Keragaman jenis buah-buahan dan keunggulan habitat tumbuhan tanaman menempatkan Indonesia dalam posisi yang lebih baik bila dibandingkandengan negara lainnya. Keunggulan habitat tumbuhan ini merupakan modal yang penting dalam menghadapi persaingan perdagangan internasional. Dengan penanganan yang tepat dan didukung berbagai sarana yang terusdisempurnakan , buah Indonesia akan mampu bersaing dengan buah dari negara tropis lainnya. Salah satunya buah manggis yang merupakan buah eksotik. Dibalik keelokannya ternyata manggis menyimpan berbagai potensi yang luar biasa dalam menunjang kesehatan atau bisa disebut dengan istilah functional food. Dibeberapa negara sudah sejak lama buah manggis dijadikan sebagai obat dan bahan terapi terutama bagian kulitnya. Produktivitas buah manggis sangat tergantung pada benih yang digunakan. Karena itu, input pertanian terutama benih sangat diperhatikan. Sedangkan terkait budidaya hal yang perlu diperhatikan adalah pengolahan media tanam termasuk persiapan, dan pembukaan lahan, pengaturan jarak tanam, dan pemupukan. Sebagian besar jenis buah-buahan termasuk buah manggis yang dijual di pedagang kakilima hingga di pasar swalayan dipetik dari pohon yang sudah tua. Tanaman tersebut tumbuh secara alamiah tanpa perawatan intensif dari pemiliknya. Jenis usahanya yang sporadis maka standar mutu sangat sulit dipenuhi. Penanganan Pasca Panen Penanganan pasca panen buah manggis merupakan kegiatan untuk mempertahankan mutu produk buah setelah panen, dengan melaksanakan langkah-langkah sesuai dengan Good Handling Practices (GHP) serta menjamin adanya konsistensi dalam pelaksanaan setiap kegiatan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Kriteria panen buah manggis dapat dihitung pada umur buah antara 104 – 110 hari setelah bunga mekar. Pada umur ini kulit manggis berwarna hijau kekuningan menjadi merah kecoklatan atau warna buah berubah menjadi merah keunguan. Buah manggis untuk ekspor dipanen pada umur 104 – 108 hari setelah bunga mekar, dengan kriteria kulit buah berwarna ungu kemerah-merahan atau merah muda dan kulit masih hijau dengan ungu merah mencapai 10 – 25 % warna ungu merahnya mencapai 50 % masih diterima. Warna buah manggis merah keunguan disebabkan karena kandungan pigmen betalain yang mudah rusak (berubah warna) karena tidak stabil dan dapat larut dalam air serta peka terhadap cahaya matahari,oksigen dan air panas. Selain itu perubahan warna dapat juga disebabkan oleh kerusakan mekanis seperti adanya luka, lecet karena tergores atau memar. Kerusakan mekanis pada kulit buah akan mempercepat terjadinya perubahan warna dan penurunan mutu buah. Kerusakan mekanis dapat mempercepat laju kehilangan air serta kualitas buah. Untuk mendapatkan buah manggis yang berkualitas sesuai dengan prmintaan pasar, lakukan pengumpulan buah dengan lokasi pengumpulan yang dekat, teduh dan buah jangan terluka. Pada penumpukan buah manggis dibawahnya dipasang palet sehingga ada udara yang lewat. Penumpukan buah manggis harus dihindari luka pada buah manggis. Peningkatan nilai tambah buah manggis mutlak memerlukan sortasi dan grading. Pemilihan mutu didasarkan pada berat/ukuran buah,kemudian kulit buah dan keutuhan sepal buah sehingga akan diperoleh nilai tambah karena harga buah manggis dapat ditentukan berdasarkan mutu buah. Proses sortasi buah setelah panen dapat memisahkan buah yang mulus dan tidak cacat. Selanjutnya buah dikelompokkan berdasarkan ukuran buah dan bergetah tidaknya. Cara menghilangkan getah yang menempel pada permukaan buah dengan cara dibersihkan dengan kain atau disikat dengan menggunakan sikat yang halus. Ukuran berat dan diameter buah dipilah-pilah sesuai dengan kriteria menurut standar mutu perdagangan, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Sumardi Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura, 2020