Loading...

Wiwitan, Tradisi memulai panen padi yang masih dipertahankan

Wiwitan, Tradisi memulai panen padi yang masih dipertahankan
Tradisi wiwitan merupakan wujud budaya leluhur yang turun temurun di tanah jawa. Dalam bahasa Indonesia Wiwit berari Memulai. Wiwitan merupakan ungkapan doa dan rasa syukur kepada Tuhan atas anugerah sumber daya alam yang telah diberikan sehingga petani dapat memanen padi. Wiwit adalah adalah tradisi petani yang diadakan menjelang panen padi saat bulir padi menguning dan siap panen. Berbagai jenis makanan dan peralatan disediakan untuk wiwitan yang dalam istilah jawa disebut ubarampe. Dalam wiwitan akan dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh seorang sesepuh. Wiwitan diadakan di tepi sawah yang akan dipanen, petani membawa berbagai ubarampe yang kemudian akan dimakan bersama. Bebagai ubarampe tersebut merupakan simbol yang memiliki arti antara lain :- Tumpeng yang melambangkan supaya kita selalu bersyukur kepada Allah SWT berlandaskan iman. - Ingkung yang berarti manekung (konsentrasi pada Allah SWT) - Sambel gempleng dan empon-empon yang mengandung makna jika empon2 di lahan sawah bisa sebagai penghalau hama. - Gagar mayang (tebu, daun tebu). Tebu mempunyai banyak kandungan posfat yang tinggi, Maksud dari gagar mayang ini adalah agar petani dalam budidaya padi diharapkan bisa menggunakan pupuk posfat, KCl, empon- empon sehingga tanah menjadi subur dan bebas hama. - Daun dadap dan pulutan sebagai symbol Nitrogen sehingga tanah dingin. - Daun kluwih merupakan symbol Kalium. - Janur bermakna agar petani selalu merawat dengan sunguh-sungguh dalam budidaya padi dan tidak lupa bersedekah pada manusia sebagai wujud rasa syukur karena telah diberi ulu wetu (panen) yang banyak sebagai tolak balak. - Orang-orangan dari janur bermakna agar manusia tidak melupakan sang Pencipta (Allah SWT) yang telah banyak memberikan rejeki.Disamping sebagi wujud syukur, tradisi wiwitan ini digelar sebagai bentuk untuk melestarikan budaya yang hampir punah di kalangan petani Jawa.