan rice transplanter dan belajar memahami seluk-beluk alat, termasuk fungsi, cara kerja, dan persoalan setiap bagiannya. Inisiatif Kepala Desa Sokanegara, Adi Suseno, dan Ketua Gapoktan Bumi Makmur, Heri Akhmadi, untuk menyelenggarakan pelatihan mandiri bagi para petani Sokanegara patut diapresiasi. Sebelum pelatihan resmi untuk operator rice transplanter diadakan oleh Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan (Dintanbunhut) Kabupaten Purbalingga, pelatihan mandiri berlangsung di Desa Sokanegara dengan menggandeng petani sekaligus PPS Desa Karangnangka-Bukateja, Saryo (36), yang telah lebih dahulu mengenal serta menggunakan rice transplanter. Saryo mau terlibat setelah melihat kesungguhan petani Desa Sokanegara untuk memanfaatkan alsintan bantuan pemerintah. "Banyak desa yang menerima rice transplanter, tetapi alat itu cuma jadi pajangan," ungkap Saryo. Padahal pemerintah telah memberikan alsintan yang sangat berguna untuk mengurangi biaya produksi. Saryo mendorong petani Sokanegara agar semakin giat mempelajari alsintan baru dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Para petani diharapkan bersemangat untuk mengembangkan sumber daya manusia penggerak sektor pertanian. Selain menunjukkan cara pengoperasian rice transplanter, Saryo juga mendampingi petani dalam menyiapkan pesemaian khusus. Benih padi disemaikan di dalam baki pembibitan (nursery tray) untuk menghasilkan sediaan bibit yang dapat ditanam dengan menggunakan rice transplanter. Ibu-ibu yang biasa menjadi jurutanam padi diberi pelatihan cara membuat pesemaian sehingga mereka tidak khawatir kehilangan pekerjaan setelah rice transplanter digunakan secara luas di Desa Sokanegara. Keberadaan alsintan baru harus disadari sebagai alat bantu yang mumpuni, bukan musuh yang menggusur aktivitas padat karya petani. *Penulis: F. Sekar P. S.