Loading...

WORKSHOP & TALKSOW DALAM RANGKA HARI PERKEBUNAN KE 62 PROV. SuLTENG

WORKSHOP & TALKSOW DALAM RANGKA HARI PERKEBUNAN KE 62 PROV. SuLTENG
Pada acara tersebut dipandu langsung oleh Moderator kondang yaitu DR. Nur Sangaji. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. Dalam pengantarnya DR. Nur Sangaji membuat ilustrasi . “ ada seorang petani pisang menjual pisangnya di pasar Masomba ( pasar di kota Palu ). Anaknya pesan kalau pulang nanti belikan oleh-oleh pisang goreng”. Makna dari ilustrasi tersebut dikaitkan dengan tema “ Mengembalikan Kejayaan Kakao Menuju Kakao Organik “. Adalah banyak masyarakat Indonesia apabila ada teman atau keluarga yang keluar negeri minta oleh-oleh coklat. Padahal bahan coklat tersebut berasal dari kakao Indonesia. Itulah yang terjadi di masyarakat. Narasumber pada acara tersebut adalah : Bapak Yudi ,S.ST dari Dirjen Perkebunan, DR. Wiwid, Peneliti Tebu dari Balai Penelitian Tebu, Ir. Kamarudin Kepala Bidang Produksi Perkebunan Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, dan Bapak Sucipto ketua kelompoktani yang telah menerima sertifikat Kakao Organik dari Kabupaten Sigi. Pada acara tersebut pembicara pertama adalah DR.Wiwid , yaitu Peneliti Tebu. Dengan judul materinya adalah “ Memaniskan Kabupaten Donggala dengan Tebu “ . Pada pemaparannya , narasumber menyampaikan apa yang dilakukan di Kabupaten Donggala , tepatnya di Kebun Induk Labuan di Desa Labuan Panimba. Peneliti tersebut melakukan uji adaptasi tebu. Pada uji adaptasi tersebut ditanam beberapa varietas tebu yang mampu beradaptasi hidup di Kabupaten Donggala. Narasumber selanjutnya adalah Ir. Kamarudin, kemudian dilanjutkan narasumber dari Dirjen Perkebunan Bapak Yudi , S.ST. Narasumber terakhir adalah Bapak Sucipto, petani organik dari kelompok tani Cahaya Kakao Desa Bahagia Kecamatan . Pada pemaparannya narasumber menyampaikan bahwa syarat untuk menuju kakao organik antara lain : 1,5 tahun sebelum dibina tidak menggunakan insektisida dan pupuk an organik, luasannya minimal 15 ha. Syarat utama yang harus dilakukan adalah harus ada pagar batas kebun dari tanaman gamal atau puring. Kelanjutan pemaparannya , mereka pada awal kegiatan mengeluh , karena produksi kakaonya turun. Akibat tidak menggunakan pupuk an organik dan insektisida an organik. Namun setelah melaksanakan kegiatan kakao organik pada akhirnya produksinya kembali membaik, dan dengan terbitnya sertifikat organik , maka harga jual kakao organik fermetasi akan menjadi mahal. Inilah awal kembalinya kejayaan kakao. Penulis : Sunardi, S.Pt ( Penyuluh Pertanian Madya pada DISBUNNAK PROV. SULTENG )