Ada berbagai peluang yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi jagung, diantaranya melalui penggunaan varietas unggul, baik yang bersari bebas maupun hibrida. Varietas unggul memiliki peranan yang lebih besar dalam peningkatan produktivitas diantara komponen teknologi lain dalam produksi jagung. Selain memberikan hasil tinggi, varietas unggul juga berperan dalam pengendalian hama dan penyakit. Dalam memilih varietas unggul yang akan ditanam, harus mempertimbangkan kondisi lingkungan (tanah dan iklim), keinginan petani misalnya varietas yang toleran kekeringan, toleran tanah masam, dan juga sesuai dengan kesukaan petani pada sifat lainnya seperti umur dan warna biji. Kurun waktu tahun 2000 – 2008, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Serealia, yang berada di Maros Sulawesi Selatan telah melepas 15 varietas unggul jagung, yang terdiri atas 8 varietas jagung bersari bebas/komposit, dan 7 varietas hibrida.Varietas bersari bebas/komposit memiliki keunggulan, diantaranya adalah berumur pendek, biasanya tahan penyakit, tidak menimbulkan ketergantungan dan bisa ditanam secara berulang-ulang tanpa harus membeli di toko karena bisa diturunkan. Varietas bersari bebas/komposit diciptakan untuk mengakomodir berbagai kondisi lahan, seperti tanah masam atau kekeringan. 1. Gumarang dan Lamuru: Berumur genjah, cukup tahan bulaiVarietas Gumarang dan Lamuru dilepas pada tahun 2000. Varietas Gumarang merupakan varietas jagung paling genjah produk Badan Litbang Pertanian yang sangat cocok ditanam pada daerah rendah sampai ketinggian 600 m dpl. Varietas Gumarang dapat dipanen pada umur tanaman 82 hari, sedangkan varietas Lamuru dapat dipanen pada umur 90-95 hari. Potensi hasil rata-rata Varietas Gumarang per hektarnya 8 ton pipilan kering, dengan rataan hasil yang diperoleh sekitar 5 ton pipilan kering. Sedangkan varietas Lamuru potensi hasilnya berada diangka 7,6 ton per hektar, dengan rataan hasil 5,6 ton per hektar. Tinggi batang kedua varietas ini berkisar 160 – 210 cm, dengan bentuk tongkol panjang dan silindris, kelobot tertutup baik (75%). Ciri lainnya adalah memiliki 12-16 baris biji yang lurus. Varietas gumarang termasuk varietas yang cukup tahan terhdap penyakit bulai (Sclerospora maydis) yang selama ini menjadi momok bagi petani jagung, dengan tingkat rebah batang 0-25%. Kelebihan yang dimiliki varietas Lamuru adalah toleransi pada kondisi lahan kering. 2. Sumaraga: Varietas yang toleran tanah masamVarietas Sukmaraga berasal dari tetua introduksi AMATL asal CIMMYT Thailand dengan introgressi bahan lokal yang diperbaiki sifat ketahan terhadap penyakit Bulai. Potensi hasil varietas yang dilepas tahun 2003 ini cukup tinggi, yaitu 8,5 ton pipilan kering per hektar, dengan rataan hasil 6 ton pipilan kering per hektar. Masak fisiologis biji pada umur 105-110 hari. Varietas ini memiliki ciri batang tegap, dengan tinggi 180-220 cm, daun panjang dan lebar, dengan warna daun hijau muda. Varietas ini memiliki perakaran yang dalam, kuat dan baik. Tipe biji varietas Sukmaraga adalah semi mutiara, memiliki bentuk tongkol panjang silindris, dengan jumlah baris 12-16. Keunggulan lain varietas Sukmaraga adalah cukup tahan terhdap penyakit bulai, penyakit bercak daun, serta penyalit karat daun. Varietas ini baik ditanam pda dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl, dan yang terpenting adaptif pada tanah-tanah masam. 3. Srikandi Kuning-1, Srikandi Putih-1: Varietas berprotein tinggiJagung berprotein tinggi (QPM) adalah jagung yang memiliki kandungan asam aminolisin dan triptofan yang lebih tinggi dibanding dengan jagung biasa. Asam aminolisin dan triptofan diketahui sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan otak anak balita. Balitsereal pun telah melepas 2 varietas yang kandungan asam aminonya 2 kali lebih tinggi dibanding jagung biasa ini pada pertengahan tahun 2004. Kedua varietas tersebut adalah Srikandi Putih-1 dan Srikandi Kuning-1. Varietas Srikandi Kuning-1 dan Srikandi Putih-1 memiliki potensi hasil yang cukup tinggi, untuk Srikandi Kuning-1, potensi hasilnya dapat mencapai angka 7,92 ton pipilan kering per hektar, dengan rata-rata hasil 5,4 ton per hektar pipilan kering. Sedangkan varietas Srikandi Putih-1, memiliki potensi sedikit diatas Srikandi Kuning-1, yaitu 8,09 ton pipilan kering per hektarnya, dengan rata-rata hasil 5,89 ton pipilan kering per hektar. 4. Anoman 1: Varietas berbiji putihVarietas Anoman-1 merupakan varietas bersari bebas/komposit paling anyar dirilis Balit Serealia, tepatnya pada 2 Oktober 2006. Varietas ini memiliki biji putih, berbentuk gigi kuda (dent), jumlah baris pertongkolnya 14-18 baris. Betuk tongkol Varietas Anoman 1 adalah panjang dan silindris, dengan tinggi tongkol mencapai kurang lebih 17 cm, kelobotnya tertutup rapat (95%). Varietas ini sangat sesuai untuk pangan karena mempunyai rasa yang agak lunak (pulen) dengan potensi hasil 6,6 t/ha, rata-rata hasil 4,6 ton per hektarnya. Anoman 1 toleran terhadap kekeringan, serta agak tahan penyakit bulai, hawar daun dan bercak daun kelabu. Wilayah pengembangan yang cocok adalah lahan kering sampai 1.100 m dpl. Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2008. Panduan Umum Pengelolaan Tanaman Terpadu Jagung. Balitsereal Rilis Varietas Jagung Toleran Kekeringan. http://www.sinartani.com/sorotan/balitsereal-rilis-varietas-jagung-toleran-kekeringan-1248149847.htm Pusat Penelitian Tanaman Pangan. Deskripsi Varietas Jagung. http://pangan.litbang.deptan.go.id. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi PertanianEmail: ume_humaedah@yahoo.com