Loading...

Teknologi Budidaya Kedelai

Teknologi Budidaya Kedelai
TEKNOLOGI BUDIDAYA KEDELA PERMASALAHAN AREAL TANAM MENURUN PRODUKTIVITAS RENDAH - POPULASI TIDAK OPTIMAL - CEKAMAN ABIOTIK - CEKAMAN BIOTIK HARGA MURAH (KURANG EKONOMIS) PENINGKATAN PRODUKSI KEDELAI MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PERLUASAN AREA - Lahan tidur - Pemanfaatan hutan umur muda - Tumpasari dengan ubikayu - Pemanfaatan lahan karet muda - Pemanfaatan lahan sawit muda KONSEP DASAR PRODUKSI OPTIMAL P = G + E +GE P= Phenotipe (Penampilan/Vigor tanaman yang berkaitan dg hasil) G = Genotype (Sifat2 yg dimiliki tanaman tsb) E = Lingkungan (tanah, air, suhu, CH) GE = interaksi Genotype dan Linkungan Produksi kedelai secara optimal akan tercapai apabila menggunakan varietas unggul (G), modifikasi lingkungan sesuai kebutuhan tanaman dengan prinsip pengelolaan tanaman terpadu (E), dan adanya interaksi / hubungan antara varietas (kondisi tanaman) dengan lingkungan sekitar. Konsep ini merupakan dasar pelaksanaan PTT Kedelai, yang dijabarkan dalam Komponen Dasar dan Komponen Pilihan pada PTT Kedelai. Komponen Dasar merupakan komponen yang harus / wajib dilaksanakan dalam pelaksanaan PTT Varietas unggul baru Benih bermutu dan berlabel Populasi tanaman Pembuatan saluran drainase Pengendalian OPT Komponen Pilihan merupakan rekomendasi komponen dianjurkan sesuai dengan spesifik lokasi Pengolahan tanah Pemupukan Pemberian pupuk organik Amelioran pada lahan masam Pengairan Panen dan pascapanen Varietas Unggul Baru Ukuran Biji Kecil < 10 g/100 biji Sedang 10-12 g/100 biji Besar >13 g/100 biji BENIH BERLABEL DAN BERMUTU Tingkat kemurnian dan daya tumbuh tinggi dan berlabel Benih bermutu menghasilkan tanaman sehat, pertumbuhan lebih cepat dan seragam POPULASI TANAMAN Populasi tanaman 350.000-500.000/ha, kebutuhan benih 40-60 kg/ha, bergantung ukuran biji Tanam dengan cara ditugal, jarak tanam 40 cm antar-baris, 10-15 cm dalam barisan, 2-3 biji per lubang Pada musim hujan jarak tanam lebar (populasi sedang), pada musim kemarau jarak tanam lebih rapat (populasi rapat) PEMBUATAN SALURAN DRAINASE Untuk menjaga kelembaban tanah Jarak antar-saluran ditentukan oleh jenis tanah, umumnya 4-5 m dengan lebar dan kedalaman sekitar 30 cm Pada lahan kering, saluran drainase berfungsi sebagai pematus air pada saat hujan PENGENDALIAN OPT PENGENDALIAN HAMA TERPADU Identifikasi jenis dan penghitungan kepadatan populasi hama Menentukan tingkat kerusakan tanaman Taktik dan teknik pengendalian Mengusahakan tanaman selalu sehat Pengendalian hayati Penggunaan varietas tahan Secara fisik dan mekanis Penggunaan feromon Penggunaan pestisida kimia PENGENDALIAN GULMA TERPADU Identifikasi jenis gulma Rumput Teki Daun lebar Menentukan tingkat kepadatan gulma Taktik dan teknik pengendalian Cara mekanis Kultur teknis Kimiawi (herbisida ) Terpadu, mengkombinasikan beberapa pertanaman tidak mengalamikomponen pengendalian Secara optimal, sehingga gangguan (minimal 2x, yaitu umur 10–14 HST dan 21–28 HST). Pada penyiangan ke-2, ikuti dg penggemburan tanah. Jika perlu penyiangan setelah berbunga, lakukan dengan cara mencabut atau memotong gulma. KOMPONEN PILIHAN PENGOLAHAN TANAH Pengolahan tanah tidak diperlukan jika kedelai ditanam di lahan sawah bekas tanaman padi, jerami dapat dipakai sebagai mulsa Mulsa berguna untuk melembabkan tanah, mengurangi serangan lalat kacang, dan menekan pertumbuhan gulma Pengolahan tanah di lahan kering perlu optimal, dengan dua kali bajak dan satu kali garu (diratakan) Sisa gulma atau tanaman dibersihkan bersamaan dengan pengolahan tanah PERSIAPAN TANAM Lahan sawah bekas tanaman padi : tidak perlu pengolahan tanah. Lahan kering : perlu pengolahan tanah sehingga struktur tanah gembur, kemudian diratakan Bersihkan lahan dari gulma maupun kotoran/bekas tanaman. Buat saluran secukupnya sehingga memudahkan pengaturan air. Saluran dibuat setiap 3-5 m, kedalaman 25-30 cm, dan lebar 20-25 cm. PEMUPUKAN Takaran pupuk berbeda untuk setiap jenis tanah, berikan berdasarkan hasil analisis tanah dan sesuai kebutuhan tanaman Pupuk diberikan secara sebar merata sebelum tanam pada saat tanah masih lembab Kedelai yang ditanam setelah padi sawah biasanya tidak banyak memerlukan pupuk Penggunaan pupuk hayati disarankan diuji terlebih dahulu efektivitasnya PEMBERIAN PUPUK ORGANIK Pupuk organik terdiri atas bahan organik sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos (humus), yang telah mengalami proses pelapukan, berbentuk padat atau cair Persyaratan teknis pupuk organik mengacu kepada Permentan No. 02/2006, kecuali diproduksi untuk keperluan sendiri Pemberian pupuk organik dan pupuk kimia dalam bentuk dan jumlah yang tepat sangat penting untuk keberlanjutan intensifikasi PENGGUNAAN AMELIORAN PADA LAHAN MASAM Penggunaan amelioran ditetapkan berdasarkan tingkat kejenuhan aluminium (Al) tanah Kejenuhan Al memiliki hubungan yang kuat dengan kemasaman tanah (pH tanah) Lahan kering masam perlu menggunakan kapur pertanian (dolomit atau kalsit) pH 4,8 – 5,3 à 2,0 t/ha pH 5,3 – 5,5 à 1,0 t/ha pH 5,5 – 6,0 à 0,5 t/ha PENGAIRAN Fase kritis tanaman kedelai terhadap kekeringan mulai pada saat pembentukan bunga hingga pengisian biji (fase reproduktif) Budi daya kedelai pada lahan sawah, pengairan diberikan secukupnya menjelang berbunga dan pengisian polong Jika curah hujan terbatas dan air irigasi tersedia, berikan pengairan pada 3-4 hari sebelum tanam, umur 2–3 minggu, 4–5 minggu, dan 8–9 minggu setelah tanam. PANEN DAN PASCAPANEN Indikator : 90-95% daun rontok, polong berwarna kuning/coklat dan kering. Cara Pemanenan : memotong pangkal batang tanaman. Hindari dengan cara mencabut agar tanah tidak terbawa. Indikator : 90-95% daun rontok, polong berwarna kuning/coklat dan kering. Cara Pemanenan : memotong pangkal batang tanaman. Hindari dengan cara mencabut agar tanah tidak terbawa. PEMBIJIAN POLONG Dengan cara dipukul: dilakukan pada kadar air biji 12-13%. Dengan power thresher : dilakukan pada kadar air biji 14-15%, kecepatan putaran silinder 600-700 rpm.