Untuk mencapai swasembada berkelanjutan beras, salah satu langkahnyanya adalah dengan Program IP.padi 400. Program tersebut dapat ditempuh dengan dua strategi yaitu rekayasa teknologi dan rekayasa social untuk optimalisasi ruang dan waktu sehingga indeks pertanaman dapat dimaksimalkan. Dalam pengembangan Indeks pertanaman empat kali padi setahun, layak dilakukan dengan beberapa syarat keharusan: (a) aspek teknis meliputi penggunaan varietas padi sangat genjah (VUSG), teknik persemaian "culikan", penggunaan alsintan, introduksi alat dekomposer dan monitoring hama penyakit; (b) aspek ekonomis meliputi efisiensi biaya produksi, tingkat produksi dan pendapatan lebih tinggi dari eksisting, mengoptimalkan kelompok panen dan kelompok tanam serta upaya stabilitas harga gabah; dan (c) aspek kelembagaan meliputi mengoptimalkan kelompok tani, dukungan lembaga keuangan mikro, penyediaan teknologi yang dibutuhkan dan dukungan kebijakan pemerintah. Sepanjang kondisi ideal belum bisa terrealisasi, maka IP Padi 300 lebih layak untuk dikembangkan daripada IP Padi 400. Program ini dapat dijadikan alternative terobosan kebijakan mendorong peningkatan produksi beras nasional. Namun demikian tidak hanya itu saja yang dapat miningkatkan IP dari IP padi 200 menjadi IP padi 400. Di Wilayah irigasi teknis , terutama pada golongan air I dan II merupakan salah satu terobosan dalam peningkatan produksi padi, meskipun dalam implementasinya dihadapkan kepada banyak kendala. Keberhasilan peningkatan intensitas tanam dsangat ditentukan oleh kondisi infrastruktur jaringan irigasi, pasokan airyang relative terjamin, bukan wilayah rawan kekeringan /kebanjiran atau endemic hama/penyakit dan kinerja kelembagaan social /ekonomi petani. Budidaya padi sawah dengan pendekatan PTT dan SRI bersifat spesifik lokasi dan parsial. Model budidaya PTT dan SRI dapat menghemat penggunaan air irigasi sampai 50% disbanding cara petani , meskipun hasil gabah sangat beragam. Adopsi SRI terutama pada daerah irigasi sederhana atau setengah, sedangkan model PTT lebih berhasil di wilayah irigasi teknis. Inovasi teknologi IP padi 400 merupakan penggunaan lahan secara intensif dengan menerapkan pergiliran varietas berumur genjah dan sangat genjah, berdayahasil tinggi, toleran kekeringan, cekaman biotic, dan hemat pupuk. Faktor kebiasaan petani kiranya perlu diubah secara bertahap agar lebih efektif dalam pengelolaan sumber daya dan input produksi. Pengairan dengan metode alternatif basah kering atau intermittent dengan menggunakan alat ukur berupa paralon dinding berlobang merupakan langkah operasional dalam meningkatkan efisiensi penggunaan air pada pertanaman padi sawah oleh petanidi tingkat tersier. Metode ini tampaknya cukup efektif menerapkan IP padi 400. Pengairan dengan metode alternative basah kering mampu menghemat air 1000-3000 m3/ha/musim dan secara konsisten meningkatkan efisiensi produksi, baik pada musim kemarau maupun musim hujan.Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menaikan IP padi menjadi 400, yang harus dilakukan berikut: (a) aspek teknis meliputi penggunaan varietas padi sangat genjah (VUSG), teknik persemaian "culikan", penggunaan alsintan, introduksi alat dekomposer dan monitoring hama penyakit; (b) aspek ekonomis meliputi efisiensi biaya produksi, tingkat produksi dan pendapatan lebih tinggi dari eksisting, mengoptimalkan kelompok panen dan kelompok tanam serta upaya stabilitas harga gabah; dan (c) aspek kelembagaan meliputi mengoptimalkan kelompok tani, dukungan lembaga keuangan mikro, penyediaan teknologi yang dibutuhkan dan dukungan kebijakan pemerintah. Sepanjang kondisi ideal belum bisa terrealisasi, maka IP Padi 300 lebih layak untuk dikembangkan daripada IP Padi 400.Namun demikian bisa juga ditempuh denganmemperhatikan infrastruktur jaringan irigasi, pasokan air yang relative terjamin, bukan wilayah rawan kekeringan /kebanjiran atau endemik hama/penyakit dan kinerja kelembagaan social /ekonomi petani, menerapkan pergiliran varietas berumur genjah dan sangat genjah, berdayahasil tinggi, toleran kekeringan, cekaman biotic, dan hemat pupuk. Model budidaya PTT dan SRI dapat menghemat penggunaan air irigasi sampai 50% dibanding cara petani, meskipun hasil gabah sangat beragam. Adopsi SRI terutama pada daerah irigasi sederhana atau setengah, sedangkan model PTT lebih berhasil di wilayah irigasi teknis. Pengairan dengan metode alternatif basah kering atau intermittent dengan menggunakan alat ukur berupa paralon dinding berlobang. Metode ini cukup efektif menerapkan IP padi 400, mampu menghemat air 1000-3000 m3/ha/musim .Demikian semoga dapat dijadikan acuan untuk upaya peningkatan IP padi menjadi 400. Penyunting: Yulia Tri SEmail: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber: 1. Ade Supriatna Meningkatkan Indeks Pertanaman Padi Sawah Menuju IP PADI 400 dalam http://www.e-jurnal.com/2014/06/meningkatkan-indeks-pertanaman-padi.html 2. Didiek Setyobudi dan Ade Rusnandar, Balai besar Penelitian Tanaman Padi , Sukamandi, 2010, OPTIMALISASI Penggunaan Air pada tanaman padi sawah mendukung implementasi IP Padi 400.