Bawang merah ( Allium cepa L. Var. aggregatum) adalah salah satu bumbu masak utama dunia yang berasal dari Iran dan Pakistan. Dari daerah tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia, baik subtropics maupun tropis ( Indonesia ). Wujudnya berupa umbi yang memiliki beragam manfaat selain digunakan sebagai bumbu masak. Kulit umbi dapat dijadikan zat pewarna dan daunnya dapat juga digunakan sebagai campuran dalam sayur. Sentra budidaya bawang merah di Indonesia terdapat di beberapa wilayah, sebut saja brebes yang selama ini terkenal sebagai daerah sentra. Bahkan varietas bawang merah daerah tersebut sangat terkenal yaitu Bima Brebes. Pada umumnya bawang merah tumbuh baik di dataran rendah. Hal ini karena pembentukan umbi membutuhkan suhu tinggi. Suhu ideal untuk pertumbuhan bawang merah 230c sampai dengan 320c. Kondisi tanah yang cocok untuk tempat tumbuh bawang merah adalah tanah lempung berpasir, geluh (loam) berpasir, remah, tidak mudah tergenang air, gembur, subur, dan banyak mengandung bahan organik. Tanaman ini membutuhkan penyinaran sinar matahari 100%. Ph tanah yang dikehendaki 6 – 7. Bahan tanam bawang merah dapat berasal dari umbi dan dari biji. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan baik dari aspek ekonomi maupun teknis budidaya. Bawang merah yang bersumber dari biji secara ekonomi lebih meringankan petani dalam hal ongkos produksi. Sebagai ilustrasi saja bahwa untuk luas lahan penanaman 1 ha dibutuhkan benih biji bawang sebanyak 4 Kg dengan harga Rp 6.000.000/ha, sedangkan benih umbi 1,2 ton dengan harga Rp 35.000/Kg. Benih bawang merah yang berasal dari umbi memiliki porsi 50 % dari total seluruh ongkos produksi budidaya bawang merah. Budidaya bawang merah biji realtif lebih lama 1 hingga 2 bulan, hal ini disebabkan biji bawang harus di semai terlebih dahulu. Cara pembuatan persemaian bawang merah adalah sebagai berikut: Buat bedengan dengan lebar 1 meter, tinggi 40 -50 cm dan panjang sesuai lahan yang tersedia, usahakan jarak antar bedengan ( jika membuat lebih dari 1 ) 40 -50 cm Campur tanah bedengan dengan pupuk kandang 2 kg/m2 dan kapur pertanian sebanyak 150 – 200 gram/m2 Taburi bedengan dengan sekam padi setebal 9 – 10 cm, kemudian di bakar, biarkan selama 1 hari Ratakan bedengan, kemudian berikan pupuk KCL 50 g/m2, SP36 50 g/m2, dan insektisida berbahan aktif karbofuran 5 g/m2 Buat alur melintang dengan jarak antar alur 5 – 10 cm dengan kedalaman 1 cm Taburkan biji bawang merah kedalam alur tersebut sebanyak 150-200 biji/alur ( 1 sendok makan ) , kemudian tutup alur dengan tanah Setelah proses penanaman di persemaian selesai lakukan pemeliharaan rutin seperti penyiraman, penyiangan, dan pengamatan. Untuk mencegah benih terbawa aliran air hujan sebaiknya dibuatkan sungkup/penutup bedengan yang terbuat dari bambu dan platik transparan. Setelah 4 sampai dengan 6 minggu dipersemaian, bibit bawang dapat dipindah ke lahan tanam. Selain dari sisi ongkos produksi yang lebih rendah, budidaya bawang merah asal biji lebih mudah dalam penyimpanan dan tahan lama.