Loading...

Work Shop Sasaran Indikatif Tingkat Kecamatan Lut Tawar

Work Shop Sasaran Indikatif Tingkat Kecamatan Lut Tawar
BPP Lut Tawar baru saja menyelenggarakan kegiatan Work Shop Sasaran Indikatif Tingkat kecamatan pada tanggal 28 November 2019. Acara ini terselenggara berkat kerjasama antara Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh dengan Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, yang bertempat di kantor BPP Lut Tawar desa Pedemun. Dalam arahannya kepala BPP Lut Tawar Suyito, SP menceritakan bahwa work shop ini diadakan untuk menindaklanjuti pertemuan Work Shop sasaran indikatif Tk. Kabupaten yang sebelumnya telah diselenggarakan di BPP Bies pada tanggal 22 November 2019. Adapun maksud dan tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk menghimpun data dan menggali permasalahan berdasarkan potensi agroekosistem di wilayah kerja penyuluh pertanian dengan petani sebagai pelaku utama dan reje kampung sebagai pemegang kuasa atas pembangunan pertanian di tingkat desa. Hal ini berkaitan dengan akan dimulainya peran BPP sebagai Pos/simpul komando strategi pembangunan pertanian (Konstratani). Oleh karenanya peran BPP ke depan sangat vital sebagai sumber atau pusat data dan informasi pembangunan pertanian. Dengan kemajuan teknologi informasi sekarang, sebenarnya pusat bisa saja mengandalkan satelit pemantau untuk mengakurasikan data, akan tetapii karena hal ini berkaitan dengan kesiapan petani sebagai pengelola atau pengguna lahan, maka diperlukan data yang riil dan konkrit dalam usaha pemanfaatan lahan tersebut secara produktif dan berkelanjutan. Data dimaksud terutama menyangkut data statistik potensi sumber daya alam seperti data luas lahan, produksi, LTT, sarana & prasarana, infrastruktur, dan alsintan serta data pendukung lainnya. Petani sebagai pelaku utama diharapkan secara partisipatif dapat melaporkan setiap perubahan (pemutakhiran) data tersebut kepada Reje kampung (kepala Desa ) dan penyuluh pertanian agar mantri Tani sebagai pihak penghimpun data bisa melaporkan data yang sahih tersebut kepada BPS sesuai realita yang ada. Karena ke depan data yang akan dipakai sebagai sumber kebijakan atau program berasal dari satu sumber yaitu data statistik pertanian (BPS) sehingga sinergitas data sangat diperlukan agar program yang dihasilkan nantinya tepat sasaran dan biaya. Memasuki era teknologi 4,0 seperti sekarang, informasi tentang teknologi pertanian senantiasa berkembang secara global. Oleh karenanya petani harus melek teknologi dengan pemanfaatan android sebagai sarana penyampaian informasi. Untuk mendekatkan petani pada sumber teknologi tersebut, BPP akan berupaya mengisi demplot BPP dengan tanaman andalan seperti bawang merah sebagai percontohan kepada petani. Selain itu akan disiapkan juga rekomendasi teknologi peningkatan produksi komoditi spesifik lokasi. Dengan demikian untuk menjamin efisiensi penyuluhan, maka baik petani maupun penyuluh harus berbenah dalam mengoptimalkan segala potensi yang ada dan senantiasa bekerja sama dalam membangun kemitraan untuk memecahkan masalah secara partisipatif. Seperti yang diutarakan oleh Razali dari Toweren Antara bahwasanya luas baku lahan mengalami ketimpangan antara Toweren uken, toa dan antara karena batas kampung yang tidak jelas karena proses pemekaran kampung yang tidak melibatkan unsur atau pihak yang terkait dan kompeten dalam pembuatan peta potensi desa. Pun demikian, beliau sangat mengapresiasi bantuan dari dinas pertanian berupa bibit bawang merah batu ijo, bibit tanaman perkebunan seperti kopi dan aren serta embung yang dirasakan sangat bermanfaat bagi petani. Beliau berharap agar ke depan pemerintah bisa menyediakan bibit unggul padi inpari 28 agar petani bawang merah bisa meningkatkan IP bawang merah yang belakangan menjadi salah satu andalan mata pencaharian petani selain kopi. Beliau optimis apabila bibit padi inpari 28 tersedia, maka sekitar 50% lebih luas lahan sawah di desa-desa Toweren akan ditanami padi unggul, dan ini akan memajukan perekonomian masyarakat tani. Selanjutnya Muslim dari kampung ( desa ) Bujang mengharapkan agar BPP bisa menjamin ketersediaan bawang merah pada setiap musim tanam. Hal ini dijawab oleh kepala BPP yakni bahwa untuk menjamin ketersediaan benih harus ada petani penangkar yang punya lisensi dari dinas sebagai pihak resmi yang bisa menyalurkan bibit bermutu. Oleh karenanya pihak BPP mengharap munculnya bibit-bibit penangkar dari petani-petani bawang merah di WKBPP Lut Tawar dan siap membina para petani penangkar untuk memenuhi segala syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh dinas berkaitan dengan produksi bibit bermutu tersebut. Di akhir acara Kepala Balai Suyito,Sp mengingatkan kembali agar petani senantiasa bersemangat dalam mengelola lahannya dengan komoditi yang mempunyai nilai jual atau pendapatan baik harian, mingguan, bulanan atau tahunan sehingga petani bisa memenuhi kebutuhan cukup dalam produk yang berkualitas)** )**Lindawati/Ism