Jagung sebagai subtitusi beras, juga digunakan untuk pakan ternak serta bahan baku industri. Hampir seluruh bagian tanaman jagung dapat digunakan. Batang dan daun digunakan untuk kertas dan papan dinding. Tongkol digunakan untuk bahan bakar, karena mengadung silosa dan furfural. Sedangkan biji dapat diolah menjadi tepung dan pati jagung., selanjutnya pati jagung dapat diolah menjadi dekstrin, sirup, gula dan bahan lainnya. Karena itu kebutuhan akan jagung cenderung terus meningkat terutama untuk memenuhi kebutuhan industri yang berhan baku jagung tersebut.Untuk memenuhi kebutuhan jagung yang cenderung terus meningkat tersebut, diperlukan upaya peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas lahan dan tanaman serta perluasan areal tanam. Potensi pengembangan jagung terutama di lahan kering dinilai masih terbuka karena hasil rata-rata masih rendah yaitu 1,2 ton/ha. Padahal potensi hasil yang bisa dicapai adalah sebesar 4,5 ton/ha untuk varietas bersari bebas dan 5 – 7,6 ton/ha untuk jagung hibrida. Hal ini dapat ditempuh melalui penyempurnaan atau perbaikan teknologi produksi seperti penggunaan varietas unggul, pengolahan tanah sempurna, pemupukan, pengendalian hama penyakit terpadu serta penanganan panen dan pasca panennya.Varietas UnggulVarietas jagung yang digunakan merupakan faktor penentu potensi hasil. Varietas unggul jagung yang akan diusahakan sebaiknya mempunyai kriteria sebagai berikut: 1) hasil per satuan luas relatif tinggi; 2) tanggap terhadap pemupukan; 3) berumur pendek; 4) beradaptasi baik padaa berbagai kondisi llingkungan; 5) mempunyai batang yang kokoh dan tahan rebah; 6) tahan terhadap hama penting; 7) biji keras dengan warna biji merata; 8) kandungan protein biji cukup tinggiJagung yang ditanam di lahan kering dapat berupa varietas unggul bersari bebas atau varietas unggul hibrida. Beberapa varietas bersari bebas yang dapat dipilih antara lain Arjuna, Bisma, Lagaligo, Kalingga, Wiyasa, Rama, dan Wisanggeni. Sementara untuk varietas hibrida disarankan menggunakan varietas Semar-2, Semar-3, CP-1, CP-2, Bisi-1, Bisi-2, Pioneer-3, Pioneer-4, dan Pioneer-5. Berdasarkan ketinggian tempat penanaman dapat dianjurkan penggunaan varietas-varietas yang sesuai. Untuk dataran rendah dapat digunakan jagung berumur dalam atau sedang yang dapat dipilih antara lain Harapan Baru, Metro, Parikesit, Bogor, Composite-2, Arjuna, Bromo, Kalingga, Wiyasa, Harapan, dan Hibrida. Untuk jagung berumur genjah dapat dipilih antara lain Penjalinan, Genjah Kretek, dan Genjah Kertas. Ketiga varietas jagung berumur genjah tersebut merupakan varietas lokal. Sementara untuk dataran tinggi dapat dipilih berumur dalam seperti Bastar Kuning, Bima Pandu, dan Harapan. Benih BermutuBenih bernutu yang berasal dari verietas unggul sangat menentukan produktivitas jagung yang akan dihasilkan, selain itu penggunaan benih bermutu juga menentukan jumlah benih yang akan dipakai per satuan luas.Ciri-ciri benih yang baik adalah: 1) Bebas hama dan penyakit ; 2) Daya tumbuh di atas 80%; 3) Biji sehat, berisi dan tidak keriput serta tidak mengkilat; 4) Tidak bercampur dengan varietas lain; 5) Penampilan tanaman seragamDengan daya tumbuh di atas 80% dan menggunakan varietas yag dianjurkan maka Kebutuhan benih jagung di lahan kering ±25 kg/ha dengan jarak tanam 70×30 cm. Sebelum penanaman, sebaiknya benih jagung dicampur dengan Ridomil sebanyak 5 g /kg. pemberian Ridomil ini bertujuan agar tanaman tidak terserang penyakit bulai dan lalat bibit. Sumber: 1) http://sumsel.litbang.pertanian.go.id/new2/?p=107 2) http://abdulgapurtech.blogspot.com/3) Ditjen P2HPPenulis : Marwati (Pusat Penyuluhan Pertanian-BPPSDMP-Kementan)