Padi, Jagung dan kedelai merupakan pangan penting di Indonesia, untuk itu peningkatan produksinya terus diupayakan melalui berbagai program dengan sasaran swasembada pangan berkelanjutan. Dampak perubahan iklim menjadi ancaman pula bagi upaya peningkatan produksi tanaman pangan. Kemarau panjang yang menyebabkan tanaman didera kekeringan dan panjangnya periode hujan yang merendam sebagian area pertanaman, naiknya permukaan dan masuknya air laut ke area pertanaman di kawasan pesisir, termasuk di lahan rawa pasang surut adalah merupakan dampak langsung dari perubahan iklim. Dampak dari perubahan iklim yang paling dikhawatirkan di Indonesia antara lain adalah menurunnya produksi pertanian tanaman pangan, dianratanya padi, jagung dan kedelai. Padi memegang peranan penting bagi masyarakat Indonesia, karena merupakan makanan pokok yang diperlukan oleh lebih dari 245 juta penduduk. Oleh karena itu, dampak negatif perubahan iklim terhadap produksi pangan dan suplai beras bagi sebagian besar penduduk akan mempengaruhi upaya khusus peningkatan produksi padi dalam mendukung pemantapan ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan. Dampak Perubahan IklimBanjirDengan terjadinya perubahan iklim maka frekuensi badai tropis diperkirakan meningkat, mengakibatkan naiknya permukaan air laut sehingga frekuensi banjir juga akan meningkat. Area pertanaman padi yang selama ini tidak pernah dilanda banjir, suatu waktu akan terendam banjir karena tingginya curah hujan dalam waktu lama dan berdampak terhadap penurunan produksi padi. SalinitasSalinitas akan terjadi akibat meningginya muka air laut yang kemudian mengairi areal pertanaman di kawasan pesisir sehingga tanaman terpapar oleh air berkadar garam tinggi,padahal pada umumnya tanaman padi dan palawija tidak toleran terhadap salinitas sehingga produksi tanaman pada lokasi yang teraliri air laut akan turun.Karbon dioksida dan SuhuCO2 dan suhu tinggi yang akan mempengaruhi produksi tanaman. Pada tanaman padi kandungan CO2 pada tingkat tertentu meningkatkan produksi biomas, tetapi tidak selalu meningkatkan hasil. Pada suhu yang lebih tinggi respirasi tanaman meningkat sehingga tanaman kurang produktif. Kelangkaan airTanaman akan membutuhkan air dalam jumlah yang cukup untuk dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik. Periode kekeringan yang cukup panjang akan berakibat menurunnya produksi padi. Tanpa hujan satu minggu saja dapat menurunkan hasil padi gogo atau menurunkan hasil padi sawah jika dua minggu tanpa hujan dengan penurunan hasil sekitar 17- 40%. Perkembangan OPT Perkembangan dan dinamika hama dan penyakit juga dipengaruhi oleh perubahan iklim. Pada tanaman padi dengan pola curah hujan yang tidak beraturan dan berbagai cekaman kekurangan air akan meningkatkan intensitas beberapa hama dan penyakit, antara lain hama wereng batang coklat, penyakit batang coklat dan blas. Perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap dinamika kesehatan tanaman. Inovasi Varietas UnggulUntuk mengatasi permasalahan yang dihadapi petani dalam berproduksi, termasuk mengatisipasi dampak perubahan iklim terhadap keberlanjutan produksi padi,jagung, dan kedelai menuju swasembada pangan berkelanjutan telah dihasilkan beberapa varietas unggul baru toleran kekeringan, rendamam, salinitas, dan tahan hama penyakit utama. Padi; Varietas padi toleransi terhadap kekeringan adalah Inpari 18, 19, dan 20, Inpago 4, 5, 6, dan 8, serta Lipigo 4. Toleran rendaman adalah Inpari 29, 30, Ciherang sub-1, Inpara 4, 5. Toleran salinitas adalah Inpari 34, dan 35. Reltif toleran terhadap kekeringan, padi sawah irigasi varietas Inpari 13, 18, 19, dan 20 dengan potensi hasil 8-9,5 t/ha. Ke empat varietas tersebut tahan terhadap hama wereng batang coklat (WBC) dan penyakit hawar daun bakteri (HDB). Varietas Inpari 9 Elo tahan penyakit tungro, potensi hasil 9,3 t/ha. Inpari 15 Parahiyangan tahan penyakit blas ras 033 dengan potensi hasil 7,5 t/ha. Selain toleran kekeringan, padi gogo varietas Inpago 4, 5, 6, 8 dan Inpago Lipigo 4 berpotensi hasil tinggi 6,2-8,4 t/ha. Varietas Inpara 4, dan 5 toleran rendaman selama 14 hari pada fase pertumbuhan vegetative. Potensi hasil 7,6 -7,2 t/ha, tahan penyakit HDB patotipe IV dan VIII, dan pengembangannya diarahkan pada lahan rawa lebak dangkal dan sawah rawan banjir. Jagung; Varietas unggul jagung toleran kekeringan adalah hibrida Bima 19-URI, Bima 20-URI. Varietas ini juga tahan terhadap bulai yang merupakan penyakit penting pada jagung. Selain itu tahan juga terhadap penyakit karat dan hawar daun. Kedelai ; Sedangkan kedelai unggul baru toleran kekeringan adalah Dering 1, Detam 3 Prida, dan Detam 4 Prida. Varietas Gema agak tahan penggerek polong, potensi hasil 3,6 t/ha dan dapat dikembangkan pada lahan sawah dan lahan kering dengan umur panen 73 hari. Ruslia Atamaja (rusliatmaja.atmaja326@gmail.com)Sumber : Puslitbang Tanaman Pangan 2014