Wisata petik mangga gadung klonal-21 menjadi icon baru destinasi agrowisata di Kabupaten Pasuruan. Tepatnya di desa Oro-oro Ombo Kulon dan Oro-oro Ombo Wetan Kecamatan Rembang. Wisata petik mangga ini beritanya dari tahun ketahun mengalami peningkatan. Hal ini tidak terlepas dari pemberitaan dari sejumlah media massa baik itu cetak ataupun elektronik yang memberitakan agrowisata petik mangga ini secara luas. Apalagi di era melinium ini media elektronik berbasis massa di dunia maya semisal facebook, instagram, youtube dll, turut serta meramaikan berita tempat agrowisata ini. Sehingga ada pihak-pihak yang jeli menangkap peluang ini sebagai peluang usaha, baik itu yang menawarkan belanja produk mangga gadung klonal-21 via on line (internet marketing) maupun off line (belanja ke petaninya langsung) dengan sebutan mangga alpukat atau penawaran berkunjung ke kebun mangga dengan memetik buah yang matang langsung dari kebun atau pohonnya. Wisata petik mangga gadung klonal-21 di kecamatan rembang terletak ditempat yang strategis. Bertempat diantara jalan tembusan Kec.Bangil dengan Kec.Sukorejo. Kecamatan Bangil merupakan Ibukota Kabupaten Pasuruan yang baru sejak tahun 2016 dan Kecamatan Sukorejo merupakan jalur ramai lalu lintas kendaraan yang menghubungkan dua kota besar di Jawa Timur yakni Surabaya dengan Malang. Hal ini menjadikan aset berharga untuk berkembangnya agrowisata petik mangga karena kemudahan akses perjalanan menuju lokasi wisata petik mangga merupakan sarana-prasarana penting dalam memudahkan para wisatawan pengunjung untuk lebih muda menjangkaunya. Jalan tembusan antara kec.bangil dengan kec.sukorejo membela kecamatan rembang tepatnya diatara dua desa yakni desa oro-oro ombo wetan dan oro-oro ombo kulon. Sejak tahun 1998 sampai dengan sekarang kelompok tani di dua desa tersebut aktif berkebun mangga karena itu merupakan mata pencarian utama pertanian didesa tersebut. Desa oro-oro ombo wetan memiliki luas areal kebun mangga +408 Ha dan Desa oro-oro ombo kulon memiliki luas +208 Ha kebun mangga (Agroekosistem, 2017). Namun demikian luas sebenarnya jika digabung dengan desa-desa sekitar antara lain desa kedung banteng, orobulu, wonekerto, banjarsari dan banjar tempuran yang memiliki potensi tanaman mangga yang sama yakni mangga gadung klonal-21 luasnya bisa mencapai +2.000 Ha. Mangga gadung klonal-21 berproduksi setahun 2 kali, yakni bulan Mei-Juli panen off seasion dimana konsumen yang ingin menikmati buah mangga bisa membelinya di Kecamatan Rembang namun demikian dikarenakan jumlah panenan buah mangga yang belum terlalu banyak menjadikan harga buah mangga ini relatif terlalu mahal untuk kalangan menengah kebawah akan tetapi permintaan mangga tersebut untuk kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, harga masih terjangkau untuk pangsa pasar disana, sehingga permintaan mangga dengan harga mahal untuk sebagian orang tetap saja kurang untuk memenuhi pasar disana. Mangga gadung klonal-21 akan mengalami panen raya di bulan September-Nopember, dibulan-bulan inilah akan banyak pedagang-pedagang mangga dadakan yang ada di jalan-jalan tembusan antara kec.bangil dan kec.sukorejo tadi, hal inilah yang semakin menambah daya tarik pengunjung yang kebetulan lewat jalan itu untuk membeli mangga masak pohon yang dijual disana, dan banyak juga dari pengunjung sengaja datang kesana untuk membeli mangga dan berkunjung ke kebun untuk petik mangga langsung dari kebun atau pohonnya. Dan dari kunjungan mereka yang sempat mengabadikan biasanya dikabarkan melalui group-group jejaring sosial misalnya Whatsup, facebook, line, dll yang membuat berita tentang mangga klonal-21 atau mangga alpukat semakin menyebar dan diketahui banyak orang yang juga berkeinginan berkunjung kesini. Walhasil dengan terbangunnya image sebagai agrowisata petik mangga, membawa berkah tersendiri bagi warga lokal khususnya petani mangga gadung klonal-21, dengan banyaknya masyarakat luar yang berkunjung kesana memudahkan mereka untuk menjual secara langsung barang dagannya ke konsumen dengan harga yang standard, tidak melalui tengkulak yang biasanya karena ketidak tahuan produsen tentang info harga pasar, dengan mudah mempermainkan harga untuk mendapat keuntungan yang lebih besar. Dengan kesempatan produsen mangga bisa langsung menjual ke konsumen, harga manggapun menjadi lebih baik karena terjadinnya pangsa pasar yang sehat dimana antara permintaan barang dan produksi barang berjalan seimbang.Namun demikian pengelolaan wisata petik mangga yang masih sendiri-sendiri dan dilakukan belum profesional, membuat beberapa orang yang berkunjung masih belum merasa puas dengan keberadaan wisata petik mangga tersebut, baik itu petunjuk jalan yang masih membingungkan ataupun sarana dan prasarana pendukung yang masih kurang disana-sini semisal transportasi menuju kebun ataupun tempat cuci setelah menikmat buah mangga dikebun dll, akan tetapi pemerintah Kabupaten Pasuruan dalam hal inipun tidak tinggal diam, ditahun 2018 akan dibuat SOP agrowisata petik mangga melalui Asosiasi Mangga Gadung Klonal-21 dengan biaya swaklola, agar kedepannya lebih bisa maju dan berdaya saing seperti agrowisata-agrowisata ditempat lainnya. By: Abdillah Ikhrom, SP. Sumber Pustaka :1. PPL dkk. 2017. Data Agroekosistem Kecamatan Rembang.