Loading...

MENINGKATKAN PRODUKSI TANAMAN KARET DENGAN BUDIDAYA TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis) YANG BAIK

  MENINGKATKAN PRODUKSI TANAMAN KARET DENGAN BUDIDAYA TANAMAN KARET  (Hevea brasiliensis) YANG BAIK
Pendahuluan Karet memberikan peranan penting bagi perekonomian nasional, yaitu sebagai sumber devisa, sumber bahan baku industri, sumber pendapatan dan kesejahteraan masyarakat serta sebagai pengembangan pusat-pusat pertumbuhan perekonomian di daerah dan sekaligus berperan dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Tanaman karet juga merupakan tanaman tahunan yang mampu memberikan manfaat dalam pelestarian lingkungan, terutama dalam hal penyerapan CO2 dan penghasil O2. Bahkan ke depan, tanaman karet merupakan sumber kayu potensial yang dapat mensubsidi kebutuhan kayu hutan alam yang dari tahun ke tahun ketersediaannya semakin menurun. Produktivitas karet rakyat umumnya masih rendah yaitu antara 900-1.000 kg/ha/tahun (50%-60% dari potensi produksi). Rendahnya produktivitas karet rakyat disebabkan sebagian besar belum menggunakan klon unggul, dan tanaman yang sudah tidak produktif mencapai 400.000- 500.000 ha yang perlu segera diremajakan. Kegiatan peremajaan dan perluasan karet dimaksud, didukung pembiayaan kredit investasi perbankan dengan 4 subsidi bunga oleh pemerintah dan melibatkan perusahaan perkebunan sebagai mitra khususnya dalam pembangunan kebun. Guna mendukung keberhasilan tanaman karet perlu dilakukan peningkatan hasil melalui penerapan budidaya tanaman karet yang baik sesuai dengan GAP BUDIDAYA TANAMAN KARET PERSYARATAN TUMBUH Budidaya tanaman karet harus dilakukan pada kondisi agroklimat yang tepat agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik. Tanaman karet mempunyai adaptasi yang tinggi pada semua tipe lahan kecuali untuk lahan tergenang. Ketinggian tempat yang ideal untuk pengembangan karet adalah 0 - 200 meter dari permukaan laut (dpl). Bahan Tanaman Sumber Benih Produktivitas tanaman karet ditentukan oleh banyak faktor, salah satu faktor yang sangat penting yaitu mutu bahan tanam (benih). Dalampenyiapan benih karet diperlukan perhatian yang khusus mulai dengan penyediaan batang bawah, kebun entres dan teknik okulasinya. Bahan tanam yang direkomendasikan yaitu benih klonal, yang dikembangkan dengan cara okulasi (budding) antara batang bawah (root stock) dan mata okulasi (scion) dari batang atas yang unggul. Kualitas dan Standar Mutu Benih Kualitas dan standar mutu benih harus diperhatikan mulai dari biji untuk batang bawah, sampai bibit karet yang siap ditanam. Biji untuk batang bawah : 1) Berasal dari pohon induk kebun sumber biji yang sudah ditetapkan; 2) Biji yang baik dan matang fisiologis adalah biji yang segar dengan kesegaran >70%, bernas, mengkilat, tidak berlobang dan tidak cacat; 3) Biji diseleksi dengan perendaman dalam air ( Biji disemai dan dipindahkan ke pembibitan: 1) Biji disemaikan dalam bedengan dengan media pasir atau serbuk gergaji dengan ketebalan 10-15 cm 2) Biji disemaikan pada media secara teratur (Gambar 3) atau secara ditebar 3) Kecambah baik adalah kecambah yang muncul sampai dengan 21 hari setelah pendederan; 4) Kecambah yang dipindahkan sehat,akar tunggang lurus dengan stadia pancing sampai jarum 5) Penanaman kecambah dilakukan dengan tugal Pemeliharaan Bibit batang bawah: 1) Penyulaman dilakukan dengan mengganti tanaman mati dalam waktu paling lambat satu bulan setelah penanaman. 2) Pengendalian gulma dilakukan dengan manual pada saat tanaman muda dan atau secara kimia saat batang sudah berwarna coklat. 3) Pemupukan dilakukan dalam selang waktu satu bulan setelah tanam dengan dosis anjuran. (Tabel 3. Rekomendasi Pemupukan Pembibitan) 4) Pengendalian penyakit dilakukan pada saat daun muda menggunakan fungisida dengan dosis dan interval aplikasi sesuai anjuran. 5) Bibit yang siap diokulasi yaitu bibit yang pertumbuhannya seragam dan sudah mencapai umur tertentu untuk kriteria okulasi hijau (umur batang bawah 4-6 bulan), dan cokelat (umur 8-18 bulan); Mata okulasi (entres): 1) Berasal dari kebun entres yang sudah dimurnikan, terawat baik dan terdiri klon-klon anjuran; 2) Umur dan kriteria panen disesuaikan dengan teknik okulasi yang digunakan. Untuk okulasi hijau umur tunas 3 - 4 bulan, diameter 0,5 -1 cm, dan warna hijau. Untuk okulasi coklat umur tunas 7 - 18 bulan, diameter 2,5 - 4 cm dan warna coklat; 3) Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi dengan menggunakan gunting pangkas atau gergaji entres; 4) Pemotongan dilakukan pada saat payung teratas kondisi dorman, dan ditandai dengan kulit mudah terkelupas. Okulasi 1) Batang bawah yang sudah mencapai kriteria tertentu sesuai dengan teknik okulasi dibersihkan dari kotoran; 2) Dibuat jendela okulasi dengan dua irisan vertikal sejajar sepertiga dari ukuran batang bawah setinggi 5 - 10 cm dari permukaan tanah; 3) Dibuat potongan horizontal di atas atau dibawah dua irisan vertikal. 4) Diambil perisai mata dari entres sedikit lebih kecil dari ukuran jendela okulasi 5) Perisai mata ditempelkan pada jendela okulasi, dan dibalut dengan plastik okulasi 6) Okulasi jadi diperiksa 3 - 4 minggu setelah okulasi dengan membuka plastik okulasi dan ditandai dengan mata tempel berwarna hijau. Satu minggu kemudian bibit siap dipotong dan dibongkar menjadi stum mata tidur. Stum mata tidur 1) Bibit yang baik adalah bibit dengan akar tunggang tunggal yang lurus dengan panjang minimal 30 cm dan akar lateral 5 - 10 cm (Gambar 8). 2) Apabila akar tunggangnya bercabang 2 atau lebih dapat dipotong dan disisakan satu akar yang kuat dan lurus. Akar tunggang yang menjari, bengkok dan berdengkol tidak boleh digunakan. 3) Stum segar ditandai dengan masih mengeluarkan latek, pertautan mata okulasi sempurna dan bebas dari serangan jamur akar putih. Bahan tanam dalam polybag 1) Tinggi tunas payung pertama >20 cm diukur dari pertautan okulasi sampai ke titik tumbuh dengan diameter 8 mm pada ketinggian 10 cm dari pertautan okulasi, dengan sudut tunas kurang lebih 200 2) Payung dalam kondisi dorman, daun tua dan berwarna hijau segar dan sehat. Pengemasan Benih Biji Batang Bawah 1) Biji yang sudah diseleksi dihamparkan di lantai dan tidak boleh terkena sinar matahari langsung, disimpan dalam ruang pendinginan pada suhu 70 – 100 C 2) Untuk pengiriman jarak jauh sebanyak 2-3 ribu biji dikemas dalam kantong plastik berlubang berukuran 70 cm x 45 cm x 0,13 cm dan diberi serbuk gergaji (1:1) yang dilembabkan dengan fungsida; 3) Kemasan diberi label yang jelas dengan informasi jenis klon dan jumlah biji, serta dilengkapi surat keterangan mutu benih dari instansi yang berwenang; 4) Untuk pengiriman melalui jalan darat, kantong plastik dikemas dalam peti; sedangkan untuk pengiriman lewat udara, kantong plastik dimasukkan dalam karung goni berukuran 65 cm x 50 cm. Entres 1) Entres yang baru dipanen, kedua ujungnya dicelupkan dalam lilin cair untuk mengurangi penguapan, dijaga kesegarannya dengan dibungkus pelepah batang pisang atau koran basah dan diberi tanda klon serta disimpan di tempat yang teduh; 2) Untuk pengiriman jarak jauh, entres disusun secara berlapis dengan serbuk gergaji lembab dan dikemas dalam kotak kayu berukuran 60 cm x 40 cm x 40 cm. Stum mata tidur 1) Untuk pengiriman jarak jauh, stum disusun berdiri dan dikemas dalam peti kayu ukuran 60 cm x 50 cm x 50 cm dengan menggunakan serbuk gergaji lembab serta dilakukan penyiraman selama perjalanan untuk menjaga kelembabannya; 2) Untuk pengiriman jarak dekat, pengemasan dapat dilakukan dengan karung goni. Persiapan Lahan Persiapan lahan untuk budidaya tanaman karet, selain bertujuan untuk memberikan kondisi pertumbuhan yang baik juga untuk mengurangi sumber infeksi/inokulan Rigidophorus lignosus yang menyebabkan penyakit jamur akar putih (JAP). Sisasisa akar bekas tanaman sebelumnya terutama karet, terlebih dahulu harus diangkat kepermukaan tanah agar terkena panas matahari, untuk mematikan inokulan JAP dan harus bersih dari areal. Secara Manual Pembukaan lahan hutan sekunder dan semak belukar secara manual Secara Mekanis Pengolahan lahan secara mekanis menggunakan alat – alat berat dan biasanya dilakukan pada areal dalam satu hamparan yang cukup luas. Secara Kimiawi Penyiapan lahan secara kimiawi dilakukan dengan membersihkan areal dengan mengurangi sumber inokulum jamur akar putih. Perbaikan ruang tumbuh akar dapat dilakukan dengan menggemburkan tanah pada saat pembuatan lubang tanam. Sisa-sisa tunggul dapat dikurangi dengan penggunaan arborisida untuk mempercepat proses pelapukannya. Pengajiran dan Pembuatan Lubang Tanam Pengajiran dilakukan sesuai dengan jarak tanam, kerapatan pohon dan kondisi lahan. Berdasarkan kemiringan lahan, penanaman dapat dilakukan dengan pola pagar dan menurut kontur. Pola tanam pagar diterapkan pada lahan datar sampai dengan kemiringan 10%. Sedangkan pola tanam menurut kontur dilakukan pada lahan dengan kemiringan 10 – 25%. Kerapatan pohon yang ideal perhektar antara 500 – 600 pohon atau dengan pilihan jarak tanam 3 m x 6 m, 4 m x 5 m atau 3,3 m x 5,5 m. Apabila akan dilakukan penanaman tanaman sela maka pilihan jarak tanam sebaiknya 3 m x 6 m, dengan jarak tanam 6 m pada arah utara – selatan dan 3 m arah timur – barat. Setelah ajir terpasang, pembuatan lubang tanam siap untuk dilakukan. Lubang tanam dibuat minimal 2 minggu sebelum waktu tanam dengan maksud agar ada kesempatan untuk pemeriksaan jumlah maupun ukurannya dan tanah cukup matang pada saat penanaman dilakukan. Pembuatan lubang tanam dengan ukuran minimal 40 cm x 40 cm x 40 cm secara mekanis atau manual. Sebelum penanaman dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan pemupukan dasar menggunakan pupuk Rock Phosphate (RP) dengan dosis 250 g/lubang. Penanaman Kacangan Penutup Tanah Penanaman kacangan penutup tanah (LCC) biasanya dilakukan oleh perkebunan besar, sedangkan untuk perkebunan rakyat lebih memilih menanam tanaman sela pangan atau hortikultura. Penanaman LCC memberikan berbagai keuntungan yaitu meningkatkan kesuburan tanah, melindungi permukaan tanah dari erosi, memperbaiki sifat–sifat tanah. Jenis tanaman LCC yang umum digunakan (konvensional) adalah campuran dari Centrosema pubescens (CP), Calopogonium mucunoides (CM) dan Pueraria javanica (PJ) dengan perbandingan masing-masing 8:8:4 kg biji per ha serta di tanam dengan pola selangseling. PENANAMAN KARET Penanaman karet sebaiknya dilakukan tepat waktu pada awal musim hujan, dan berakhir sebelum awal musim kemarau. Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu : Persiapan bahan tanam Bahan tanam yang akan digunakan menentukan cara penanaman di lapang. Apabila bahan tanam berupa stum mata tidur, maka mata okulasi sebaiknya sudah membengkak/mentis. Cara Penanaman 1) Stum mata tidur Penanaman dilakukan dengan cara memasukkan bibit ke tengah-tengah lubang tanam kemudian ditimbun dengan tanah bagian bawah (sub-soil) dan selanjutnya dengan tanah bagian atas (top-soil). Arah mata okulasi diseragamkan menghadap gawangan pada tanah rata, sedangkan pada tanah yang berlereng mata okulasi bertolak belakang dengan dinding teras. Pemadatan tanah dilakukan secara bertahap sehingga timbunan padat dan kompak, tidak ada rongga udara dalam lubang tanam. 2) Bibit dalam polybag Bagian bawah polybag disobek, bibit diletakkan di tengah-tengah lubang tanam. Kantong polybag secara bertahap dibuka sambil ditimbun dengan tanah bagian bawah (sub soil) kemudian a nada ditarik ke atas dan selanjutnya ditimbun dengan tanah bagian atas (top-soil). Pemeliharaan Tanam Pemeliharaan karet sebaiknya dilakukan pada waktu dan cara yang tepat, meliputi kegiatan: Penyulaman Pemeriksaan dilakukan selama 3 bulan setelah tanam dengan interval 1 – 2 minggu, untuk memastikan kondisi tanaman. Bibit yang mati segera disulam agar populasi tanaman dapat dipertahankan. Pewiwilan dan induksi cabang Tunas yang tumbuh bukan dari mata okulasi disebut tunas palsu. Tunas ini umumnya banyak tumbuh pada bibit dalam bentuk stum mata tidur. Pewiwilan tunas palsu dilakukan sedini mungkin sebelum tunas berkayu. Pemupukan Salah satu aspek yang penting dalam pemeliharaan, pertumbuhan dan peningkatan produktivitas pada tanaman karet adalah pemupukan. Pupuk yang diberikan umumnya terdiri atas 3 jenis, yaitu Urea, TSP, KCl dan Kieserit. Jumlah yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan keperluan tanaman tergantung pada umur dan kondisi tanaman. Penggunaan pupuk yang berlebihan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan tanah padat, sehingga harus diimbangi dengan pemberian bahan organik. Dalam menentukan dosis pupuk, beberapa hal yang harus di perhatikan, antara lain: tanah, kondisi iklim, umur tanaman, produktivitas tanaman, kadar hara tanah, tanaman penutup tanah, serta keragaan tanaman di lapang. Tabel 1. Rekomendasi pemupukan di pembibitan Waktu pemupukan (bulan setelah ditanam di lapangan) Jenis pupuk Urea (kg/ ha) SP 36 (kg/ ha) KCl (kg/ ha) Kieserit *) (kg/ha) 1 2 3 4 Selanjutnya setiap bulan sampai 1 bulan sebelum okulasi hijau dan 3 bulan sebelum okulasi cokelat 90 225 225 225 450 110 280 280 280 550 45 90 90 90 180 45 90 90 90 180 Keterangan : *) Kieserit dapat diganti Dolomit dengan dosis 1,5 kali. Sumber : Saptabina Usahatani Karet. Balai Penelitian Sembawa, 2012 Tabel 2. Rekomendasi Umum Pemupukan pada TBM 1 Umur (Bulan) g/phn Tanah Subur Tanah Kurang Subur Urea TSP RP KCl Kies Urea TSP RP KCl Kies 0 - - 250* - - - - 250* - - 2 25 - - - - 25 - - - - 4 25 60 - 20 10 25 75 - 25 25 6 40 - - 30 - 40 - - 50 - 9 60 60 - 50 20 60 75 - 75 25 12 75 - - - 75 - - - Jumlah 225 120 250 100 30 225 150 250 150 50 *) pupuk lubang/dasar (Sumber: Balit Karet-Sembawa) Tabel 3. Rekomendasi Umum Pemupukan pada TBM 2 – 5 Umur (Tahun) g/phn/th Urea TSP KCl Kies 2 250 175 200 75 3 250 200 200 100 4 300 200 250 100 5 300 200 250 100 (Sumber: Balit Karet-Sembawa) Tabel 4. Rekomendasi Umum Pemupukan pada TM Umur (Tahun) g/phn/th Urea TSP KCl Kies 6 – 15 350 200 300 75 16 – 20 300 150 250 75 > 20* 200 - 150 - *) Sampai dua tahun sebelum replanting (Sumber: Balit Karet-Sembawa) Untuk efektifitas penggunaan pupuk, aplikasi harus dilakukan dengan cara yang tepat. Pupuk dibenamkan pada beberapa tempat disekitar tanaman (pocket), dalam alur atau parit disekitar pohon atau memanjang sepanjang barisan tanaman. Untuk daerah yang berlereng aplikasi pupuk harus dibenamkan (pocket) agar tidak terbawa erosi. . Pengendalian Penyakit Penyakit karet sering menimbulkan kerugian ekonomis akibat kerusakan tanaman dan meningkatnya biayapengendalian. Oleh karena itu perlu dilakukan langkah-langkah pengendalian secara terpadu dan efisien. Penyakitpenyakit penting pada tanaman karet dan pengendalian dijabarkan sebagai berikut: Jamur Akar Putih, Penyakit gugur daun, Penyakit ini biasanya disebabkan Oidium dan Corynespora, Colletotrichum, Penyakit jamur upas, Penyakit mouldy rot, Penyakit kering alur sadap (KAS). PANEN DAN BAHAN PENGGUMPAL Penyadapan merupakan suatu tindakan pembukaan pembuluh lateks, agar lateks yang terdapat pada tanaman karet keluar. Cara penyadapan yang telah dikenal luas yaitu dengan mengiris sebagian dari kulit batang. Sistem Teknis Penyadapan Penentuan Matang Sadap Kesanggupan tanaman untuk disadap dapat ditentukan berdasarkan ukuran lilit batangnya sudah mencapai 45 cm atau lebih pada ketinggian 100 cm dari pertautan okulasi (dpo). Pengukuran lilit batang untuk menentukan matang sadap mulai dilakukan pada waktu tanaman berumur 4 tahun. Penyadapan dapat dimulai setelah kebun karet memenuhi kriteria matang sadap kebun, agar hasil yang diperoleh menguntungkan. Kebun dikatakan telah matang sadap kebun apabila jumlah tanaman yang matang sadap pohon sudah mencapai 60 % atau lebih. Persiapan Buka Sadap Kebun yang sudah siap disadap dapat segera dilakukan persiapan buka sadap, dengan penggambaran bidang sadap pada tanaman yang matang sadap. Alat-alat untuk penggambaran bidang sadap adalah mal sadap dan pisau mal. Mal sadap berupa sepotong kayu sepanjang 130 cm yang pada ujungnya dilengkapi plat seng selebar 6 cm dengan panjang 50 - 60 cm; plat seng dipakukan pada ujung kayu dengan posisi membentuk sudut 1200 - 1350. Pisau Mal terbuat dari besi berujung runcing dan bertangkai yang digunakan untuk menoreh kulit pada bidang sadap. Pelaksanaan Penyadapan Penyadapan diharapkan dapat dilakukan selama 25 - 30 tahun. Kedalaman irisan sadap yang dianjurkan adalah 1 - 1,5 mm dari kambium dengan ketebalan irisan yang dianjurkan antara 1,5 - 2 mm setiap penyadapan. Frekuensi atau kekerapan penyadapan adalah jumlah penyadapan yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Penentuan frekuensi penyadapan sangat erat kaitannya dengan panjang irisan dan intensitas penyadapan. Dengan panjang irisan 1/2 spiral (S/2), frekuensi penyadapan yang dianjurkan secara konvensional untuk karet rakyat adalah satu kali dalam 3 hari (d3) untuk 2 tahun pertama penyadapan, dan kemudian diubah menjadi satu kali dalam 2 hari (d2) untuk tahun selanjutnya. Menjelang peremajaan tanaman, panjang irisan dan frekuensi penyadapan dapat dilakukan secara bebas. Sistem Panen Kemampuan tanaman dalam menghasilkan lateks berubah dari waktu ke waktu dan tergantung jenis klon berdasarkan tipe metabolismenya. Oleh karena itu aturan penyadapannya juga harus disesuaikan. Cara penyadapan menurut aturan-aturan tertentu yang dilakukan pada suatu periode, tersusun dalam suatu sistem yang dinamakan sistem sadap. Penanganan Lateks Kebun dan Bahan Penggumpal Mutu bahan olah karet (bokar) sangat menentukan daya saing karet alam Indonesia di pasar internasional. Lateks kebun yang bermutu baik merupakan syarat utama untuk menghasilkan bokar yang baik. Penurunan mutu biasanya di¬sebabkan oleh terjadinya prakoagulasi yang akan menjadi masalah dalam proses pengolahan sit asap, lateks pekat, dan SIR 3L. Dalam rangka perbaikan mutu bokar pemerintah telah menetapkan SNI-Bokar No. 06-2047-2002 tanggal 17 Oktober 2002, dengan kriteria nilai KKK, kebersihan, ketebalan dan jenis koagulan. Bokar yang bermutu tinggi harus memenuhi beberapa persyaratan teknis yaitu: (a) tidak ditambahkan bahanbahan bukan karet; (b) dibekukan dengan bahan penggumpal yang dianjurkan dengan dosis yang tepat; (3) segera digiling dalam keadaan segar; (c) disimpan di tempat yang teduh dan terlindung; dan (d) tidak direndam dalam air. Bahan penggumpal yang dianjurkan adalah asam format, asap cair antara lain Deorub murni dan formulanya