Loading...

Varietas Unggul Baru Padi Toleran Dampak Perubahan Iklim

Varietas Unggul Baru Padi Toleran Dampak Perubahan Iklim
Sebagai bahan pangan utama masyarakat Indonesia, tidak heran permintaan terhadap komoditas padi selalu tinggi. Terjadinya fenomena perubahan iklim, khususnya iklim ekstrim telah menjadi ancaman bagi keberhasilan usahatani padi dan upaya pemenuhan produksi padi nasional. Fenomena perubahan iklim yang berpotensi mengancam produksi pangan nasional diantaranya: (1) Perubahan Pola Hujan dan Iklim EkstrimPerubahan pola curah hujan dan iklim ekstrim sering menyebabkan banjir dan kekeringan. Pulau Jawa merupakan salah satu pulau yang rawan terkena banjir. Selain itu, fenomena ini juga menyebabkan bergesernya awal musim hujan, yang berdampak pada bergesernya musim tanam padi. (2) Meningkatnya Suhu UdaraRuntunuwu dan Kondoh, 2008 melaporkan bahwa dalam 100 tahun terakhir terjadi peningkatan suhu udara global rata-rata 0,570Celsius. Dalam kaitan produksi tanaman, kenaikan suhu dapat menyebabkan naiknya transpirasi dan konsumsi air, mempercepat pematangan buah/biji yang selanjutnya dapat menurunkan produktivitas dan mutu hasil. Selain itu, meningkatnya suhu udara juga dapat menyebabkan meningkatnya risiko berkembangnya berbagai hama dan penyakit. (3) Kenaikan Muka Air Laut.Kenaikan muka air laut mengakibatkan menyusutnya luas baku lahan sawah, khususnya di daerah pesisir pantai. Selain menyusutnya lahan, juga terjadi penggaraman atau salinitas pada lahan sawah di sekitar pantai. Kondisi ini menyababkan menurunnya potensi hasil usahatani padi. Untuk mengantisi dampak negatif dari tiga fenomena perubahan iklim tersebut perlu dilakukan langkah adaptasi. Langkah adaptasi yang dapat dilakukan diantaranya melalui penanaman varietas unggul yang toleran terhadap rendaman/banjir, kekeringan, serta kegaraman/salinitas. 1. Varietas Toleran Kekeringan Penggunaan varietas tahan kekeringan cocok dikembangkan di wilayah dengan periode musim hujan yang pendek serta merupakan sawah tadah hujan. Beberapa varietas unggul tahan kekeringan yang telah di lepas pemerintah diantaranya: Inpari 10, Inpari 18, Inpari 19, Inpari 20, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, dan inpago 8. Varietas Inpari 10 memiliki batang yang kokoh dan tahan rebah, agak tahan hama wereng batang coklat. Inpari 10 memiliki potensi hasil 7ton/hektar. Varietas Inpari 18 memiliki potensi hasil 9,5 ton/ha gabah kering giling, tekstur nasi pulen, tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 dan 2, agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 3. Selain itu, juga tahan terhadap penyakit hama daun bakteri patotipe III, agak tahan hawar daun bakteri patotipe IV dan rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe VII. Cocok ditanam di lahan irigasi dan tadah hujan dengan ketinggian 0 – 600 m dpl.Varietas Inpari 19, dapat dipanen pada umur 104 hari, dengan potensi hasil 9,5/ha GKG. Tekstur nasi pulen. Inpari 19 tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 dan 2, agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 3, serta tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III, agak tahan hawar daun bakteri patotipe IV dan rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe VIII. Cocok ditanam di lahan irigasi dan tadah hujan dengan ketinggian 0-600 m dpl.Inpari 20 berpotensi hasil 8,8 ton/hektar gabah kering giling, tekstur nasi pulen. Varietas ini tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1, dan agak rentan terhadap wereng batang coklat biotipe 2 dan 3. Selain itu, varietas ini juga tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III, agak rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe IV dan VIII, rentan terhadap virus tungro, agak tahan terhadap blas ras 033 dan rentan terhadap ras 133,073 &173. Cocok ditanam di ekosistem sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl dan tidak dianjurkakn untuk ditanam di daerah endemik tungro. Varietas Inpago 4, 5, 6 dan 8 merupakan varietas padi gogo yang cocok di tanam di lahan kering dengan potensi hasil cukup tinggi yaitu 6 hingga 7 ton/hektar. Kelompok varietas Inpago juga umumnya toleran pada keracunan beberapa zat besi, seperti alumunium dan besi. 2. Varietas Toleran Rendaman Salah satu dampak perubahan iklim adalah terjadinya peningkatan curah hujan yang dapat menyebabkan banjir. Bentuk adaptasi yang dapat dilakukan untuk Varietas yang memiliki ketahanan terhadap rendaman atau genangan, diantaranya adalah varietas Inpari 29, Inpari 30 Ciherang Sub-1, Inpara 4, dan Inpara 5. Inpari 29 Rendaman dapat dipanen pada saat tanaman berumur ±110 hari setelah semai, dengan potensi hasil 9,5 ton/ha dan memiliki tekstur nasi pulen. Varietas ini agak rentan Wereng Batang Coklat biotipe 1, rentan biotipe 2 dan 3, agak rentan Hawar Daun Bakteri patotipe III, rentan patotipe IV dan VIII. Inpadi 29 Rendaman baik di tanam di sawah irigasi dataran rendah sampai ketinggian 400 m dpl, terutama di daerah rawan banjir dengan rendaman keseluruhan fase vegetatif selama lebih dari 14 hari. Varietas Inpari 30 Ciherang Sub-1 merupakan salah satu varietas dengan potensi hasil tinggi, yaitu mencapai 9,6 ton/ha dengan tekstur nasi pulen. Varietas ini agak rentan Wereng Batang Coklat biotipe 1, dan 2, rentan biotipe 3. Selain itu, agak rentan hawar daun bakteri patotipe III, rentan patotipe IV dan VIII. Cocok ditanam di sawah dataran rendah sampai ketinggian 400 m dpl di daerah luapan sungai, cekungan dan rawan banjir lainnya dengan dengan rendaman keseluruhan fase vegetatif selama 15 hari. 3. Varietas Toleran Salinitas Penanaman varietas toleran salinitas sangat dianjurkan di wilayah sawah yang berada di pesisir pantai yang telah mengalami kegaraman atau salin. Beberapa varietas unggul yang dianjurkan diantaranya Banyuasin, Inpara 5, Inpari 34 Salin Agritan, dan Inpari 35 Salin Agritan. Agak tahan wereng coklat biotipe 3, Tahan blas, penyakit bercak coklat dan agak tahan terhadap hawar daun bakteri strain III, Agak toleran keracunan Fe (10 ppm) dan Al (5,4 me/100g). Sedangkan Varietas Inpara 5, agak tahan WCK Biotipe 3, tahan terhadap HDB strain IV dan VIII, toleran terendam selama 14 hari pada fase vegetatif. Varietas Inpari 34 Salin Agritan, dan Inpari 35 Salin Agritan varietas unggul baru toleran salinitas dengan potensi hasil cukup tinggi, yaitu sekitar 8 ton/hektar. Selain itu, kedua varietas ini memiliki ketahanan terhadap hama wereng batang coklat. Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2012. Perubahan Iklim dan Inovasi Teknologi Produksi Tanaman Pangan. Kementerian PertanianBMKG. 2013. Modul Perubahan Iklim: Pelatihan bagi Pelatih (TOT) Penyuluh Pertanian. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian; Email: ume_humaedah@yahoo.com