Serangan hama/penyakit, banjir, dan kekeringan hampir selalu terjadi setiap tahun. Intensitas dan frekuensi serangannya semakin meningkat yang salah satu penyebabnya dipicu oleh intensitas dan frekuensi perubahan iklim yang makin meningkat dalam dasawarsa terakhir. Ancaman banjir dan kekeringan yang semakin sering terjadi pada lahan sawah menyebabkan berkurangnya luas areal panen dan produksi padi. Peningkatan intensitas banjir secara tidak langsung akan mempengaruhi produksi karena meningkatnya serangan hama dan penyakittanaman. Terdapat indikasi bahwa lahan sawah yang terkena banjir pada musim sebelumnya berpeluang lebih besar mengalami ledakan serangan hama wereng coklat. Di lain pihak, kekeringan juga akan menurunkan hasil tanaman. Salah satu upaya antisipasi menghadapi permasalahan tersebut adalah melalui penggunaan varietas unggul. Menurut Susanto (2003) varietas unggul merupakan teknologi yang mudah, murah, dan aman dalam penerapan, serta efektif meningkatkan hasi!. Teknologi tersebut mudah, karena petani tinggal menanam, murah karena varietas unggul yang tahan hama misalnya, memerlukan insektisida jauh lebih sedikit daripada varietas yang peka. Varietas unggul relatif aman, karena tidak menimbulkan polusi dan perusakan lingkungan. Fattah (2008) menyatakan bahwa komponen teknologi baru dengan menggunakan Varietas Unggul Baru (VUB) lebih cepat diadopsi petani dibanding komponen teknologi lainnya. Peningkatan produksi yang dihasilkan melalui penggunaan VUB lebih cepat dirasakan petani, dan meningkatkan produksi lebih tinggi. Selain itu menurut Arjasa et al. (2004) introduksi VUB dapat meningkatkan produksi sekitar 15-35%.Pada periode 1943-2007 Balitbangtan telah melepas varietas unggul padi sawah sebanyak 190 varietas (MSyam 2007). Sampai saat inl, varietas padi aktual di hampir seluruh wilayah Indonesia masih didominasi oleh varietas Ciherang kecuali di Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dan Papua. Varietas dominan berikutnya adalah Mekongga dan Cigeulis yang pada umumnya tersebar di Sumatera, Sulawesi dan Maluku. Rekomendasi VUB seperti Inpari 1, Inpari 10, dan Inpari 13 serta Mekongga banyak disarankan di wilayah Sumatera kecuali di Sumatera Barat yang direkomendasikan varietas lokal seperti Batang Piaman dan Batang Lembang. Untuk wilayah Jawa, Bali,NTT dan NTB, banyak direkomendasi Inpari 10, Inpari 13,serta Mekongga. Untuk wilayah Kalimantan, pada lahan beririgasi Mekongga dan pada lahan rawa Inpara 1, Inpara 2, dan Inpara 4. Untuk wilayah Indonesia Timur seperti di Sulawesi, Maluku, dan Papua direkomendasikan Inpari 10, serta varietas lokal seperti Tukad Unda, Tukad Balian, dan Way Apo Buru.Deskripsi tiga varietas padi dominan di Indonesia : 1. Ciherang : bentuk gabah panjang ramping, bentuk tanaman tegak, tekstur nasi pulen, kadar amilosa 23 %, rata-rata hasil 6 ton/ha.2. Mekongga : bentuk gabah ramping panjang, bentuk tanaman tegak, tekstur nasi pulen, kadar amilosa 23 %, rata-rata hasil 6 ton/ha.3. Cigeulis : bentuk gabah panjang ramping, bentuk tanaman tegak, tekstur nasi pulen, kadar amilosa 23 %, rata-rata hasil 5 ton/ha. Rekomendasi varietas untuk mengantisipasi perubahan iklim sangat tergantung dari informasi tingkat kerawanan terhadap bencana baik banjir, kekeringan, maupun OPT. Pada wilayah dengan sifat hujan normal varietas yang direkomendasikan adalah padi spesifik lokasi baik VUB maupun lokal dengan memperhatikan kondisi agroekologis (Iahan sawah, lahan kering, lahan rawa maupun preferensi masyarakat atau konsumen masing-masing wilayah.Beberapa varietas yang direkomendasikan untuk wilayah yang terkena banjir ringan sampai sedang, adalah Inpari 13, Inpari 29, Inpari 30, Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, dan Inpara 5. Untuk wilayah rawan sampai sangat rawan banjir yaitu: Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5, Kapuas, Batanghari, Banyuasin, dan Tapus. Di wilayah terindikasi kekeringan ringan sampai sedang direkomendasikan varietas Inpari 1, Inpari 10, Inpari 11, Inpari 12, Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, Situ Patenggang, Limboto, Situ Bagendit, Silugonggo, dan Inpago 5. Rekomendasi varietas untuk wilayah rawan sampai sangat rawan kekeringan adalah Inpari 10, Inpari 12, Inpari 18, Inpari 19, Situ Patenggang, Limboto, Situ Bagendit, Silugonggo, dan Inpago 5. Varietas yang direkomendasikan untuk wilayah yang terserang Tungro ringan sampai sedang yaitu Inpari 4, Inpari 5, Inpari 7, Inpari 8, Inpari 9, Tukad Unda, Bondoyudo, Tukad Petanu, dan Tukad Balian. Varietas Tukad Unda, Bondoyudo, Tukad Petanu, dan Tukad Balian direkomendasikan juga untuk wilayah yang terserang rawan sampai sangat rawan.Pada wilayah yang terindikasi terserang wereng batang cokelat (WBC) ringan sampai sedang direkomendasikan varietas Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, Inpari 5, Inpari 6, Inpari 10, Inpari 18, Inpari 19, Widas, Cisantana, Konawe, dan Mekongga. Varietas yang direkomendasikan untuk wilayah yang terserang WBC rawan sampai sangat rawan yaitu Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, dan Mekongga.Varietas yang direkomendasikan untuk wilayah yang terserang Blast ringan sampai sedang yaitu Inpari 14, Inpari 15, Inpari 20, Situ Bagendit, Inpari 12, Inpari 13, Inpari 16, Inpari 11, Inpari 17, Batang Piaman, Situ Patenggang, Limboto, Danau Gaung, dan Batutugik. Varietas Inpari 11, Inpari 17, Batang Piaman, Situ Patenggang, Limboto, Danau gaung, Batutugik direkomendasi kan untuk wilayah yang terserang rawan sampai sangat rawan. Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusluhtan BPPSDMP KementanSumber tulisan dan gambar :Kalender Tanam Terpadu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2013http://nad.litbang.pertanian.go.id/http://sutopongawi1.wordpress.comhttp://arifinbudi.blogspot.com