Beras masih merupakan bahan pokok utama untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia. Kebutuhan negara Indonesia akan beras ini semakin hari terasa semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Sedangkan di sisi lain, produksi beras dalam negeri masih harus terus ditingkatkan untuk memenuhinya secara keseluruhan. Oleh karena itu, diperlukan kerja keras semua pihak yang terkait, para pemangku kepentingan baik sebagai pelaku utama maupun pelaku usaha, untuk saling bahu membahu meningkatkan produktivitasnya sehingga tercapai tujuan yang diinginkan bersama yaitu surplus beras melalui swasembada pangan dan swasembada berkelanjutan. Selain itu, sebagai faktor pendukung sampingannya, juga diharapkan terjadinya peningkatan diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor, serta pada akhirnya peningkatan kesejahteraan petani itu sendiri. Untuk mewujudkan harapan yang sudah digariskan tersebut tentu saja tidaklah mudah, seperti halnya membalikkan telapak tangan. Tetapi, kita pasti terlebih dahulu akan dihadapkan dengan berbagai macam permasalahan dan tantangan. Namun demikian, yakinilah bahwa segala rintangan tersebut akan dapat teratasi apabila disikapi dengan baik, dihadapi dengan kebersamaan dan diantisipasi lebih dini. Kendala yang sering dihadapi dalam usaha peningkatan produksi padi, semakin lama semakin kompleks. Diantara kendalanya adalah adanya berbagai perubahan dan perkembangan lingkungan strategis di luar sektor pertanian itu sendiri. Perubahan dan perkembangan ini tentu saja ikut memberikan pengaruh yang besar. Tantangan utama yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi padi antara lain adalah : 1). Meningkatnya permintaan beras seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, 2). Masih terbatasnya ketersediaan beras dunia, dan 3). Adanya kecenderungan meningkatnya harga pangan. Dengan tantangan tersebut, apakah akan menguntungkan bagi petani atau justru merugikan dan apa dampaknya dengan peningkatan produksi ? Ya jelaslah, petani tentu saja akan diuntungkan. Mereka semakin bersemangat untuk meningkatkan terus produksinya. Sebab, berapa pun hasil produksi padinya maka pasar akan siap menyerapnya. Dan, yang lebih menguntungkan lagi adalah soal harga. Dengan kecenderungan meningkatnya harga pangan maka hasil penjualan gabah atau beras akan lebih besar dan dapat menutupi biaya produksi yang telah dikeluarkan serta sisanya berupa keuntungan yang dapat dinikmati untuk kebutuhan keluarga mereka. Selain tantangan sebagaimana disebutkan di atas, upaya peningkatan produksi padi juga masih dihadapkan dengan sejumlah permasalahan klasik yang sebagian besar sebenarnya sudah ada sejak lama. Diantaranya adalah : 1). Meningkatnya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global, 2). Terbatasnya ketersediaan infrastruktur, 3). Belum optimalnya sistem perbenihan nasional, 4). Terbatasnya akses petani terhadap permodalan dan masih tingginya suku bunga usaha tani, 5). Masih lemahnya kapasitas kelembagaan petani dan penyuluh, 6). Meningkatnya secara tidak terkendali alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan non pertanian, serta 7) Masih kurang harmonisnya koordinasi kerja antar sektor terkait dalam pembangunan pertanian. Disamping itu, pembangunan pertanian selama ini masih berjalan dan dilaksanakan tersekat-sekat oleh batasan urusan administratif serta berorientasi pada kegiatan-kegiatan yang tidak mampu menjadi faktor pengungkit untuk pencapaian sasaran pembangunan pertanian. Seperti biasanya, dibalik sebuah tantangan pasti terdapat juga sebuah peluang. Demikian juga halnya dengan permasalahan yang dihadapi dalam upaya peningatan produksi padi ini. Peluang tersebut, yang apabila dimanfaatkan dengan baik, akan memberikan kontribusi dan memuluskan upaya peningkatan produksi. Peluang dimaksud antara lain : 1). Masih ada kesenjangan hasil antara potensi dan kondisi di lapangan yang masih tinggi, 2). Tersedianya teknologi untuk meningkatkan produktivitas itu sendiri, 3). Terdapatnya Potensi sumberdaya lahan sawah, rawa/lebak, lahan kering (perkebunan, kehutanan) yang masih luas, 4). Pengetahuan/Keterampilan SDM (Petani, Penyuluh/PPL, POPT, Pengawas Benih Tanaman/PBT, dan Petugas Pertanian Lainnya) masih dapat dikembangkan, 5). Tersedianya potensi pengembangan produksi berbagai pangan pilihan selain beras, 6). Adanya Dukungan yang penuh dari Pemerintah Daerah dan 7). Ketersediaan sumber genetik. Dengan sekian banyak peluang yang ada diharapkan tentunya tidak disia-siakan begitu saja. Semua pihak yang terkait harus mau dan mampu mengelolanya secara bersama-sama sehingga apa yang di harapkan tidak hanya sekedar sebuah impian, akan tetapi berwujud menjadi kenyataan. Semoga... (Inang Sariati) Sumber:1. Pedoman Teknis GP-PTT Padi 2015,Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian2. http://tanamanpangan.pertanian.go.id/berita-upaya-strategis-dalam-menyikapi-target-produksi-pertanian3. https://www.google.com/search? =benih+padi