Tanah dengan pH terlalu rendah (masam) cenderung mengikat unsur hara seperti fosfor sehingga tidak tersedia bagi tanaman, sementara pH terlalu tinggi dapat mengurangi ketersediaan unsur mikro. Oleh karena itu, pH tanah ideal untuk padi berkisar antara 5,5–6,5, di mana unsur hara makro dan mikro dapat diserap secara optimal.
Dalam penelitian pemetaan status hara di Pamulihan, selain nitrogen, fosfor, dan kalium, uji cepat PUTS juga memperlihatkan variasi pH antar petak sawah. Beberapa lokasi menunjukkan pH mendekati batas bawah (masam), sehingga direkomendasikan penggunaan kapur pertanian (dolomit) untuk menetralkan tanah. Lokasi lain memiliki pH mendekati netral, yang relatif lebih baik untuk pertumbuhan padi. Kondisi ini menegaskan bahwa pengelolaan lahan harus disesuaikan dengan hasil uji pH setempat, bukan hanya mengandalkan pola pemupukan umum.
Selain itu, pemantauan pH tanah dengan teknologi sensor juga mulai diterapkan. Sistem berbasis Internet of Things (IoT) memungkinkan petani memantau pH secara real-time, sehingga dapat segera menyesuaikan dosis pupuk atau bahan amelioran. Hal ini membantu meningkatkan efisiensi pemupukan dan mengurangi risiko penurunan hasil akibat ketidaksesuaian kondisi tanah.
Secara keseluruhan, uji pH tanah di Kecamatan Pamulihan menegaskan bahwa variasi kondisi tanah antar lokasi cukup signifikan. Rekomendasi utama adalah penerapan pemupukan berimbang, penggunaan kapur pertanian pada lahan masam, serta pemantauan rutin pH tanah agar produktivitas padi tetap optimal.