Pisang, kekayaan alam yang satu ini apabila kita melihatnya yang terlintas dalam benak kita bahwa buah tanaman ini sangat potensial untuk dibuat kripik yang rasanya manis dan gurih. Di jaman penjajahan Belanda karena kesulitan pasokan beras sebagai pangan pokok, masyarakat menjadikan pisang sebagai pakan alternatif bukan hanya buahnya tetapi juga akarnya pada bagian bonggolnya. Selama ini, masyarakat menanam tanaman pisang di pekarangan rumah dan kebun mereka dengan tujuan mendapatkan buah pisang, jantung pisang sebagai sayuran dan daun pisang untuk pembungkus makanan. Pada umumnya, kita memanen buah pisang dengan menebang batangnya dan meninggalkan bonggolnya begitu saja karena mengangapnya hanya limbah. Namun kini, setelah melalui serangkaian pengolahan, bagian bonggol dari pisang dapat menjadi keripik yang layak konsumsi, memiliki nilai jual, enak serta sehat. Setiap 100 gram bonggol pisang mengandung energi sebesar 43 kilo kalori, protein 0,6 gram, karbohidrat 11,6 gram, lemak 0 gram, kalsium 15 miligram, fosfor 60 miligram dan zat besi 1 miligram. Kandungan Vit. A sebanyak 0 IU, Vit. B1 0,01 miligram dan C 12 miligram. Usaha pembuatan kripik bonggol pisang sekarang telah digeluti oleh Bapak Agus Priatno yang juga seorang pelaku usaha kripik pisang di Kecamatan Kalaena. Bapak Agus Priatno yang ditemui pada acara gelar teknologi berupaya mengadopsi teknologi pembuatan kripik bonggol pisang ini sebagai salah satu usaha pengembangan usaha kripik pisangnya. Pada saat Bapak Agus Priatno membeli buah pisang , dia mendapatkan tambahan keuntungan dari bonggol yang diperoleh dengan cuma-cuma. Bapak Agus Priatno mengatakan saat ini dia tidak berpikir muluk muluk untuk usaha kripiknya. Dia hanya berharap selain sebagai tambahan penghasilannya, kripik bonggol juga dapat digemari masyarakat dan menjadi cemilan yang familiar seperti halnya kripik pisang, kripik singkong dan kripik dari buah-buahan lainnya. Usaha kripik bonggol pisang yang dijalankan oleh Bapak Agus Priatno meskipun masih dalam skala home industri namun memiliki prospek yang cerah. Penyuluh yang ditemui pada acara yang sama menjelaskan bahwa kripik bonggol pisang adalah salah satu output pelatihan Agroindustri kripik buah yang dilakukan oleh BKPPD bekerjasama dengan BP4K kabupaten Luwu Timur Tahun 2014. Besar harapan Bapak Agus Priatno agar penyuluh dan pihak-pihak terkait dapat terus mendampinginya. Usaha Bapak Agus Prianto yang “menyulap†bonggol pisang menjadi produk kripik semestinya mendapat apresiasi karena sejalan dengan program yang telah dicanangkan pemerintah pusat yaitu menghadirkan sumber pangan pokok alternatif. Hal ini pun turut mendukung program pemerintah daerah Kabupaten Luwu Timur menjadi Agroindustri Luwu Timur 2015. Diharapkan dengan adanya kreasi kreasi pengolahan bahan pangan alternatif seperti yang telah dilakukan pada gelar teknologi ini dapat memperbaiki gizi masyarakat dan meningkatkan ketahanan pangan nasional. (Penulis : Serli / Raka)