Loading...

VERIFIKASI DAN PENILAIAN KELOMPOKTANI TERNAK, PERTANDA BANGKITNYA PETERNAK

VERIFIKASI DAN PENILAIAN KELOMPOKTANI TERNAK, PERTANDA  BANGKITNYA PETERNAK
Senin (16/7), dua kelompoktani ternak di Kota Denpasar mendapat kunjungan dari Tim Verifikasi dan Penilaian Kelompoktani Ternak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali yang diketuai oleh Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Penyuluhan. Kunjungan tersebut merupakan kelanjutan dari proses pembinaan kelolompoktani ternak yang dilaksanakan beberapa bulan lalu. Kunjungan pertama pada Kelompoktani Ternak Sumber Rejeki yang berlokasi di Balai Banjar Cengkilung, Desa Peguyangan Kangin, Kecamatan Denpasar Utara. Kelompoktani ternak tersebut mengusahakan komoditas ayam buras. Dalam kesempatan ini, sambutan Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar yang dibacakan oleh Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Penyuluhan mengemukakan bahwa dengan adanya verifikasi dan penilaian ini diharapkan dapat memacu para peternak untuk lebih berupaya mengusahakan usaha ternak mereka. Sebab, ayam buras merupakan komoditas yang banyak diperlukan oleh masyarakat di Denpasar, baik untuk konsumsi maupun untuk upacara keagamaan. Aspek-aspek yang menjadi poin penilaian adalah aspek agribisnis hulu, aspek budidaya, aspek agribisnis hilir, dan aspek kelembagaan. Dari keempat aspek ini, yang masih menjadi perhatian khusus adalah aspek kelembagaan. Sama dengan kelompoktani ternak pada umumnya di Bali, proses pencatatan kegiatan sangat kurang dilakukan oleh pengurus. Hal ini dikarenakan kesibukan dari pengurus dengan bekerja di sektor lain. Untuk mengupayakan efisiensi usaha, disarankan kepada peternak untuk lebih mengoptimalkan ternaknya dengan meningkatkan rasio ayam jantan dan ayam betina dari 1:3 sampai 1:4 menjadi 1:6 hingga 1:8. Usia ayam yang akan dipotong pun perlu diperhatikan supaya tidak terlalu muda atau terlalu tua supaya dihasilkan daging yang berkualitas. Kunjungan kedua dilaksanakan di Kelompoktani Ternak Satwa Wiguna yang mengusahakan komoditas sapi Bali. Berlokasi di Balai Banjar Paang Tebel, Desa Peguyangan Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, kegiatan ini menilai aspek serupa dengan kelompoktani ternak yang dikunjungi sebelumnya. Aspek kelembagaan masih menjadi kelemahan, dalam hal pencatatan kegiatan. Dari aspek agribisnis hilir, pengolahan limbah ternak belum dilakukan. Kotoran dan urin sapi belum diolah menjadi pupuk atau biogas untuk meningkatkan manfaat dan nilai tambah bagi peternak. Kotoran sapi mentah dijual borongan dengan harga yang relatif rendah, sehingga belum mampu menambah pendapatan peternak dari pemanfaatan limbah ternak. Secara umum, kedua kelompokternak mendapat apresiasi dari Tim Verifikasi dan Penilaian Tingkat Provinsi Bali. Tidak mudah mempertahankan keberadaan kelompoktani ternak di area perkotaan yang menjanjikan banyak peluang kerja di luar sektor pertanian dalam arti luas. Tentunya, dengan penghasilan yang lebih tinggi dari sekedar hanya menjadi peternak. Dengan adanya pembinaan dari semua pihak, terutama dari pemerintah melalui dinas terkait, diharapkan kelompokternak di Kota Denpasar dapat mempertahankan eksistensinya. Ditulis oleh : Marcella Wayan K.R., SP (PP Muda)