[JAKARTA] Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, dampak perubahan iklim menjadi tanggung jawab bersama. Untuk itu, Amran meminta jajarannya agar terus bersinergi dengan berbagai pihak terkait demi memitigasi dampak perubahan iklim yang begitu ekstrem, khususnya di sektor pertanian maupun perkebunan. ``Kami mengimbau kepada sahabat petani seluruh Indonesia, jangan melakukan pembakaran pada penyiapan lahan perkebunan,” katanya. Amran optimistis, produksi pertanian akan bertahan, bahkan meningkat pada 2024 meski menghadapi tantangan perubahan iklim. Senada disampaikan Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti yang mengatakan perubahan iklim merupakan tantangan besar yang dihadapi sektor pertanian, termasuk subsektor perkebunan. Tanaman perkebunan, baik semusim maupun tahunan, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, dan peningkatan frekuensi kejadian cuaca ekstrem”.jelas Ka Badan. Kepala BPPSDMP juga mengatakan perlu adanya upaya yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengatasi dampak perubahan iklim demi menjaga produktivitas dan kualitas tanaman perkebunan. Sementara itu narasumber Ngobrol Asyik (Ngobras) volume 35, yang di laksanakan Selasa (22/10/2024) Jakup Ginting, yang merupakan Ketua Kelompok Substansi Tanaman Semusim dan Tahunan, Ditjen Perkebunan mengatakan posisi sektor pertanian dalam perubahan iklim adalah sebagai korban dari perubahan iklim, sebagai sumber emisi, namun berpeluang memberi kontribusi dalam penurunan emisi (sekuestrasi). Adanya ancaman secara tidak langsung akibat perubahan iklim, terjadi dikarenakan terdapat keragaman pola dan jumlah curah hujan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya di Indonesia, terdapat perubahan pola curah hujan antara tahun di beberapa lokasi di Indonesia, fenomena cuaca yang tidak menentu banjir, kekeringan, serangan OPT berakibat kerusakan tanaman,ddegradasi sumberdaya lahan pertanian penurunan produktivitas lahan ketahanan pangan”. jelasnya. Jakup Ginting menambahkan antisipasi perubahan iklim diantaranya demplot Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim, desa Pertanian Organik berbasis Komoditas Perkebunan, pengendalian OPT melalui Agen Pengendali Hayati dan Pestisida Nabati, brigade Karlabun dan KTPA Sikarla Padam dan Sirami Kebunku, serfitikasi Climate Friendly Farming (CFE). Adapun harapan ke depannya adanya penguatan ketahanan petani, inovasi dan teknologi serta kerjasama multisektor”.pungkasnya.hvy