Kacang kedelai dikenal sebagai bahan pangan dengan kandungan protein tinggi. Biji kedelai dapat diolah menjadi berbagai produk olahan. Paling popular bagi masyarakat Indonesia adalah tahu dan tempe. Produk olahan lainnya adalah kecap, tauco, susu kedelai, dan taoge. Beragam olahan kacang kedelai tersebut merupakan menu penting dalam pola konsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama sebagai sumber protein yang relatif murah harganya. Dari tahun 1918 hingga 2014 telah dilepas 82 varietas kedelai. Beragam varietas tersebut masing-masing memiliki karakteristik dan penggunaan yang beragam. Penggunaan ini berkaitan dengan produk olahan yang dapat di hasilkan. Untuk tempe misalnya, direkomendasikan menggunakan kedelai varietas dengan biji ukuran sedang sampai besar, diantaranya varietas Ijen, Tanggamus, Argomulyo, Burangrang, Anjasmoro, Panderman dan Argopuro. Selain tahu dan tempe, produk olahan pangan berbahan baku kedelai yang juga popular adalah kecap. Kecap merupakan produk fermentasi kedelai yang digunakan sebagai bahan penyedap dan pemberi warna pada makanan. Varietas yang disukai sebagai bahan baku kecap adalah kedelai berbiji hitam. Kedelai jenis ini dapat memberi warna hitam alami pada produk yang dihasilkan, meningkatkan kualitas kecap serta berpotensi meningkatkan nilai gizi terutama kandungan proteinnya.Beberapa varietas kedelai hitam sebagai bahan baku kecap yang telah di lepas Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian diantaranya sebagai berikut: 1. Cikuray Varietas Cikuray merupakan seleksi keturunan persilangan kedelai No. 630 dan No. 1343 (Orba) dan dilepas pada tahun 1992. Umur masak polong pada 82-85 hari setelah tanam. Rata-rata hasil yang bisa diperoleh 1,7 ton per hektar biji kering. Kandungan protein sekitar 35% dan kandungan lemak 17%. Keunggulan lain varietas ini adalah toleran penyakit karat daun, pasak tidak mudah pecah, beradaptasi baik di dataran rendah, juga cocok untuk ditanam di dataran tinggi, cukup baik untuk pertanaman di musim hujan atau musim kemarau 2. Mallika Varietas Mallika dilepas pada tahun 2007, dihasilkan dari seleksi varietas lokal asal Bantul. Varietas ini dapat dipanen pada umur 85-90 hari setelah tanam dan memiliki tinggi tanaman 60-80 cm. Kedelai Mallika memiliki potensi hasil hingga 2,94 ton per hektar, dengan hasil rata-rata 2,34 ton per hektar. Kandungan protein pada varietas ini sekitar 37% dengan kandungan lemak 20%. Varietas Mallika toleran terhadap hama ulat jengkal dan ulat grayak. Beradaptasi baik pada daerah dataran rendah sampai tinggi pada musim hujan dan kemarau. Sifat lain dari varietas ini memiliki polong lebat, dan polong masak tidak mudah pecah. 3. Detam-1 Varietas unggul kedelai hitam Detam 1 merupakan hasil seleksi persilangan galur introduksi 9837 dengan Kawi dan dilepas pada tahun 2008. Detam 1 memiliki kandungan protein tinggi yaitu mencapai 35,4%, kandungan lemak 33,06% dengan potensi hasil 2,86 ton per hektar. Polong dapat dipanen pada saat tanaman berumur 84 hari. Ukuran biji tergolong biji besar dengan bobot 100 gr biji adalah 14,8 gr. Varietas ini peka terhadap ulat grayak dan agak tahan terhadap hama penghisap polong. Selain itu, juga peka terhadap kekeringan. 4. Detam-2 Varietas unggul kedelai hitam Detam 2 yang dilepas pada tahun 2008. Detam-2 merupakan hasil seleksi persilangan galur introduksi 9837 dengan Wilis. Kedelai Detam 2 dapat dipanen pada umur 82 hari setelah tanam. Bobot per 100 biji 13,5 gram (biji besar). Potensi hasil Detam-2 termasuk tinggi, tinggi mencapai 2,96 ton per hektar. Kandungan protein 45,6% dan lemak 14,8% berat kering, cocok untuk bahan baku kecap. Keunggulan lain, peka ulat grayak, agak tahan terhadap pengisap polong. 5. Detam-3 Prida Detam 3 Prida dilepas pada Juni 2013, merupakan hasil seleksi dari persilangan antara galur W9837 dengan varietas Cikuray. Umur masak polong 75 hari setelah tanam (genjah). Potensi hasil bijinya tinggi, hingga 3,15 ton per hektar. Agak toleran kekeringan, peka terhadap hama penghisap polong dan peka terhadap penyakit karat. Ukuran biji Detam-3 Prida 11,8 g/100 biji, dengan kandungan protein sekitar 36,4% berat kering. 6. Detam-4 Prida Detam 4 Prida dilepas bersamaan dengan Detam-3 Prida, Merupakan hasil seleksi dari persilangan antara galur W9837 dengan galur 100H-236. Potensi hasil mencapai 2,89 ton per hektar. Umur masakanya 76 hari setelah tanam (genjah). Kandungan protein kurang lebih 40,3% dan kandungan lemak 19,7% dari berat kering. Keunggulan lainnya toleran kekeringan hingga 50% air tersedia. Hal ini disebabkan Detam-4 Prida memiliki perakaran yang baik dan mampu mengekstrak air lebih banyak pada kondisi kekurangan air, efisien dalam penggunaan air dan partisi fotosintat ke biji tinggi. Keunggulan lainnya agak tahan hama pengisap polong dan juga agak tahan terhadap penyakit karat daun. Sumber : Badan Litbang Pertanian. 2016. Detam 3 dan 4 Prida, Kedelai Hitam Memikat Bisnis Industri Kecap. Tersedia di: http://www.litbang.pertanian.go.id/berita/one/2511/ Balitkabi. 2014. Dskripsi Varietas Unggul Kedelai 1918-2014. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. Ginting E., S.S. Antarlina, S. Widowati. 2009. Varietas unggul kedelai untuk bahan baku industry pangan. Jurnal Litbang Pertanian Vol 28 (3): 79-87. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian); Email: ume_humaedah@yahoo.com