Ramai petani berkumpul untuk menyaksikan pembuktian bahwa sistem pola tanam yang mereka ingin adopsi, yaitu sistem pola tanam SRI, benar-benar ramah terhadap lingkungan. Sehingga pertemuan rutin Kelompoktani Raudhah Nagari Cupak Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok yang difasilitasi oleh penyuluh saat itu cukup menarik untuk mereka ikuti. System of Rice Intensification (SRI) merupakan sistem intensifikasi budidaya padi yang semakin gencar disosialisasikan ditingkat petani. Sistem tersebut, di Sumatera Barat diistilahkan dengan Padi Tanam Sebatang (PTS), lebih menonjolkan pola pendekatan alami dalam pengelolaan tanaman padi. Tidak seperti pola pengelolaan saat ini yang dominansinya dilingkup kimiawi dan lebih cenderung merusak lingkungan. Sehingga cukup menarik untuk dilakukan pengujian sebagai pembuktian bahwa SRI memang lebih ramah lingkungan. Acara yang diadakan pada tanggal 18 Juni 2014 yang lalu, disamping dihadiri oleh seluruh anggota Poktan Raudhah, juga dihadiri oleh perwakilan Kelompoktani Sepakat. Hadir sebagai pemateri adalah Bapak Marjulis, S.PKP (Penyuluh Pertanian Madya), yang tentunya didampingi oleh penyuluh nagari setempat, Ibu Eli Marni. Dalam pemaparannya, pemateri menyampaikan bahwa SRI bertujuan untuk meningkatkan produksi disamping lebih ramah lingkungan. Hal tersebut menjadi penting, mengingat sebelumnya petani lebih memforsir lahan seperti dalam proses penanaman tanpa bera, penggenangan lahan dan pembakaran jerami setelah panen. Sehingga harus dipahami tentang tanah seperti tentang kesuburan. Perlu diketahui setiap panen tanah kehilangan saripati sekitar 15 ton akibatnya biota tanah mati. Setiap 1 ton mengandung 7 kg Nitrogen, sementara 100 kg urea mengandung N hanya 45 kg. Paparan selanjutnya beliau menyampaikan bahwa tanaman akan dapat tumbuh subur jika didalam media tanamnya tersedia cukup hara. Ternyata satu-satunya asupan dalam media tanam yang mengandung hara yang banyak adalah bahan organik, cenderung mengalahkan asupan dari bahan kimia. Hal itu menurut beliau yang menjadikan sistem SRI lebih meningkat produksinya dinading dengan pola tanam kimiawi. Hal yang dapat dibuktikan antara lain dengan membandingkan kandungan nutrisi tanah. Prinsipnya adalah air yang mengandung mineral akan dapat menghantarkan arus listrik. Dari hasil pengujian nampak bahwa air kelapa dan urin sapi menjadikan lampu dapat menyala terang, termasuk bahan organik yang lain seperti cangkang telur, titonia, labu kayu, mol keong, tembakau dan bunga kotoran ayam serta tulang. Sementara air yang didalamnya dilarutkan pupuk kimia urea justru memperlihatkan lampu tidak menyala sama sekali. Artinya bahan organik mengandung mineral, sedangkan bahan kimia tidak.